BerandaNTBLimit Kelola Sumber Air Darat, PDAM KLU Sebut Hanya Bisa Sentuh 20...

Limit Kelola Sumber Air Darat, PDAM KLU Sebut Hanya Bisa Sentuh 20 Persen

- Advertisement -

Tanjung (Suara NTB) – PDAM Lombok Utara terus menjadi sorotan masyarakat di tengah krisis air bersih di Gili Trawangan dan Gili Meno. Alih-alih mengelola pelanggan di dua pulau tersebut secara mandiri melalui perpipaan bawah laut, PDAM bersikeras melanjutkan kerja sama dengan PT Tiara Cipta Nirwana (TCN), bahkan dengan peralihan metode SWRO ke Beach Well.

Direktur PDAM Amerta Dayan Gunung (ADG), Ramadhan Jayadi, S.Pd., kepada wartawan Senin (24/8/2026) mengakui, alasan mendasar PDAM tidak mengelola pelanggan Trawangan dan Meno melalui jalur pipa bawah laut, adalah karena limit akses terhadap sumber air yang ada.

Ramadhan menjelaskan, seluruh sumber air yang ada di daratan Lombok tidak bisa dikelola sendiri oleh PDAM. Sebaliknya, pengelolaan sumber terbatas di angka 20 persen dari seluruh pasokan yang tersedia. Sedangkan 80 persennya digunakan oleh masyarakat untuk irigasi pertanian, maupun pengelolaan air bersih untuk mandi cuci kakus (MCK) melibatkan program Pamsimas ataupun Pamdes.

Keterbatasan akses tersebut turut memengaruhi cakupan pelayanan di seluruh rumah tangga maupun pelanggan lembaga usaha di Kabupaten Lombok Utara.

“Cakupan pelayanan kita 38 persen, dari seharusnya 42 persen. Ini karena semua sumber tidak boleh dikelola sendiri oleh PDAM. Dari semua sumber yang ada, maksimal yang bisa dikelola hanya 20 persen,” ujarnya.

Ramadhan melanjutkan, spesifik terhadap pelanggan di kawasan wisata tiga Gili, akses distribusi jaringan perpipaan terdekat adalah berasal dari sumber Jongplangka, Kecamatan Gangga. Sumber air yang siap salur di Tanjung dan Pemenang nyaris tidak ada.

“Ke Pemenang saja, jarak jangkauannya 28 meter (dari Gangga),” imbuhnya.

Ia juga mengakui, akademisi dari Universitas Brawijaya, pernah datang mengkaji sumber air dan struktur tanah di Lombok Utara. Ramadhan menyatakan, bahwa berdasarkan kajian tersebut diketahui struktur tanah di Lombok Utara merupakan batuan apung yang tidak mampu menampung air hujan dalam waktu lama.

Tidak hanya itu, para akademisi tersebut juga mempelajari sumber air tawar pada titik Seven Spring Water di Dusun Kerakas, Desa Segara Katon, kecamatan Gangga. Namun, sampai saat ini hasilnya belum diberitahukan kepada Pemda, termasuk PDAM.

Ramadhan menyebut, pasokan air untuk PDAM saat ini berasal dari 10 sumber. Kendati demikian, PDAM masih terus menambah sumber-sumber potensial yang mendukung cakupan kebutuhan debit PDM.

Lantas, bagaimana dengan pipa bawah laut?

“Tidak mustahil, silahkan saja. Yang penting ada kajian (yang mendukung). Karena di tahun 2016, ada wacana sumber dari Sekeper dibawa ke Gili. Dampaknya ada protes masyarakat yang terjadi saat itu,” tandasnya. (ari)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO