Mataram (Suara NTB) – Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Mataram memberi catatan serius pada pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025. Catatan itu menyangkut format soal yang dinilai terlalu panjang, sehingga siswa kesulitan memahami.
Kepala SLB Negeri 1 Mataram, Kamtono mengatakan, siswa SLB khususnya tunarungu terbiasa dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Namun, format bahasa yang sederhana tidak ada pada pelaksanaan TKA.
Menurut Kamtono, format soal yang digunakan pada TKA cenderung terlalu panjang. Hal itu mengakibatkan siswa kesulitan memahami inti pertanyaan. Imbasnya, pengerjaan soal memakan waktu yang lama.
“Harusnya soal-soal itu yang bahasanya mudah dimengerti tuna rungu, jadi jangan terlalu panjang gitu,” ujarnya, Minggu (2/8).
Ia menambahkan, soal yang cenderung panjang sebetulnya bukan tak bisa dipahami seluruhnya, melainkan siswa tetap dapat menalar dengan baik soal-soal panjang tersebut. Persoalan efisiensi waktu menjadi pertimbangan utama.
“Itu kan berdampak kepada tuna rungu memahami bahasa-bahasa yang ini dia agak sulit,” terangnya.
Ia berharap pelaksanaan TKA tahun ini dapat berjalan kondusif dan lancar. Kamtono menekankan agar persiapan dapat dipercepat. Dengan demikian, persoalan sebelumnya tidak terulang.
“Kalau persiapannya mungkin nanti sosialisasinya itu lebih sering, kemudian itulah catatan soal-soal itu memang harus yang bahasanya simpel-simpel,” pungkasnya.
Menanggapi keluhan sekolah tersebut, Kabid Sekolah Menengah Kejuruan dan Pendidikan Khusus (SMK-PK) Dikpora NTB, Hasbi menyampaikan, pihaknya telah mengatensi masalah yang dihadapi siswa dan sekolah.
Persoalan soal panjang ini tidak saja dikeluhkan sekolah di NTB, tetapi juga di seluruh Indonesia. “Ini keluhan seluruh Indonesia dan sudah kita sampaikan ke Kemendikdasmen tentang hal ini. Semoga ada penyesuain soal,” terangnya.
Hasbi mengatakan akan memastikan kesiapan guru dan siswa jelang pelaksanaan TKA, termasuk kesiapan sarana-prasaran menjadi perhatian utama sebelum siswa menghadapi tes. “Kita juga akan melakukan sosialisasi tentang kegiatan TKA,” pungkasnya. (sib)

