Mataram (Suara NTB) – Dinas Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Mataram menggelar pelatihan digital marketing dan desain kerajinan mutiara, pekan kemarin. Kegiatan ini sebagai bentuk ikhtiar untuk mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah naik kelas. Selain itu, kerajinan bros tembolak menjadi produk kriya asli Kota Mataram.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Mataram, Jemmy Nelwan, S.Sos., menerangkan, pelatihan digital marketing dan desain kerajinan mutiara diikuti oleh 60 orang. Terdiri dari 35 peserta peserta desain kerajinan mutiara dan 25 peserta pelatihan digital marketing.

Pelatihan kerajinan mutiara difokuskan pada pembuatan bros dengan motif tembolaq. Tembolaq merupakan salah satu ikon di Kota Mataram, sehingga pihaknya akan mendaftarkan hak paten atau Hak Atas Kekayaan Intelektual ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia. “Kita sedang mengurus HAKI di Kementerian Hukum Provinsi NTB,” terang Jemmy dikonfirmasi, pada Rabu (19/8).
Menurutnya, peserta sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Pasalnya, pemateri mengajarkan cara membuat konten menarik untuk mempromosikan produk atau hasil olahan mereka,sehingga menjadi daya tarik pembeli. Demikian pula, pelatihan desain mutiara. Peserta dilatih merancang bros tembolaq sebagai simbol atau ikon yang dimiliki oleh Kota Mataram.

Jemmy mengakui, tantangan yang dihadapi serta menjadi pekerjaan rumah adalah pengemasan produk. Saat ini, Kota Mataram tidak memiliki alat untuk mengemas produk menjadi lebih menarik. Pihaknya akan berupaya meningkatkan anggaran untuk melatih pelaku usaha mengemas produk untuk memikat calon pembeli.
Pelatihan ini diharapkan menumbuhkembangkan kualitas produk serta pelaku UMKM bisa naik kelas sesuai target pemerintah pusat. “Untuk bantuan alatnya kita akan meminta bantuan dari pemerintah pusat,” katanya.

Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana mengatakan, perkembangan teknologi dan persaingan usaha yang semakin dinamis, pelaku UMKM dituntut untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. Digital bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha. Pemasaran digital, produk-produk UKMK Kota Mataram dapat dipromosikan dengan jangkauan lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional bahkan internasional.
“Saya menyambut baik pelaksanaan bimtek ini dengan harapan peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai media sosial, marketplace, pembuatan konten maupun strategi pemasaran digital,” terangnya.

Kinnastri menambahkan, pelatihan kerajinan mutiara juga memiliki nilai yang sangat strategis bagi Kota Mataram. Mutiara bukan hanya sebuah komoditas, tetapi merupakan bagian dari identitas dan potensi ekonomi kreatif daerah. Keindahan mutiara dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai tambah tinggi dengan desain yang semakin kreatif, modern dan sesuai dengan selera pasar. “Saya berharap para perajin dapat meningkatkan keterampilan, kualitas produk serta menciptakan produk yang memiliki daya saing,” harapnya.

Ia mengatakan, potensi mutiara dapat diubah menjadi produk unggulan yang memiliki cerita, karakter dan identitas Mataram. Seperti bros Sangkareang dan Bros Tembolak. Dengan demikian, mutiara tidak hanya dijual sebagai bahan baku atau perhiasan, tetapi dapat menjadi bagi dari produk kriya dan ekonomi kreatif yang membawa nama Kota Mataram semakin Harum. “Saya mendorong pelaku UMKM dan perajin tidak bekerja sendiri-sendiri. Mari kita bangun kolaborasi antara pemerintah,pelaku usaha,perajin,komunitas, dunia pendidikan, perbankan, berbagai pihak lainnya,” demikian kata dia. (cem/*)



