Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB tambah tiga dapur untuk memperluas jangkauan penanganan pascabencana gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak hari ketiga pascagempa, tim NTB telah mengoperasikan dapur umum utama di Dampek, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 nasi bungkus per hari.
Perwakilan Pemprov NTB yang juga Kabid Destinasi Disparekraf NTB, Chandra Aprinova, mengungkapkan Posko NTB kini menjadi pusat rujukan dan posko favorit bagi puluhan relawan dari LSM nasional maupun internasional, TNI, Polri, serta berbagai lembaga kemanusiaan lainnya.
“Selain menyasar masyarakat luas yang terdampak, produksi nasi bungkus dari posko NTB juga dikerahkan untuk mensuplai kebutuhan konsumsi berbagai tim kemanusiaan, tim medis, hingga para pasien di Rumah Sakit Lapangan Pemprov NTB,” ujarnya, Jumat (28/8).
Ia mengatakan, tingginya kebutuhan logistik dan sebaran warga terdampak gempa semakin meluas, Gubernur NTB mengarahkan tim untuk langsung membuka tiga unit dapur umum baru di tiga lokasi berbeda.
Masing-masing dapur umum baru ditargetkan memproduksi 2.000 bungkus makan siang dan 2.000 bungkus makan malam setiap hari. Ada pun operasional menggunakan peralatan sumbangan Kementerian Sosial (Kemensos), sementara pemenuhan bahan logistik utama dan tenaga operator didatangkan langsung dari NTB.
“Tim bertugas melatih warga lokal agar mampu mengelola dapur umum secara mandiri setelah tim NTB menarik penugasan pascahari ke-15,” katanya.
Chandra mengatakan satu dari tiga lokasi dapur umum baru disiagakan di wilayah yang sangat terisolir dan sebelumnya belum tersentuh bantuan sama sekali akibat jalur darat yang sulit diakses kendaraan.
“Untuk menjangkau titik terisolir tersebut, tim di lapangan mendapat panduan rute dari Pendamping PKH setempat yang memahami medan,” tambahnya.
Sebagai informasi, Pemprov NTB langsung mengambil tindakan sesaat gempa magnitudo 7,7 melanda NTT pada 15 Agustus 2026 lalu. Pemprov telah menyalurkan bantuan berupa logistik dan tim tanggap darurat untuk korban gempa yang terjadi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengiriman bantuan ini bertujuan untuk membantu proses penanganan darurat, pelayanan kesehatan, penjangkauan psikososial, serta penyaluran logistik dan peralatan medis di lokasi terdampak.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan pengiriman bantuan logistik dan tim kemanusiaan ini merupakan bentuk empati terhadap musibah yang dialami masyarakat NTT. Menurutnya, sejak terjadi gempa di NTT, Pemprov NTB langsung menyiagakan sekitar 30 armada kendaraan yang didukung anggaran operasional dan logistik. “Kurang dari 24 jam sejak terjadi gempa tim kita sudah siap,” katanya.
Kesiapan tersebut menunjukkan bahwa NTB tidak saja telah siap membantu korban gempa bumi di NTT. “Kesiapan ini juga membuktikan bahwa kita NTB memiliki kesiapsiagaan dalam hal menangani bencana,” katanya.
Kebijakan itu juga dilakukan oleh daerah lain yang juga ikut membantu korban gempa NTT. Salah satunya Pemerintah Provinsi Bali yang menyiapkan logistik di Bima. Selanjutnya bantuan dibawa kapal khusus untuk selanjutnya didistribusikan di NTT.
“Sebagian besar logistik berupa makanan kita siapkan di Bima agar efisien. Sementara bantan yang disiapkan di Mataram berupa obat-obatan yang merupakan hasil sumbangan dari sejumlah pihak,” jelasnya.
Selain logistik, Pemprov NTB juga mengirim alat berat dan kendaraan untuk membantu membersihkan puing puing reruntuhan sekaligus untuk membuka akses jalan yang terputus. Bantuan tersebut selanjutnya akan disalurkan melalui sejumlah posko, terutama di wilayah Labuan Bajo dan Ende. Bantuan tersebut akan difokuskan untuk daerah daerah yang mengalami kerusakan paling parah, seperti di wilayah Manggarai.(era)


