KAIN Tenun hasil produksi perajin di sejumlah kabupaten/kota di NTB memiliki keistimewaan, karena kualitas dan nilai jualnya yang tinggi. Saat ini, produk kain tenun masih ditekuni oleh segmen perajin kelompok umur usia lanjut. Seiring berjalannya waktu, keterlibatan generasi muda untuk menjadi seorang penenun dipandang perlu untuk mulai digalakkan oleh pemerintah daerah.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, Sinta M. Iqbal, saat menghadiri Parade Jong Bayan sebagai rangkaian Maulid Adat Bayan, Kamis (27/8), menekankan pentingnya upaya regenerasi penenun muda di tingkat daerah. Termasuk di Bayan sendiri, Sinta mendorong keterlibatan pemuda untuk melestarikan tenun sebagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Sinta melihat, kain tenun khas Bayan semakin langka dan sulit ditemukan bahkan di Kota Mataram. Terbatasnya ketersediaan kain tenun ini dinilai dipengaruhi oleh minimnya jumlah produksi harian dari produk hasil kerajinan tangan tersebut.
Sinta melanjutkan, Tenun Bayan memiliki keunikan motif dan filosofi yang tidak dimiliki daerah lain di NTB, sehingga kehilangannya akan menjadi kerugian budaya yang tak tergantikan.
“Kain tenunan dari wilayah ini memiliki keunikan dari daerah lain di Provinsi NTB. Oleh karena itu, saya meminta kepada Pemerintah Lombok Utara, agar di setiap sekolah yang ada di wilayah ini diajarkan kepada siswa-siswinya untuk bertenun, supaya tenun tidak punah,” ujarnya.
Sinta pada kesempatan tersebut, membuka Parade Jong Bayan dari rangkaian Maulid Adat Masyarakat Adat Kecamatan Bayan. Sebelum membuka parade, istri Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal ini, mengajak seluruh warga NTB, khususnya masyarakat Bayan, untuk bersyukur dan bangga atas pengakuan nasional terhadap tradisi.
Masuknya Mulud (Maulid) Adat Bayan sebagai salah satu dari 125 Kharisma Event Nusantara oleh Kementerian Pariwisata RI, dinilai sebagai bukti ketahanan warisan leluhur di tengah arus modernisasi. Event ini dipandang memiliki daya tarik bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
“Kita patut bangga karena kegiatan ini masuk dalam (Kalender) Event Nasional. Oleh karena itu, mari kita jaga warisan ini dengan baik supaya tidak termakan zaman,” ajaknya.
Sinta berharap Parade Seribu Jong dan Mulud Adat dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana edukasi sekaligus pelestarian identitas.
“Keberlanjutan event ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi tentang memastikan generasi muda tetap memegang teguh akar budayanya melalui keterampilan menenun yang lestari,” demikian Sinta. (ari)


