Kota Bima (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kota Bima mengintensifkan pengawasan lingkungan di rumah penderita campak sebagai langkah mencegah penyebaran penyakit. Upaya ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pencegahan penularan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad mengatakan pengawasan lingkungan menjadi bagian penting dalam pengendalian campak. Selain memastikan pasien memperoleh penanganan yang tepat, kondisi rumah dan lingkungan sekitar juga perlu dipastikan memenuhi standar kesehatan.
“Pengawasan ini kami lakukan untuk memastikan lingkungan rumah penderita tetap sehat, sehingga tidak menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan campak. Pengendalian penyakit tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga lingkungan tempat tinggalnya,” ujar Ahmad, Rabu (29/7).
Katanya, pengawasan dilakukan oleh petugas Program Penyehatan Lingkungan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL). Dalam kegiatan tersebut, petugas memantau kondisi pasien, melakukan wawancara dengan keluarga, sekaligus menilai sanitasi rumah, ventilasi, pencahayaan, sirkulasi udara, dan kebersihan lingkungan.
Menurut Ahmad, campak merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Karena itu, keluarga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta membatasi kontak dengan penderita apabila tidak diperlukan.
“Petugas juga memberikan edukasi kepada keluarga agar menjaga kebersihan rumah, rutin mencuci tangan, memastikan sirkulasi udara berjalan baik, serta menghindari kontak dekat dengan penderita jika tidak diperlukan,” katanya.
Selain pengawasan lingkungan, Dikes terus mengingatkan masyarakat untuk melengkapi imunisasi campak atau Measles Rubella (MR), terutama bagi anak-anak. Imunisasi dinilai sebagai langkah paling efektif untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat memastikan anak-anak telah mendapatkan imunisasi MR sesuai jadwal. Cakupan imunisasi yang baik menjadi kunci mencegah munculnya kasus baru,” tegas Ahmad.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, suspek campak di Kota Bima mulai ditemukan pada November 2025 sebanyak 19 kasus. Jumlah tersebut meningkat menjadi 30 kasus pada Desember 2025, kemudian melonjak menjadi 161 kasus pada Januari 2026. Hingga pertengahan Februari 2026, jumlah suspek campak tercatat mencapai 333 kasus.
Meski lonjakan kasus terjadi pada awal tahun, Ahmad menegaskan Dinas Kesehatan tidak mengendurkan kewaspadaan. Pengawasan lingkungan di rumah penderita akan terus dilakukan bersamaan dengan edukasi kepada masyarakat dan penguatan program imunisasi.
“Kami ingin memastikan upaya pencegahan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penanganan pasien, pengawasan lingkungan, hingga peningkatan kesadaran masyarakat. Dengan cara itu, risiko penularan campak dapat ditekan,” pungkasnya. (hir)

