Mataram (Suara NTB) – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA NTB, meminta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) memfokuskan distribusi siswa pasca penerimaan murid baru ke sekolah yang belum terpenuhi kuotan. Tujuannya, untuk memastikan pemenuhan kuota siswa di seluruh sekolah merata.
Ketua MKKS SMA NTB, H. Arofiq mengatakan, setelah proses SPMB berlangsung ada dua persoalan yang kerap muncul. Antara lain, terdapat sekolah yang kekurangan murid dan siswa yang belum terakomodasi lantaran tertolak di sekolah tujuan.
Dua permasalahan ini harus segera disikapi. Pertama, Dikpora mengarahkan siswa yang tertolak di sekolah tujuan ke sekolah yang kekurangan berdasarkan domisili siswa bersangkutan.
“Siswa yang belum dapat sekolah cek domisilinya ada di mana. Maka,distribusikan ke sekolah-sekolah terdekat. Supaya sekolah-sekolah yang belum terpenuhi itu bisa terpenuhi,” ujarnya, Kamis (2/7).
Skema kedua, jika semua sekolah telah terpenuhi, sementara masih ada siswa yang belum tertampung, Dinas diharapkan mendistribusikan siswa ke sekolah terdekat. Meskipun sekolah yang dimaksud kursinya telah penuh. Tentu, dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi.
“Caranya sekolah membuat usulan bahwa masih ada anggota masyarakat di sekitar sekolah yang belum tertampung,” terang Arofiq.
Namun kata Arofiq, usulan tersebut sampai saat ini belum terealisasi. Beberapa sekolah yang kuotanya masih lowong belum juga terisi dari skema distribusi. Kepala SMAN 11 Mataram ini, juga mengaku belum mendapat limpahan dari sekolah lain. Padahal, hampir setengah dari kuota yang diusulkan sekolah belum terpenuhi.
Sebagai informasi, SMAN 11 Mataram mengusulkan dua rombel untuk sekitar 76 calon siswa. Namun, hingga seleksi penerimaan murid baru usai kuota yang terisi baru setengahnya. “Sama sekali belum. Jadi, kami belum dapat distribusi sepotong siswa pun dan itu yang kami tunggu,” ungkapnya.
Arofiq menyebut, kondisi kekurangan siswa tidak hanya terjadi di sekolahnya. Sekolah lain seperti, SMAN 7 Mataram, SMAN 8 Mataram, dan SMAN 10 Mataram juga mengalami kondisi serupa. Karena itu, ia berharap Dikpora dapat menangani kendala yang dialami sekolah-sekolah tersebut.
Arofiq meminta sekolah yang kuotanya telah terpenuhi, agar jangan lagi diberikan kesempatan menambah kuota lagi. Jika ada kelebihan itu sebaiknya diarahkan mendaftar ke sekolah yang kursinya masih lowong.
“Kalau (kondisi) ini dibiarkan, maka akan terjadi kesenjangan antar sekolah itu. Yang satu berlebih, yang satu kekurangan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat, agar tidak memaksakan kehendak agar bisa masuk ke sekolah tujuan jika memang sudah tertolak. Sekolah yang berada dalam domisili sebaiknya juga diperhatikan. Selain akses yang lebih mudah, dengan memilih sekolah terdekat, siswa juga dapat menghindari risiko kecelakaan lalu lintas dan risiko lainya.
Sementara itu, sebagai langkah strategis, Dikpora juga berencana mendistribusi siswa yang terpental di sekolah tujuan ke sekolah yang masih kekurangan. Kepala Dikpora NTB, Syamsul Hadi mengimbau kepada siswa bersangkutan agar mendaftar di sekolah yang kuota masih tersedia.
“Anak-anak yang belum diterima di SMA tujuan utama, silakan daftar di SMA yang masih ada formasinya seperti SMAN 7, 8, 9, 10, dan 11,” pungkasnya. (sib)

