Mataram (Suara NTB)– Pernah berkendara melewati rute yang setiap hari dilalui, lalu tiba-tiba sudah sampai tujuan dan merasa perjalanan tadi seperti tidak terasa? Kondisi tersebut bisa menjadi tanda pengendara mengalami autopilot riding.
Autopilot riding merupakan kondisi ketika pengendara masih sadar dan mampu mengendalikan sepeda motor, tetapi perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada kondisi jalan. Tubuh tetap menjalankan kebiasaan berkendara, sementara pikiran sibuk dengan hal lain.
Kondisi ini kerap muncul ketika pengendara melewati jalan yang sangat familiar, menghadapi perjalanan yang monoton, sedang banyak pikiran, atau mengalami gangguan konsentrasi.
Meski masih dalam kondisi terjaga, autopilot riding dapat menurunkan kemampuan pengendara dalam membaca situasi di sekitar. Pengendara berisiko terlambat menyadari lubang, kendaraan yang keluar dari gang, pejalan kaki, perubahan arus lalu lintas, maupun kendaraan di depan yang tiba-tiba mengurangi kecepatan.
Kondisi tersebut berbeda dengan microsleep. Pada autopilot riding, pengendara masih sadar, tetapi fokus terhadap lingkungan sekitar menurun. Sementara microsleep berkaitan dengan rasa kantuk yang menyebabkan seseorang tertidur dalam waktu sangat singkat tanpa disengaja.
Meski berbeda, keduanya sama-sama berbahaya karena dapat membuat respons pengendara terhadap potensi bahaya menjadi terlambat. Bahkan, risiko microsleep dapat lebih serius karena pengendara kehilangan kesadaran sesaat ketika sepeda motor tetap melaju.
Safety Riding Instructor & Community Development Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, mengingatkan pengendara agar tidak menganggap rute yang sudah familiar sebagai kondisi yang aman.
“Jalan yang kita lewati setiap hari memang sudah hafal, tetapi kondisi jalannya tidak selalu sama. Jangan sampai kita hanya mengandalkan hafalan dan lupa membaca kondisi aktual di depan,” ujar Satria.
Menurutnya, pengendara harus tetap aktif memperhatikan kondisi jalan, termasuk situasi di depan, samping, serta spion. Kemampuan membaca potensi bahaya menjadi bagian penting dalam berkendara aman.
Satria juga mengingatkan pengendara untuk segera mengembalikan konsentrasi ketika mulai merasa pikirannya melayang atau berkendara hanya mengikuti kebiasaan.
“Kalau mulai merasa pikiran melayang atau berkendara hanya mengikuti kebiasaan, kurangi kecepatan dan kembalikan fokus. Kalau sudah mengantuk, jangan dipaksakan karena itu sudah masuk risiko microsleep,” katanya.
Lima Cara Keluar dari Mode Autopilot
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan pengendara untuk mencegah berkendara dalam kondisi autopilot.
Pertama, baca jalan, bukan sekadar mengikuti rute. Pengendara perlu memperhatikan kendaraan lain, persimpangan, kondisi permukaan jalan, serta aktivitas masyarakat di sekitar.
Kedua, lakukan self-check. Pengendara dapat bertanya kepada diri sendiri, “Saya benar-benar fokus atau hanya mengikuti kebiasaan?” Pertanyaan sederhana tersebut membantu menyadarkan kembali perhatian terhadap aktivitas berkendara.
Ketiga, kurangi kecepatan ketika konsentrasi menurun. Kecepatan yang lebih rendah memberikan waktu lebih banyak bagi pengendara untuk membaca situasi dan merespons potensi bahaya.
Keempat, jangan mengabaikan rasa kantuk. Rasa kantuk bukan sekadar gangguan konsentrasi. Jika sudah mengantuk, pengendara sebaiknya berhenti di tempat yang aman dan beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Kelima, tetap waspada meski jalan sudah sangat familiar. Rute yang sama dapat menghadirkan kondisi dan risiko yang berbeda setiap hari.
Satria menegaskan, keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan sepeda motor. Pengendara juga dituntut mampu membaca, memprediksi, dan mengantisipasi kondisi di sekitarnya.
Karena itu, pengendara diingatkan untuk tidak membiarkan kebiasaan mengambil alih konsentrasi saat berada di jalan.
“Jangan sampai tubuh sudah sampai tujuan, tetapi selama perjalanan pikiran justru tertinggal.”
Jago Cari Aman, Biar Happy.(bul)


