BerandaNTBLOMBOK UTARAPeserta Sekolah Rakyat Rendah, Dinsos PPPA KLU Akui Minat Orang Tua Siswa...

Peserta Sekolah Rakyat Rendah, Dinsos PPPA KLU Akui Minat Orang Tua Siswa Kurang

Tanjung (Suara NTB) – Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Dinas Sosial PPPA Kabupaten Lombok Utara (KLU) menghadapi kendala proses rekrutmen peserta didik yang akan bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). Rekrutmen diakui belum optimal karena terhambat oleh minat orang tua siswa.

Kepala Dinas Sosial Lombok Utara PPPA, Fathurahman, S.Sos., kepada wartawan mengungkapkan, progres pembangunan SR di KLU telah mencapai angka 70 persen. Dengan target operasional pada bulan Agustus 2026 mendatang, proses eksekusi fisik dinilai tidak menjadi kendala.

Sebaliknya, kata Fathurrahman, tantangan operasional Sekolah Rakyat datang dari animo masyarakat, khususnya orang tua sasaran yang masuk pada kelompok desil I – desil II (keluarga miskin ekstrem – keluarga miskin).

“Kendala yang kami hadapi terletak pada penerimaan siswa, khususnya SD. Banyak orang tua yang belum rela melepas anaknya karena sistem Sekolah Rakyat ini adalah boarding school atau berasrama,” ujarnya, Jumat (3/7).

Fathurrahman menyebutkan, Lombok Utara memperoleh kuota 270 anak pada tahun pertama. Rinciannya, masing-masing 90 rombongan belajar (rombel) untuk SD, SMP dan SMA. Dari masing-masing rombel, kuota untuk jenjang SMP dan SMA sudah terisi penuh. Sedangkan rombel SD, belum terpenuhi.

Orang Tua Siswa Bimbang Masukkan Anak ke Sekolah Rakyat

Ia menjelaskan, sistem boarding school banyak dikedepankan oleh orang tua siswa terutama siswa SD. Alasannya, seorang anak yang masuk Sekolah Rakyat dari jenjang SD, dimungkinkan untuk menempuh pendidikan secara berkelanjutan di sekolah tersebut hingga 12 tahun lamanya. Kondisi ini membuat sebagian orang tua ragu dan bimbang untuk mendaftarkan anaknya.

Dinsos yang mendapati alasan tersebut, menegaskan pihaknya masih terus berupaya meyakinkan para orang tua sasaran. Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan Pekerja Sosial Masyarakat, diterjunkan ke lapangan untuk melakukan edukasi kepada orang tua.

“Petugas PKH dan PSM terus melakukan penjangkauan, memberikan penyuluhan dan menjelaskan fasilitas serta keunggulan Sekolah Rakyat. Tetapi memang untuk jenjang SD masih membutuhkan waktu agar orang tua lebih yakin,” imbuhnya.

Fathurahman optimistis pandangan masyarakat terhadap Sekolah Rakyat akan berubah seiring berjalannya waktu. Contoh di banyak daerah yang menerapkan Sekolah Rakyat rintisan membuktikan, animo masyarakat mulai tinggi seiring perubahan pada anak-anak mereka.

Menurut dia, Sekolah Rakyat merupakan solusi jangka panjang bagi peningkatan kualitas hidup, pendidikan dan ekonomi bagi kalangan rumah tangga sasaran. Sekolah Rakyat tidak hanya memenuhi kebutuhan siswa, tetapi juga didukung metode pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter anak. (ari)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO