BerandaBIMA43 Desa di Kabupaten Bima Terancam Kekeringan

43 Desa di Kabupaten Bima Terancam Kekeringan

Bima (Suara NTB) – Ancaman kekeringan di Kabupaten Bima semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memetakan sebanyak 43 desa di 15 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026. Hal ini akan berdampak terhadap 8.665 kepala keluarga (KK) atau 27.343 jiwa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, Abdul Muis, S.Sos.,mengatakan pihaknya telah memetakan potensi ancaman kekeringan di 43 desa. Kemarau ini akan berdampak terhadap 27.343 jiwa, sehingga data tersebut menjadi dasar pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah penanganan agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.

“Data ini menjadi dasar kami dalam menentukan langkah penanganan, mulai dari penyaluran air bersih hingga koordinasi lintas perangkat daerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pekan kemarin.

Berdasarkan data BPBD per 6 Agustus 2026, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Desa Tenga, Kalampa, dan Talabiu di Kecamatan Woha; Tangga, Simpasai, dan Sondo di Kecamatan Monta; Nata, Tonggorisa, Ntonggu, Teke, Belo, Bre, Ragi, Padolo, Roi, Dore, Panda, dan Nunggi di Kecamatan Palibelo; Tawali, Sangiang, dan Hidirasa di Kecamatan Wera; Oi Dungga dan Mpili di Kecamatan Donggo; Sanolo di Kecamatan Bolo; Parangina dan Bugis di Kecamatan Sape; Maria Utara, Pesa, dan Kombo di Kecamatan Wawo; Teta di Kecamatan Lambitu; Manta Baru, Mangge, dan Kaleo di Kecamatan Lambu; Runggu, Roka, Cenggu, Diha, dan Ncera di Kecamatan Belo; Bajo di Kecamatan Soromandi; Nipa di Kecamatan Ambalawi; serta Piong di Kecamatan Sanggar dan Oi Katupa serta Kawinda Toi di Kecamatan Tambora.

Menurut Abdul Muis, sejumlah desa tersebut dipetakan berdasarkan potensi kekurangan air bersih selama musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño.

“Kami terus memperbarui data sesuai perkembangan di lapangan sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” katanya.

BPBD mencatat Desa Ntonggu di Kecamatan Palibelo menjadi wilayah dengan potensi warga terdampak terbanyak, mencapai 3.696 jiwa. Selanjutnya, Desa Pesa di Kecamatan Wawo sebanyak 2.217 jiwa, Desa Roi di Kecamatan Palibelo 2.172 jiwa, serta Desa Runggu di Kecamatan Belo sebanyak 2.067 jiwa.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pihaknya bersama instansi terkait telah mulai mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air.

“Distribusi air bersih terus kami lakukan sesuai tingkat kebutuhan masyarakat di lapangan. Penanganan ini akan disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah terdampak,” ujarnya.

Selain menyiapkan penanganan kekeringan, Pemkab Bima juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang umumnya meningkat pada musim kemarau. Melalui rapat koordinasi tersebut, seluruh perangkat daerah diminta memperkuat sinergi, sementara pemerintah desa diimbau mengedukasi masyarakat agar menghemat penggunaan air serta mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga lingkungan, menggunakan air secara bijak, dan segera melaporkan apabila terdapat kejadian yang berpotensi menimbulkan bencana agar bisa ditangani sejak dini,” pungkasnya. (hir)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO