BerandaBUDAYA DAN HIBURANKetika Kekerasan Dibungkus Patriotisme

Ketika Kekerasan Dibungkus Patriotisme

DALAM dunia intelijen, kekerasan sering kali hadir dengan nama yang berbeda. Ia tidak selalu disebut sebagai kejahatan, tetapi dapat berubah menjadi tugas, pengorbanan, bahkan bentuk patriotisme ketika dilakukan atas nama negara. Gagasan itulah yang menjadi kekuatan sekaligus persoalan utama dalam duologi Dhurandhar (2025) dan Dhurandhar: The Revenge (2026), karya sutradara Aditya Dhar yang menghadirkan kisah mata-mata dengan aksi brutal, skala besar, dan muatan politik yang kuat.

Dibintangi Ranveer Singh, film ini mengikuti perjalanan Hamza Ali Mazari, seorang pria India yang masuk ke dunia intelijen bukan karena cita-cita, melainkan karena tragedi yang mengubah hidupnya. Ia bukan sosok yang sejak awal ingin menjadi agen rahasia, tetapi seseorang yang dibentuk oleh kehilangan dan kemarahan.

Film kedua mengungkap masa lalu Hamza yang sebelumnya menjadi misteri. Ia berasal dari keluarga berlatar belakang militer. Ayahnya, seorang tentara India, terbunuh dalam serangan kelompok bersenjata, sementara adiknya menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia.

Kehilangan itu membuat Hamza memburu kelompok yang bertanggung jawab dan menyerang mereka seorang diri. Tindakannya membuatnya dijatuhi hukuman berat. Namun, sebelum hukuman dilaksanakan, ia diculik oleh Ajay Sanyal (R. Madhavan), Direktur Biro Intelijen India, yang melihat masa lalu Hamza sebagai modal untuk menjalankan operasi rahasia bernama “Dhurandhar”.

Dari sinilah perjalanan Hamza sebagai mata-mata dimulai. Ia membangun identitas baru sebagai Hamza Ali Mazari dan menyusup ke jaringan kriminal Karachi untuk mendapatkan informasi serta membongkar kelompok yang dianggap mengancam keamanan negaranya.

Ranveer Singh tampil kuat sebagai karakter yang penuh energi dan berbahaya. Hamza bukan pahlawan dengan moral sederhana. Ia hidup di wilayah abu-abu, seorang agen negara yang menggunakan cara-cara ekstrem untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Film ini menunjukkan bagaimana kekerasan dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap sah ketika dibingkai sebagai perjuangan.

Salah satu elemen menarik dalam film pertama adalah hubungan Hamza dengan Rehman Dakait (Akshaye Khanna), tokoh mafia yang karismatik sekaligus mengancam. Hubungan keduanya menghadirkan ketegangan karena Hamza tidak hanya menghadapi musuh, tetapi juga mulai masuk ke dunia yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang kekuasaan dan loyalitas.

Aditya Dhar berhasil membangun atmosfer thriller mata-mata melalui sinematografi agresif, adegan aksi penuh darah, serta musik yang memadukan nuansa Bollywood klasik dengan energi modern. Dhurandhar tidak hanya mengandalkan aksi, tetapi juga permainan identitas dan konflik batin seorang agen yang hidup dalam kebohongan.

Namun, film ini tidak lepas dari persoalan. Kekerasan yang menjadi bahasa utama cerita sering berjalin dengan isu agama, nasionalisme, dan cara film menggambarkan pihak yang dianggap sebagai ancaman. Penonton dapat menikmati intensitas aksinya, tetapi pada saat yang sama film perlahan mengarahkan simpati kepada sudut pandang tertentu. Di titik inilah batas antara hiburan, propaganda, dan pembenaran terhadap kekerasan mulai kabur.

Jika film pertama berfokus pada penyamaran dan penyusupan, Dhurandhar: The Revenge bergerak lebih jauh ke arah konflik politik dan konsekuensi dari operasi Hamza. Kekuatan utamanya terletak pada pengungkapan rahasia di bagian akhir yang mengubah cara penonton memahami sejumlah peristiwa sebelumnya.

Rencana operasi yang disusun Hamza, arah serangan yang dijalankan, hingga identitas karakter mengalami perubahan makna ketika rahasia mulai terbuka. Dalam dunia intelijen, batas antara kawan dan lawan tidak selalu jelas. Seseorang yang terlihat sebagai musuh dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih besar.

Meski menawarkan aksi yang lebih besar, The Revenge terasa tidak sekuat film pertama dalam pendalaman karakter. Beberapa bagian lebih mengejar skala visual dan pesan politik dibandingkan perkembangan emosi tokoh. Namun, film ini tetap berhasil memperlihatkan bagaimana sebuah operasi rahasia dapat mengubah manusia yang menjalankannya.

Melalui duologi ini, Aditya Dhar tidak hanya membuat cerita tentang mata-mata. Ia menghadirkan gambaran tentang bagaimana sebuah negara membentuk sosok pahlawan melalui narasi pengorbanan, keberanian, dan kekerasan. Hamza memiliki dua wajah, sebagai agen yang menjalankan misi negara, sekaligus sebagai manusia yang membawa luka masa lalu.

Pada akhirnya, Dhurandhar bukan sekadar film aksi tentang perang melawan musuh. Ia adalah gambaran tentang bagaimana sinema membangun kepahlawanan dan bagaimana kekerasan dapat memperoleh pembenaran ketika dibungkus dengan nama patriotisme.

Film ini memang menawarkan aksi yang intens dan memikat. Namun, semakin lama, penonton tidak hanya diajak menyaksikan sebuah cerita, tetapi juga diarahkan untuk melihat konflik dari satu sudut pandang tertentu. Di situlah Dhurandhar menjadi menarik sekaligus problematis. ketika kekerasan dibungkus patriotisme, batas antara sinema dan propaganda mulai sulit dibedakan. (Nur Wahirah Hijralia Azzahra)

Judul                     : Dhurandhar dan Dhurandhar: The Revenge

Sutradara            : Aditya Dhar

Produksi              : Jio Studios dan B62 Studios

Durasi total         : 443 menit

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO