DESA Gegerung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) merupakan daerah penyangga Bendungan Meninting. Daerah ini berbatasan langsung dengan Desa Bukit Tinggi, tempat Bendungan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto Jumat (10/7/2026). Namun, kondisi sejumlah dusun di Desa Gegerung tak seperti yang diharapkan warga setempat.
Pasalnya kendati dekat dengan Bendungan Meninting, warga mengeluhkan ada 13 hektare lahan mati suri akibat tidak disuplai air dari irigasi bendungan yang dibangun senilai Rp1,4 triliun itu. Seperti apa kondisi daerah ini, berikut liputan Suara NTB yang turun langsung ke lokasi.
Desa dengan jumlah tujuh dusun itu, pada bagian selatan, persisnya Dusun Orong Puncak dan Orong Utara berbatasan langsung dengan Bendungan Meninting. Daerah ini memiliki topografi banyak perbukitan dengan jumlah penduduk 5 ribu jiwa lebih. Penduduk di beberapa dusun perbatasan dengan bendungan itu, banyak yang tinggal di daerah perbukitan.
Rumah-rumah penduduk terpencar antara satu dengan yang lain. Warga di daerah ini memiliki mata pencaharian utama dari sektor pertanian, perkebunan dengan penghasilan utama padi, pisang dan aren.
Dulu sekitar di bawah tahun 2018, sebelum Bendungan meninting dibangun, petani di daerah itu cukup berhasil dari hasil pertanian, perkebunan, dan lainnya. Petani bisa menanam tiga kali tanam yang bersumber dari irigasi berlimpah.
Dari hasil panen itu pun mereka bisa mendapat rata-rata per hektar 5-6 ton. Dari hasil perkebunan juga cukup melimpah, seperti kopi dan kelapa, sehingga dari hasil panen itu, warga bisa membiayai kebutuhan sehari-hari.
Namun kini, kondisi itu berubah total. Warga tidak lagi menjadikan sektor pertanian dan perkebunan sebagai tulang punggung perekonomian mereka. Pasalnya air irigasi yang sebelumnya menjadi sumber air pertanian, kini telah mati. Akibatnya, sekitar 13 hektare lahan pertanian di dua dusun itu pun mati, tidak bisa digarap oleh warga.
Kepala Desa Gegerung, Harun mengakui kondisi ini. “Keluhan soal irigasi lahan pertanian seluas 13 hektare ini ingin disampaikan warga pada Presiden saat kunjungan peresmian bendungan Meninting,” kata Harun, Senin (13/7/2026).
Lahan itu tidak bisa digarap petani semenjak dibebaskan lahan itu pada tahun 2018 atau sekitar tujuh tahun lalu. Areal irigasi yang sebelumnya menjadi sumber irigasi dibebaskan menjadi lokasi Bendungan Meninting, sehingga jaringan irigasinya tidak berfungsi lagi. “Sejak mulai pembebasan lahan dan pembangunan sekitar 2019 akhir,” sebutnya.
Akibatnya, warga yang biasa bercocok tanam tiga kali setahun, akhirnya tidak bisa menanam selama hampir 6-7 tahun lamanya. Daripada lahan itu menganggur, akhirnya warga pun terpaksa menanam palawija dan singkong, walaupun hasilnya tidak maksimal karena air tidak ada.
Dulunya sebelum lahan itu dibebaskan, lahan warga produktif karena daerah itu memiliki sumber air irigasi. Pihaknya berharap agar irigasi itu dibangunkan, supaya lahan pertanian bisa produktif kembali, sehingga warga bisa menghasilkan padi untuk ketahanan pangan desa setempat.
Humas BBWS NT 1 Mataram, Yemi Yordani mengatakan bahwa jaringan irigasi di sekitar kawasan bendungan itu akan mulai dibangun tahun 2027. Sehingga lahan pertanian yang ada di daerah itu akan mendapatkan air irigasi dari Bendungan Meninting.
“Untuk sementara bersabar saja dulu, rencananya irigasi akan dibangun tahun depan, sehingga lahan pertanian di Lobar alam terkena (dialiri irigasi dari bendungan Meninting),” kata Yemi kepada Suara NTB.
Pihaknya pun akan turun survei ke masing-masing lahan pertanian warga, termasuk ke daerah yang tidak mendapatkan pasokan air irigasi Bendungan. (her)

