Mataram (Suara NTB) – Asosiasi Hotel Mataram (AHM) berharap sebaran menginap tamu-tamu pada ajang MotoGP Mandalika 2026 pada 9-11 Oktober mendatang lebih merata, tidak terfokus pada hotel-hotel di ring I KEK Mandalika.
Pelaku hotel berharap pemerintah dan penyelenggara lebih awal melibatkan hotel-hotel di Mataram melalui skema bundling tiket dan kamar agar distribusi tamu lebih merata.
Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Made Adyasa, mengatakan karakter pemesanan kamar selama MotoGP dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren last minute booking.
Wisatawan umumnya baru mencari hotel di Mataram ketika akomodasi di kawasan Mandalika maupun Senggigi telah penuh atau tarifnya sudah berada di luar anggaran mereka.
“Kalau melihat tahun lalu, tamu baru bergeser ke Mataram ketika hotel-hotel di kawasan selatan sudah penuh atau harganya sudah di luar budget mereka. Jadi biasanya kami baru kebagian setelah daerah terdekat penuh,” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu, 7 Juli 2026.
Ia mengatakan pengalaman MotoGP 2025 menunjukkan tingkat okupansi hotel di Mataram mampu mencapai sekitar 90 persen. Namun, pola pemesanan berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya wisatawan melakukan pemesanan jauh hari, kini mayoritas dilakukan menjelang hari pelaksanaan balapan.
Selain itu, lama menginap wisatawan juga mengalami penurunan. Jika sebelumnya rata-rata tamu menginap hingga empat malam, pada MotoGP tahun lalu rata-rata hanya tiga hari dua malam.
Hotel-hotel di Mataram menurut Made, tetap mematuhi ketentuan mengenai tarif kamar. Jika tarif kamar dinaikan, kenaikan harga yang terjadi masih dalam batas kewajaran dan tidak sampai melonjak berlipat-lipat.
“Untuk hotel di Mataram, tarif kamar tahun 2025 relatif normal. Tidak ada yang menaikkan harga berlebihan. Kami tetap taat terhadap ketentuan yang berlaku. Bahkan untuk MotoGP 2026 ini, harga kamar masih sangat soft. Boleh di cek di aplikasi-aplikasi,” katanya.
Menghadapi MotoGP 2026, AHM bahkan telah menambah kapasitas akomodasi. Dengan hadirnya beberapa hotel baru, jumlah kamar yang tersedia di Kota Mataram kini mencapai sekitar 3.000 unit.
Made Adyasa berharap tambahan kapasitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal melalui kerja sama yang lebih erat antara penyelenggara MotoGP dengan pelaku perhotelan di Mataram.
Salah satu usulan yang kembali disampaikan AHM adalah penerapan sistem bundling antara tiket MotoGP dan kamar hotel. Menurutnya, skema tersebut dapat memberikan kepastian okupansi bagi hotel sekaligus mengendalikan harga kamar sehingga tidak memicu anggapan bahwa biaya akomodasi terlalu mahal.
“AHM masih berharap kerja sama dengan penyelenggara bisa terealisasi, terutama dalam penjualan tiket dan kamar melalui sistem bundling. Cara ini bisa menghindari lonjakan harga kamar yang selama ini sering dijadikan alasan menurunnya minat penonton,” ujarnya.
Ia juga memprediksi penyelenggaraan MotoGP tahun ini akan lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Salah satu faktor pendorong adalah keikutsertaan pembalap Indonesia di kelas Moto2 dan Moto3 yang diyakini akan meningkatkan antusiasme masyarakat untuk datang langsung ke Mandalika.
Menurutnya, pemerintah dan penyelenggara perlu menyediakan data yang jelas mengenai jadwal kegiatan, akses transportasi, hingga berbagai kemudahan bagi wisatawan. Pelaku usaha juga harus dilibatkan sejak tahap perencanaan agar tidak selalu menghadapi persiapan yang serba mendadak.
“Harapan kami ada data yang valid mengenai event, akses, dan kemudahan informasi. Pelibatan pelaku usaha juga sangat penting. Jangan setiap tahun baru sibuk ketika sudah mendekati pelaksanaan,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Mandalika Hotel Association (MHA), H. Samsul Bahri, mengungkapkan sekitar 70 persen kamar hotel di kawasan The Mandalika telah dipesan, terutama oleh tim peserta MotoGP, media, sponsor, dan pihak terkait lainnya. Sementara kamar yang masih tersedia umumnya berada di hotel-hotel yang baru beroperasi. (bul)

