BerandaNTBLOMBOK TIMURPonpes Nurul Hijrah Sugian Siap Terapkan “Boarding School”, Pertahankan Eksistensi di Persaingan...

Ponpes Nurul Hijrah Sugian Siap Terapkan “Boarding School”, Pertahankan Eksistensi di Persaingan Perebutan Siswa

- Advertisement -

Selong (Suara NTB) – Pada momentum hari ulang tahunnya yang ke XIX, Minggu (30/8/2016) sebuah kado istimewa untuk Ponpes Nurul Hijrah Sugian. Dilakukan peletakan batu pertama asrama. Ponpes yang terbilang pinggiran ini ini juga mengalami persaingan ketat. Guna menghadapi persaingan tersebut, ponpes ini akan menghadirkan Boarding School.

Posisi Ponpwa NW Nurul Hijrah ini di sisi barat berdiri sebuah SD Islam. Di sebelah timur ada SDN 1 Sugian. Bukan hanya berhadapan dengan lembaga pendidikan lain, pesantren yang kini memasuki usia ke-19 tahun itu juga berdiri di antara dua aliran sungai. Lokasinya yang tidak berada di tengah permukiman padat membuat perebutan siswa menjadi tantangan tersendiri.

Hampir dua dekade perjalanan membuat pengelola memahami satu hal..Bertahan dengan cara lama tidak cukup. Ponpes Nurul Hijrah memilih mencari pembeda.

“Kalau kita mau bertahan dari gempuran, salah satu caranya adalah membangun sesuatu yang berbeda. Kita harus fokus pada kualitas,” kata Sekretaris Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian, Suhirman.

Salah satu perubahan besar yang kini tengah disiapkan adalah penerapan sistem boarding school atau pendidikan berasrama.

Bagi pengelola pesantren, sistem tersebut bukan sekadar menyediakan tempat tinggal bagi santri. Asrama diharapkan menjadi pembeda mendasar antara pendidikan pesantren dengan sekolah umum.

Sebab, ketika siswa hanya datang pagi, belajar di kelas, kemudian pulang ke rumah, pola pendidikan yang dijalankan dinilai tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya.

“Kalau sistemnya keluar-masuk, apa bedanya dengan sekolah umum? Karena itu sekarang kita fokus ke asrama. Kita siapkan boarding school,” ujarnya.

Menjawab Persoalan Pendidikan dan Sosial

Gagasan boarding school juga tidak lahir semata karena persaingan mendapatkan siswa. Di lingkungan sekitar pesantren, masih terdapat persoalan sosial yang menjadi tantangan dalam menjalankan pendidikan. Salah satunya pernikahan usia anak.

Persoalan tersebut bahkan ikut dirasakan pada jenjang pendidikan menengah. Di tingkat SMA sederajat, kelas III menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak.

Sementara pada jenjang MTs, dalam tiga tahun terakhir tidak lagi terdapat siswa kelas tertentu seperti sebelumnya.

Pengelola pun mencoba menjadikan pesantren sebagai ruang untuk memberikan gerakan penyadaran kepada masyarakat dan generasi muda.

Konsep boarding school diyakini dapat menjadi salah satu cara memperkuat pendampingan terhadap santri. Pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama.

Dengan pola tersebut, pesantren berharap pembentukan karakter, penguatan agama, sekaligus penyadaran terhadap berbagai persoalan sosial dapat dilakukan lebih intensif.

Namun, mewujudkan cita-cita itu tidak mudah.

Keterbatasan sarana masih menjadi persoalan mendasar. Dukungan pemerintah yang diterima sejauh ini lebih banyak berupa bantuan operasional sekolah atau BOS. Sementara kebutuhan pembangunan fisik masih cukup besar.

Salah satunya menyangkut bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI).

“Gedung MI kita tidak pernah memenuhi standar akreditasi. Standarnya 7 x 7 meter, sementara yang kita punya 5 x 6 meter,” ungkap Suhirman.

Karena itu, harapan diarahkan pada dukungan pembangunan sarana, termasuk peluang bantuan dari Australia yang diharapkan dapat membantu pembenahan fasilitas pendidikan.

Cikal bakal lembaga pendidikan tersebut telah dirintis sejak 1997 melalui MI NW Senang Galih yang ketika itu berada di bawah naungan Darul Fatihin NW Senang Galih.

Sepuluh tahun kemudian, pada 2007, lembaga tersebut berdiri sendiri. Perkembangannya kemudian ditandai dengan dibukanya jenjang MTs.

Namun, persoalan baru muncul. Banyak lulusan MTs memilih melanjutkan pendidikan SMA ke luar lembaga.

Pengelola kemudian membuka jenjang SMA sendiri agar kesinambungan pendidikan para siswa tetap terjaga.

Madrasah Aliyah (MA) juga sempat dibuka. Namun, minimnya peminat membuat jenjang tersebut tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan.

Perjalanan itu semakin berat setelah gempa bumi 2018.

Memasuki 2020, MI bahkan mengalami krisis siswa. Sebagian calon siswa justru terserap oleh sekolah dasar lain yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Pengelola tidak tinggal diam. Pada 2022, TK IT Sugian didirikan untuk memperluas layanan pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan pendidikan anak usia dini.

Kini, dari jenjang TK hingga SMA, Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian memiliki sekitar 315 siswa.

Jumlah itu menjadi modal penting untuk terus berkembang. Tetapi sekaligus menjadi tantangan agar lembaga tersebut tidak kehilangan daya saing.

“Pendidikan sudah menjadi industri,” kata Suhirman.

Karena itu, memasuki usia ke-19, menurut dia, lembaga tersebut membutuhkan penggerak baru.

“Setelah 19 tahun, harus ada penggerak,” ujarnya.

Tidak Cukup Hanya Membangun Gedung

Bagi Suhirman, membangun pesantren bukan sekadar membangun gedung.

Gedung yang representatif memang dibutuhkan. Tetapi pembangunan fisik tidak boleh membuat pesantren kehilangan tujuan utamanya: membangun manusia.

Terlebih, pesantren menghadapi tantangan lain berupa munculnya berbagai isu miring tentang lembaga pendidikan berbasis pesantren.

“Semua menjadi tantangan. Terlebih isu miring tentang pesantren. Kalau tidak segera berbenah, jangan sampai kita hanya fokus pembangunan fisik sehingga lupa pembangunan manusia,” tegasnya.

Karena itu, arah pendidikan Nurul Hijrah mulai diperjelas melalui tema “Melahirkan Santri Berakhlak Qurani, Berpikir Global.”

Program tahfiz juga akan diperkuat. Kemampuan akademik santri diharapkan berjalan beriringan dengan kemampuan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.

Boarding school menjadi bagian dari desain besar tersebut. Santri nantinya tidak hanya belajar di ruang kelas. Kehidupan di asrama diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang berlangsung sepanjang hari—dari cara berinteraksi, beribadah, belajar, hingga membangun kemandirian.

Milad yang Tak Sekadar Seremonial

Semangat pembenahan itu turut terlihat dalam peringatan Milad ke-XIX Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian.

Milad tidak hanya diisi dengan seremoni. Berbagai kegiatan dan perlombaan dirancang untuk mengasah kemampuan santri sekaligus memperlihatkan karakter pendidikan yang ingin dibangun.

Ada penampilan Tarian Anak Soleh, lomba tahfiz Juz Amma, futsal dan sepak bola mini bagi siswa MI, hingga lomba praktik mengurus jenazah.

Lomba praktik mengurus jenazah lahir dari kegelisahan pengelola terhadap masih adanya lulusan pesantren yang belum percaya diri ketika diminta memimpin atau melaksanakan salat jenazah.

“Banyak lulusan ponpes yang tidak berani memimpin salat jenazah. Karena itu kita buat lomba praktik sekolah jenazah,” jelas Suhirman.

Pada lomba tahfiz, peserta diuji hafalan Juz 30, mulai dari Surah An-Naba hingga Al-Qariah.

Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Di luar rangkaian milad pesantren, masyarakat Sugian juga memiliki ruang untuk menampilkan budaya lokal. Berbagai permainan dan tradisi masyarakat digelar, termasuk lomba mengejar ayam yang kemudian ditutup dengan pertunjukan gendang beleq.

Pesantren pun menunjukkan dirinya bukan sebagai lembaga yang berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama masyarakat dan kebudayaan di sekitarnya.

Usia 19 tahun menjadi titik penting bagi Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian. Suhirman menyebut fase tersebut sebagai masa kedewasaan. Seperti manusia yang memasuki usia dewasa, pesantren juga harus menentukan arah: tetap bertahan dengan pola lama atau berani melakukan perubahan.

Tantangan jelas ada di depan mata.

Diapit sekolah lain, berada di antara dua sungai, serta tidak terletak di kawasan permukiman padat membuat perebutan siswa bukan perkara sederhana.

Namun, keterbatasan tidak ingin dijadikan alasan untuk menyerah. Nurul Hijrah memilih membangun pembeda. Memperkuat kualitas. Menata manajemen. Mengintegrasikan pendidikan dari MI, MTs hingga SMA. Mengembangkan boarding school. Memperkuat tahfiz. Dan yang paling penting, memastikan pembangunan manusia tetap menjadi tujuan utama.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pesantren bukan hanya tentang seberapa megah gedung yang berdiri.

Lebih dari itu, keberhasilan diukur dari seberapa banyak santri yang mampu membawa nilai-nilai pendidikan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Di antara dua sekolah dan dua sungai, Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian kini sedang mencari jalan untuk terus bergerak.

Seperti sungai di sisi pesantren yang tak pernah berhenti mengalir menuju hilir, Nurul Hijrah pun memilih untuk terus mengalir—meninggalkan cara lama, mencari bentuk baru, dan menolak tersisih dari persaingan pendidikan yang semakin sengit. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO