Sumbawa Besar (Suara NTB)– Otoritas Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin mengungkapkan pergerakan penumpang terus mengalaminya tren positif setiap tahunnya. Di tahun 2025 menjadi tahun pertumbuhan paling agresif mencapai 20,80 persen.
“Tren pergerakan pesawat juga menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup stabil di angka 12 persen-13 persen per tahun. Meski untuk pertumbuhan kargo merosot -25, 67 persen tahun 2025 dan akan kembali pulih pada tahun 2026 10-18 persen,” kata Kepala Bandara Sumbawa Tri Pono Basuki Wijianto, Senin (6/7).
Tri melanjutkan, pihaknya juga memproyeksikan pertumbuhan penumpang dari 47, 8 persen menjadi 55,1 persen. Artinya, di tahun 2030 setiap pesawat nantinya akan terisi sekitar 7-8 orang lebih banyak dibandingkan tahun 2022 lalu.
“Rute menuju SWQ (Bandara Sumbawa) menjadi semakin sehat secara financial, karena tingkat keterisian kursi yang membaik. Pertumbuhan penumpang lebih cepat dibandingkan penambahan jadwal penerbangan,” ucapnya.
Menurutnya, jika rasio terus naik mendekati 65-70, maka bandara sudah saatnya bersiap untuk melayani pesawat yang lebih besar, baik itu pesawat jenis Boeing 737 atau Airbus A320 pada jam-jam sibuk. Berdasarkan laju pertumbuhan penumpang, pergerakan pesawat dan kargo di masa depan, maka layak untuk dikembangkan.
“Potensi untuk pengembangan bandara sangat layak dilakukan tentu dengan catatan semua aspek yang menjadi obstacle harus segera dituntaskan, agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” ujarnya.
Kondisi itu tentu berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, salah satunya dari jasa transportasi. Hal ini terjadi karena para penumpang pesawat yang tiba di Sumbawa pasti membutuhkan akomodasi ke beberapa destinasi wisata yang akan dikunjungi.
“Banyak keuntungan yang kita dapatkan, sehingga perputaran ekonomi di masyarakat akan lebih menggeliat,” timpalnya.
Ia menambahkan, layak atau tidaknya diperpanjang landasan pacu tersebut, sangat bisa dilakukan, tetapi anggaran yang dibutuhkan untuk merealisasikan hal tersebut juga sangat besar, karena pasti akan ada pemukiman masyarakat yang terdampak termasuk perubahan tata kelola perkotaan.
“Anggarannya cukup besar untuk merealisasikan perpanjangan landasan pacu itu, karena ada beberapa rintangan mulai dari bukit di sekitar lokasi dan pemukiman masyarakat juga harus difikirkan,” demikian kata dia. (ils)

