Giri Menang (Suara NTB) – Gala Dinner Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Hotel Aruna Mataram, Rabu malam, 15 Juli 2026, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarpemerintah provinsi. Momentum ini dimanfaatkan Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) Mataram untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan calon mitra usaha dari berbagai daerah.
Kegiatan business matching itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar produk UMKM NTB. Sejumlah produk unggulan ditampilkan, mulai dari olahan rumput laut, kain tenun, produk kelor hingga kue kering.

Istri Wamendagri bersama istri para gubernur saat Gala Dinner APPSI di Hotel Aruna Mataram, Rabu (15/7). (Suara NTB/ist)
Gala dinner dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya, Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, sejumlah gubernur dan wakil gubernur dari berbagai provinsi di Indonesia, serta pejabat pemerintah lainnya.
Wamendagri Bima Arya menyampaikan apresiasi kepada Pemprov NTB yang menjadi tuan rumah pertemuan APPSI. Sementara Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyambut baik kehadiran para kepala daerah dan jajaran pemerintah dari berbagai daerah di Indonesia di NTB.
Kepala Disperindag NTB, Lalu. Wiranata melalui Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Lalu Afghan, mengatakan business matching ini digelar untuk memperpendek rantai perdagangan dengan mempertemukan langsung pelaku usaha dengan calon pembeli maupun mitra usaha.

Salah satu UMKM kriya mengenalkan produknya saat Gala Dinner APPSI di Hotel Aruna Mataram, Rabu (15/7). (Suara NTB/ist)
“Intinya adalah bagaimana memperpendek mata rantai perdagangan. Penjual dan pembeli kami pertemukan langsung,” kata Afghan.
Menurutnya, selama ini promosi UMKM lebih banyak dilakukan melalui pameran. Namun, pemerintah perlu mendorong pendekatan yang lebih konkret dengan mempertemukan langsung pelaku usaha dengan pasar. Salah satunya pasar pemerintah daerah di APPSI.
Karena itu, lima UMKM NTB yang dinilai memiliki potensi dihadirkan dalam kegiatan gala dinner. Produk yang diperkenalkan oleh para UMKM merupakan hasil hilirisasi, yakni telah melalui proses pengolahan dari bahan mentah menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah.
“Karena target besar pemerintah provinsi adalah menampilkan produk-produk NTB yang sudah mendapatkan hilirisasi, seperti rumput laut, kelor dan produk lainnya,” ujarnya.
Afghan mengatakan, business matching diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya kerja sama perdagangan antardaerah. Misalnya, bahan baku dari NTB dapat diolah di provinsi lain, sementara pasarnya berada di daerah berbeda.
“Bisa saja kita memiliki komoditas rumput laut, pengolahannya ada di Jawa Timur, kemudian pembelinya ada di Jawa Barat. Ini bisa menjadi bentuk kerja sama antardaerah dan kolaborasi untuk membangun ekosistem industri hingga perdagangan,” jelasnya.
Menurutnya, NTB memiliki banyak komoditas unggulan yang masih membutuhkan sentuhan teknologi, industri dan jaringan pasar. Karena itu, penguatan kerja sama dengan provinsi lain menjadi penting untuk meningkatkan perdagangan antarwilayah.
“Target kami ke depan adalah membangun jejaring dengan provinsi lain. Perdagangan antarpulau dan antarprovinsi harus ditingkatkan karena itu akan memperkuat neraca perdagangan NTB dan menggerakkan sektor perekonomian,” katanya.
BSI Siap Kawal UMKM dari Hulu hingga Hilir
Kepala Cabang BSI Mataram, Anang Muzaqi, mengatakan keterlibatan BSI dalam kegiatan bussiness matching ini merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung pengembangan UMKM NTB dari sisi transaksi hingga pembiayaan.
Ia menilai, berbagai sumber daya alam NTB memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan berdaya saing global.
“Potensi-potensi yang ada di NTB bisa menjadi barang istimewa. Tidak hanya untuk skala nasional, tetapi juga internasional. Bahan-bahan yang dihilirisasi dapat menjadi produk yang diekspor,” ujarnya.
Salah satu contoh, kata Anang, adalah produk berbahan dasar rumput laut yang memiliki potensi bersaing dengan produk serupa dari negara lain. Menurutnya, BSI memberikan dukungan kepada UMKM melalui dua aspek utama, yakni layanan transaksional dan akses pembiayaan.
Untuk pembiayaan, BSI menyediakan berbagai skema yang dapat disesuaikan dengan skala usaha. Mulai dari pembiayaan untuk pelaku usaha mikro melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembiayaan untuk segmen usaha menengah, hingga pembiayaan bagi pelaku usaha besar dan eksportir. “Mulai dari yang kecil, menengah sampai skala besar, BSI siap,” katanya.
Anang menegaskan, BSI akan terus berkolaborasi dengan Pemprov NTB dalam mendorong hilirisasi dan pengembangan UMKM. “Kami berkewajiban mengawal dan harus ikut di dalamnya,” ujarnya.
Sementara itu, Afghan menilai kolaborasi dengan BSI memiliki kesamaan visi dengan program Pemprov NTB, terutama dalam mendorong UMKM agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Menurutnya, BSI memiliki perhatian kuat terhadap pengembangan UMKM dan mendorong produk-produk daerah untuk masuk ke pasar ekspor. “Semangatnya sama, bagaimana UMKM kita tidak hanya terkenal di NTB, tetapi juga di provinsi lain maupun di dunia,” katanya.
Ia berharap business matching dalam rangkaian APPSI ini tidak berhenti pada kegiatan promosi semata. Pemerintah akan mendorong adanya tindak lanjut berupa kerja sama perdagangan, kemitraan usaha maupun kolaborasi pengolahan produk antarprovinsi.
Dengan demikian, produk NTB tidak lagi hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk jadi dengan nilai tambah yang lebih besar. (bul/*)

