BerandaEKONOMIMBG Dimulai, Harga Bapok Kembali Melonjak

MBG Dimulai, Harga Bapok Kembali Melonjak

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah bahan pokok mulai mengalami kenaikan harga di pasar tradisional. Di antaranya cabai merah keriting, cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, daging ayam, ikan, udang, hingga kacang tanah. Salah satu penyebab melambungnya harga beberapa komoditas karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai.


Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Lalu Wiranata di Bale KITA, Kompleks Islamic Center, Kamis (6/8). Penyebab kenaikan harga sejumlah bahan pokok ini disebut karena tingginya permintaan, salah satunya karena MBG.


“Ya karena permintaan yang meningkat ini. Termasuk permintaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk hotel dan restoran karena tingkat hunian meningkat karena high session hingga Oktober nanti,” ujarnya.


Ia melanjutkan, pihaknya sebenarnya telah memisahkan antara kebutuhan untuk program MBG dan kebutuhan masyarakat. Namun, di musim high session ini kebutuhan hotel dan restoran juga meningkat, sehingga antara stok dan kebutuhan masyarakat tidak seimbang yang menyebabkan terjadinya gejolak harga.


“Dicek nanti peningkatan kunjungan wisatawan kita, okupansi hotel kita, itu yang banyak mendongkrak juga selain MBG itu,” lanjutnya.


Meski telah membedakan jalur distribusi MBG dan kebutuhan masyarakat, Pemprov tetap melakukan evaluasi terhadap pola distribusi bahan pokok yang berkaitan dengan kebutuhan SPPG. Pengawasan itu dilakukan oleh kepolisian dan satgas, sementara Pemda bertugas sebagai pemantau.


Pemetaan jalur distribusi juga dilakukan agar pengambilan bahan pokok oleh SPPG tidak mengganggu pasokan di pasar tradisional. Wiranata mengakui, sistem pembelian tunai yang diterapkan SPPG berpotensi membuat mereka lebih mudah memperoleh barang dibanding masyarakat.


“Pernah ditemukan ada pembelian untuk kebutuhan beberapa hari sekaligus. Saat ini masih kami evaluasi. Kami akan melihat hasilnya sekitar September nanti,” ungkapnya.


Untuk mengantisipasi gejolak harga yang kian meninggi, Wiranata meminta kepada petani dan produsen untuk menambah produknya. Selain itu, Pemprov NTB juga gencar melakukan Operasi Pangan Murah (OPM) guna mencegah terjadinya inflasi.


“Pertama itu kita minta para produsen ini menambah produknya, menambah produknya baik dengan usaha sendiri, misalnya kalau sayuran ditambah, atau dengan mendatangkan dari luar,” katanya.


Daerah sasaran GPM, lanjutnya di 10 kabupaten/kota. Namun Kabupaten Bima menjadi fokus utama saat ini karena di sana terdapat pasar induk.


Di samping itu, untuk meningkatkan produksi ia lebih mengutamakan produsen lokal, namun tidak menutup kemungkinan untuk mendatangkan dari luar daerah. Peningkatan produksi pangan, katanya tidak hanya menjaga ketersediaan barang di pasar, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha karena nilai penjualan dan pendapatan mereka akan meningkat.


“Kami sudah menyampaikan kepada beberapa produsen, termasuk komoditas beras, agar mengantisipasi kebutuhan selama high season hingga Oktober. Jangan sampai stok stagnan tanpa ada penambahan karena harga pasti akan naik,” jelasnya.


Selain menjaga pasokan, ia juga tengah menyiapkan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panik (panic buying), terutama terhadap komoditas yang belum dapat dipenuhi dari produksi daerah, seperti elpiji subsidi. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO