BerandaNTBLOMBOK TIMURFestival Roah Pesisi, Wujud Syukur Nelayan ala Warga Desa Sugian

Festival Roah Pesisi, Wujud Syukur Nelayan ala Warga Desa Sugian

Di perairan antara Gili Sulat dan Gili Lawang, puluhan sampan nelayan berarak mengelilingi laut pada Minggu (2/8/2026). Mereka tak sekadar melaut, mereka memutar sampan tiga kali mengitari titik yang telah ditentukan mengiringi prosesi pelepasan kepala sapi ke tengah perairan. Inilah puncak Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia, ritual selamatan laut yang telah berlangsung lebih dari satu dekade sebagai wujud syukur masyarakat nelayan Kecamatan Sambelia, Lombok Timur.

KETUA Panitia Festival Roah Pesisi, Lalu Mustiadi, menjelaskan bahwa ritual ini telah dilaksanakan sekitar sepuluh kali dan menjadi kesepakatan masyarakat Kecamatan Sambelia, khususnya para nelayan. “Kegiatan ini digelar setiap dua tahun sekali sebagai bentuk rasa syukur para nelayan atas rezeki yang diberikan Allah SWT,” ujarnya.


Pelaksanaan ritual rutin digelar pada awal Agustus, dengan puncak acara berupa pawai 100 dulang yang diiringi kesenian Gendang Beleq, dilanjutkan prosesi pelepasan kepala sapi ke tengah laut oleh Sandro—semacam kepala adat yang berwenang menentukan titik pelepasan.


“Bukan panitia yang menentukan di mana akan di lepas sajian di tengah laut kgu, tapi Sandro yang menentukan di mana titiknya,” tegas Lalu Mustiadi. Lokasi pelepasan pun bisa berbeda setiap tahunnya, dengan wilayah antara Gili Sulat dan Gili Lawang sebagai area yang disepakati.


Uniknya, ritual ini tidak sekadar seremonial. Lalu Mustiadi menyoroti adanya nilai konservasi yang diwariskan leluhur dan tetap dilestarikan hingga kini.


“Setelah acara ini, tiga hari ke depan tidak boleh ada aktivitas di laut. Mulai hari Minggu, berarti Rabu baru bisa turun ke laut. Mancing pun tidak boleh selama tiga hari itu. Di situlah nilai konservasinya—tiga hari itu bisa dimanfaatkan oleh nilai-nilai yang ada di laut. Orang-orang tua kita dulu mengajarkan itu dan kita laksanakan sampai hari ini,” jelasnya.


Tahun ini terdapat keistimewaan tersendiri. Biasanya masyarakat melarung kepala kerbau dalam ritual ini. Namun tahun 2026 berbeda—yang dilarung adalah kepala sapi.


“Karena salah satu tokoh kami didatangi melalui mimpi, mintanya kepala sapi, bukan kepala kerbau. Awalnya semua pakai kerbau, tapi tahun ini khusus pakai kepala sapi karena itu yang diminta,” ungkap Lalu Mustiadi.


Meski semangat tetap berkobar, kondisi ekonomi turut memengaruhi semarak festival. Lalu Mustiadi mengenang masa lalu ketika ratusan sampan yang dihias umbul-umbul mengelilingi laut. “Sekarang sekitar kurang lebih lima puluhan sampan. Dulu bahkan sampai ratusan, 105 lebih yang mengiringi. Tapi kondisi ekonomi sekarang, masyarakat berhemat,” imbuhnya.


Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Mirayang melihat potensi besar festival ini sebagai daya tarik wisata budaya. “Harapan kita ke depan, dengan adanya event seperti ini, kita bisa mengundang bukan saja warga lokal, tetapi mancanegara,” ujarnya.


Prosesi unik pelepasan kepala sapi ke laut dinilai bisa dikemas menjadi paket wisata. “Kejadian seperti tadi adalah bagian dari rasa syukur atas kesehatan, rezeki, dan keselamatan bagi para nelayan,” tambahnya.


Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia tahun ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pemerintah desa, yang menggabungkan kembali ritual adat Roah Pesisi yang telah lama tidak dilaksanakan. Harapannya, festival ini bisa menjadi agenda dua tahunan yang berkelanjutan, digelar secara mandiri oleh masyarakat dan pemerintah desa.


Di tengah debur ombak dan denting Gendang Beleq, Festival Roah Pesisi mengajarkan satu hal: bahwa syukur tak cukup diucapkan—ia diwujudkan dalam ritual, dijaga dalam konservasi, dan diwariskan dari generasi ke generasi. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO