Pagi itu, Rena kembali ke rumahnya dengan tangan kosong. Tidak ada lagi pintu yang bisa diketuk, tidak ada tempat tidur untuk didatangi, dan tidak ada lemari yang bisa dibuka untuk mengambil pakaian anak-anaknya. Yang tersisa hanya puing-puing kayu, abu, dan beberapa benda yang berhasil bertahan dari kobaran api.
SEKITAR pukul 10.00 Wita, Minggu (23/8/2026), Rena jongkok di antara sisa-sisa rumahnya di Desa Adat Sade, Lombok Tengah. Matanya menyusuri tumpukan arang, seolah masih berharap menemukan sesuatu yang bisa dibawa pulang.
Tangannya sesekali mengais puing. Beberapa piring masih terlihat tersusun. Benda-benda tahan api itu menjadi sedikit dari sekian banyak barang miliknya yang masih tersisa setelah kebakaran pada Sabtu malam (22/8/2026).
“Habis, sudah tidak ada lagi. Pakaian saya dan anak saya terbakar,” ujar Rena dengan nada lirih.
Bagi Rena, kebakaran malam itu berlangsung begitu cepat. Sekitar pukul 21.30 Wita, Sabtu (22/8/2026), ia bersama tiga anaknya sudah terlelap. Tidak ada firasat bahwa mereka harus meninggalkan rumah dalam keadaan panik.
Teriakan warga tiba-tiba membangunkannya. Api semakin besar dan dengan cepat merambat ke rumah-rumah di sekitarnya. Dalam keadaan panik, Rena tidak sempat berpikir panjang. Yang ada di pikirannya hanya satu: menyelamatkan anak-anaknya.
Ia bergegas keluar bersama ketiga anaknya. Tidak ada pakaian yang sempat diambil. Tidak ada uang atau perhiasan yang bisa diselamatkan. Bahkan barang-barang yang selama ini dikumpulkan untuk kebutuhan keluarga pun harus ditinggalkan.
Rena memilih anak-anaknya daripada harta benda.
Kini, ia dan keluarganya harus memulai semuanya dari awal.
Dua anak Rena yang masih duduk di bangku sekolah dasar kehilangan seragam dan pakaian sehari-hari. Pakaian yang mereka kenakan setelah kebakaran adalah pakaian yang melekat di tubuh saat mereka menyelamatkan diri malam itu.
“Makanya tidak ada bajunya, semuanya habis terbakar,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kehilangan yang tidak sedikit. Bukan hanya rumah yang lenyap, tetapi juga pakaian, perlengkapan sekolah, dan barang-barang yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tiga anaknya.
Untuk sementara, Rena dan anak-anaknya mengungsi di rumah saudara. Mereka belum memiliki tempat tinggal sendiri dan masih menunggu pemerintah daerah menyiapkan posko pengungsian bagi warga terdampak.
Di tengah sisa-sisa rumah yang telah menjadi abu, Rena tidak banyak meminta. Ia hanya berharap keluarganya kembali memiliki tempat untuk berteduh.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah segera membantu memperbaiki atau membangun kembali rumahnya.
Rumah adat di Desa Sade memiliki bentuk yang relatif serupa. Bagian atap menggunakan jerami, sedangkan dindingnya memanfaatkan anyaman bambu. Sebagian struktur bangunan menggunakan beton. Material jerami dan bambu yang mudah terbakar membuat kobaran api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah-rumah yang berdekatan.
Namun, bagi Rena, rumah itu lebih dari sekadar bangunan. Di sanalah tiga anaknya tidur, bermain, belajar, dan menjalani hari-hari bersama ibunya. Di rumah sederhana itu pula tersimpan pakaian, perlengkapan sekolah, uang, dan barang-barang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Kini semuanya tinggal kenangan, Rena hanya bisa berdiri di antara puing-puing rumahnya. Di tengah abu yang tersisa, ia mencoba menata kembali harapa bukan untuk mengembalikan barang-barang yang telah terbakar, tetapi untuk memastikan ketiga anaknya kembali memiliki rumah dan kehidupan yang layak. (pan)


