BerandaEKONOMIKisah Inspiratif Produk UMKM Lombok Barat hingga Bisa “Mejeng” di Rak Alfamart

Kisah Inspiratif Produk UMKM Lombok Barat hingga Bisa “Mejeng” di Rak Alfamart

Giri Menang (Suara NTB) – Ketika melangkah masuk ke gerai Alfamart di Jalan Raya Labuapi, Lombok Barat, perhatian pengunjung akan tertuju pada sebuah rak bertuliskan “Produk UMKM Kabupaten Lombok Barat”. Rak itu berada di posisi yang cukup strategis, tepat di jalur lalu-lalang konsumen.

Di bagian paling atas terpajang dua produk dengan merek Hani Mart. Namanya Puntiq, keripik pisang cokelat, dan J’Time, keripik nangka. Kedua produk tersebut berdampingan dengan sejumlah produk UMKM lainnya yang dipasarkan melalui jaringan ritel modern Alfamart.

Sepintas, tidak ada yang membedakan produk tersebut dengan merek-merek nasional. Kemasannya menggunakan aluminium foil, telah mengantongi PIRT dan sertifikat halal, serta menggunakan teknologi nitrogen agar produk tetap renyah dan tidak mudah berubah rasa. Semua standar yang dipersyaratkan retail modern telah dipenuhi.

Namun, di balik kemasan yang rapi itu tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah.

Pemilik Hani Mart, Jeri Romansa, bercerita, ia memulai usahanya sekitar lima tahun lalu melalui Perseroan Perorangan PT Nursa Balong Bariri.

Sejak awal, ia berkomitmen membangun usaha yang melibatkan masyarakat sekitar. Seluruh pekerjanya berasal dari Lombok, begitu pula bahan baku yang digunakan. Semuanya bahan baku hasil kekayaan alam lokal.

“Fokus usaha saya adalah mengolah hasil pertanian menjadi keripik buah, khususnya keripik pisang cokelat dan keripik nangka. Mimpi saya, pada saaatnya, Lombok suatu hari dapat dikenal sebagai sentra produksi keripik buah, sehingga pasar tidak lagi didominasi produk pabrikan dari luar,” harap Jeri Romansa.

Sebelum berhasil menembus retail modern, produk Hani Mart sebenarnya sudah dipasarkan di berbagai supermarket di NTB, bahkan rutin dikirim hingga Dompu di Pulau Sumbawa. Pengiriman ke luar daerah juga pernah dilakukan, meski belum berlangsung secara berkelanjutan.

Perjalanan menuju Alfamart menjadi babak paling menantang. Keinginan agar produknya masuk retail modern sudah muncul sejak lama. Namun harapan itu tidak langsung terwujud. Perlu berkali-kali ikhtiar memasukkan produk rumahannya ini ke jaringan pasar raksasa Alfamart.

“Dengan masuk di gerai minimarket seperti Alfamart, artinya secara kualitas produk itu sudah sesuai dengan standar. Sehingga, jika produk saya berhasil tembus di rak Alfamart, menjadi keunggulan bagi produk saya. Hingga akhirnya saya berusaha terus agar produk saya berhasil masuk ke garai Alfamart,” jelas Jeri menceritakan semangatnya.

Gagal dan alih-alih menyerah, Jeri memilih terus memperbaiki produknya. Legalitas dilengkapi, kualitas produksi ditingkatkan, kemasan diperbaiki, hingga seluruh persyaratan retail modern dipenuhi. Ia juga aktif mengikuti pembinaan dari pemerintah daerah dan dinas terkait.

Kesempatan akhirnya datang. Saat itu Alfamart telah memiliki tim khusus yang menangani produk UMKM di bawah kerja Humas Alfamart Cabang Lombok, Mahman. Komunikasi berjalan lebih terbuka dan proses seleksi berlangsung dengan baik. Karena sejak awal seluruh aspek produksi, kemasan, dan legalitas sudah dipersiapkan secara matang, produk Hani Mart tidak memerlukan banyak revisi sebelum akhirnya dinyatakan lolos. Sejak akhir Desember tahun 2025, keripik buah Hani Mart akhirnya resmi menghuni rak-rak Alfamart.

Hal ini membawa perubahan besar bagi perkembangan usaha. Selama sekitar tujuh bulan menjadi mitra Alfamart, pada awal Juli 2026 ini, tren penjualan terus meningkat. Setiap pekan selalu ada pemesanan dengan jadwal distribusi dua kali seminggu. Berdasarkan data penjualan di setiap gerai, permintaan terhadap produk tersebut relatif stabil dan terus bertumbuh.

Peningkatan permintaan juga berdampak pada kapasitas produksi. Jika sebelumnya Hani Mart hanya mampu memproduksi sekitar 700 hingga 800 bungkus per minggu, kini produksinya meningkat menjadi sekitar 1.000 bungkus. Usaha yang mempekerjakan empat orang itu kini mampu memenuhi permintaan pasar.

Bagi Jeri, manfaat terbesar produknya mejeng di rak Alfamart bukan semata peningkatan penjualan. Kehadiran produknya di rak retail modern telah meningkatkan kepercayaan konsumen.

Masuknya sebuah produk ke jaringan retail modern menjadi penanda bahwa produk tersebut telah memenuhi standar kualitas, keamanan, legalitas, dan kemasan yang baik. Kepercayaan itulah yang menurutnya menjadi modal penting bagi UMKM untuk terus berkembang.

Pengalaman bekerja sama dengan Alfamart juga mengubah pandangannya mengenai retail modern. Jika selama ini banyak UMKM menganggap pembayaran di retail besar berlangsung lama sehingga menghambat perputaran modal, pengalaman Hani Mart justru sebaliknya.

Di balik capaian tersebut, ia tidak melupakan peran pemerintah daerah yang selama ini memberikan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku UMKM. Dukungan itulah yang membuat pelaku usaha kecil semakin percaya diri memenuhi standar industri modern.

Bagi Jeri, naik turunnya usaha merupakan bagian dari perjalanan setiap pengusaha. Yang membedakan hanyalah pilihan untuk berhenti atau terus mencoba.

Karena itu, ia mengajak pelaku UMKM agar tidak takut menghadapi penolakan. Jika produk belum diterima retail modern, bukan berarti usahanya gagal. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kualitas, melengkapi legalitas, menyempurnakan kemasan, lalu kembali mengajukan kerja sama.

Kisah Hani Mart adalah satu dari ratusan lainnya pelaku UMKM yang produknya berhasil dipasarkan di gerai Alfamart.

Diketahui, Alfamart rutin dalam pembinaan pelaku UMKM melalui serangkaian inisiatifnya. Seperti pelatihan manajemen ritel dan kurasi produk UMKM hingga pembinaan yang lebih berkelanjutan. Dengan slogan #UMKMTumbuhBersama, Alfamart ingin tumbuh beriringan dengan pelaku UMKM dan mendorong agar pelaku UMKM dapat bersaing secara nasional dan global untuk memasarkan produknya. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO