PEMPROV NTB berencana mengangkut semua sampah yang ada di Gili Trawangan. Hal ini karena sampah yang mulai menggunung menyusul pengolahan sampah di lokasi tersebut yang tidak berfungsi maksimal, alias dua di antara tiga insinerator sampah di Gili Trawangan mangkrak.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan pihaknya saat ini telah melakukan survei bagaimana pengangkutan sampah secara optimal. Beberapa opsi kini bermunculan, mulai dari pengangkutan menggunakan roda tiga dan kesiapan kapal membawa semua sampah tersebut.
“Ya tentunya ini juga maaf, ini kan ada catatan. Di daerah pariwisata, di Gili itu, apalagi sekarang high season pasti produksinya bertambah,” ujarnya, kemarin.
Diakuinya, telah ada perintah dari Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dalam mengatasi masalah sampah di NTB. Karena Gili Trawangan berada di tengah-tengah Gili Air dan Meno, Pemprov kini tengah mencari cara bagaimana agar sampah itu bisa terangkut semuanya.
Adapun dengan pengadaan tiga insinerator sampah yang hingga kini dua dari tiga mesin itu belum bisa beroperasi, Ahmad Nur Aulia mengatakan sampah di Gili banyak ditemukan tumpukan sampah organik. Untuk itu, Gili tidak hanya butuh insinerator, tetapi juga butuh mesin pengolahan sampah organik.
“Tentunya harus tidak hanya inserator, tentunya ada pengelolaan atau pengelolaan daripada sampah organik. Kalau dari sisi penyedia jasa, tidak ada masalah. Mereka sangat tertib mengelola sampahnya,” katanya.
Hanya saja, yang jadi masalah adalah ketika sampah itu sampai di TPS, tidak ada mesin untuk mengolah sampah tersebut. Hal itu menyebabkan terjadinya gunungan sampah di lokasi pariwisata prioritas NTB tersebut. “Di sana tidak ada pengolahan air lindinya. Air lindi itu air bekas, tumpukan sampah aromanya itu luar biasa,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim menyoroti belum optimalnya operasional insinerator pengolahan sampah di TPST yang diberikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Padahal, insinerator itu menjadi bagian dari proyek pengelolaan sampah di kawasan tiga gili.
Karena hal ini, ia mengaku telah menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah pusat mengenai kondisi insinerator yang hingga kini dinilai belum berjalan maksimal. Selain itu, koordinasi antara pengelola proyek dengan pemerintah provinsi juga disebut masih sangat minim.
“Kami sudah pernah meminta kepada mereka, karena sekarang mereka juga tidak ada koordinasi dengan kami di provinsi terkait insinerator itu,” katanya.
Menurutnya, pemerintah pusat saat ini masih melakukan penguatan agar operasional insinerator dapat kembali dioptimalkan sehingga mampu menjadi solusi penanganan sampah di kawasan tersebut.
Pemerintah daerah juga meminta agar fasilitas tersebut benar-benar difungsikan secara maksimal dan tidak menjadi proyek yang gagal menyelesaikan persoalan sampah masyarakat.
Diketahui, volume sampah yang masuk ke TPST mencapai sekitar 15 hingga 18 ton per hari. Jika insinerator dapat beroperasi dalam waktu dekat, maka “gunung sampah” diharapkan dapat berkurang secara signifikan. Pemerintah provinsi juga menilai perlunya penerapan uji baku mutu sebagai standar pelayanan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Saya pikir itu sangat diperlukan sebagai standar pelayanan yang berorientasi pada keberlanjutan dan ramah lingkungan,” pungkasnya. (era)


