BerandaEKONOMITPID NTB Perkuat Koordinasi, Jaga Ketersediaan dan Harga Bapok Jelang Maulid Nabi

TPID NTB Perkuat Koordinasi, Jaga Ketersediaan dan Harga Bapok Jelang Maulid Nabi

- Advertisement -

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat koordinasi untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok (bapok) menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Koordinasi lintas instansi menjadi penting karena untuk menjaga pergerakan kenaikan harga bahan pokok dan ketersediaan kebutuhan jelang peringatan hari besar keagamaan.

Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Damayanti Putri, pada kegiatan koordinasi TPID di Kantor Bupati Sumbawa, Sabtu, 22 Agustus 2026 mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi kenaikan harga dengan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara serentak di 10 kabupaten/kota.

“Menjelang Maulid Nabi ini harga-harga pasti naik karena permintaan meningkat. Karena itu kita mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu panik,” kata Indah.

Menurutnya, GPM menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan pangan tersedia dengan harga terjangkau. Pelaksanaannya melibatkan Bulog, Pertamina, dan jaringan ritel modern.

Bulog memasok sejumlah kebutuhan seperti beras dan minyak goreng. Sementara Pertamina memberikan dukungan elpiji 3 kilogram, termasuk melalui tambahan pasokan pada wilayah yang mengalami peningkatan kebutuhan.

Dalam operasi pasar di Bima, misalnya, Pertamina menyalurkan sekitar 1.120 tabung elpiji 3 kilogram. Pertamina juga menyiapkan extra dropping selama periode Maulid untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat.

Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Andhi Wahyu Riyadno mengatakan, kondisi inflasi daerah masih terkendali. Kabupaten Sumbawa pada Juli 2026 bahkan mengalami deflasi 0,37 persen secara bulanan (mtm), sementara inflasi tahunan tercatat 2,50 persen (yoy).

Pemantauan harga hingga 20 Agustus menunjukkan sebagian besar komoditas pangan strategis di Sumbawa dan Sumbawa Barat masih relatif stabil. Beras, telur ayam, dan minyak goreng cenderung stabil, sedangkan bawang putih mengalami penurunan.

Sebaliknya, daging ayam ras dan cabai rawit mulai mengalami kenaikan. Pergerakan ini menjadi sinyal awal agar intervensi dilakukan sebelum tekanan harga semakin meluas.

Andhi mengatakan kenaikan mulai terasa pada komoditas bumbu-bumbuan, terutama cabai rawit. Namun, secara umum harga bahan pokok di NTB masih berada dalam kondisi terkendali.

“Kalau bahan pokok dan penting masih terkendali. Yang mulai naik ini komoditas seperti cabai rawit dan daging ayam ras,” ujarnya.

Koordinasi dengan TPID juga terus dilakukan untuk memastikan beras yang tersedia segera digelontorkan ke pasar ketika terjadi peningkatan permintaan.

Bank Indonesia juga terus mengingatkan agar GPM tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi instrumen intervensi yang dilakukan berdasarkan kondisi harga dan pasokan di lapangan.

Hingga pekan ketiga Agustus 2026, GPM telah dilaksanakan di 154 titik di NTB, termasuk 17 titik di Kabupaten Sumbawa dan 16 titik di Kabupaten Sumbawa Barat.

GPM selanjutnya diarahkan dengan prinsip tepat lokasi, tepat sasaran, dan tepat waktu. Pemerintah juga didorong menggunakan data harga harian sebagai sistem peringatan dini sehingga potensi gejolak dapat segera direspons.

Koordinasi antardaerah untuk mengalirkan pasokan dari wilayah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan juga perlu diperkuat. Pengawasan pasar dan distributor dilakukan untuk memastikan tidak terjadi hambatan distribusi maupun permainan harga.

Dengan penguatan koordinasi TPID NTB, diharapkan masyarakat selama momentum Maulid tetap terpenuhi tanpa memicu lonjakan harga. Masyarakat juga diimbau berbelanja secara wajar dan tidak melakukan panic buying karena pembelian berlebihan justru dapat memperbesar tekanan terhadap harga dan pasokan. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO