Praya (Suara NTB) – Usaha Kecil Menengah (UKM) Cempake, di Desa Mekar Damai, Kecamatan Praya, Lombok Tengah kini telah percaya diri. Produk olahan dari bahan baku lokal telah naik ke panggung global, meski pengolahannya dilakukan di desa.
Pendampingan Astra Motor NTB bukan sekadar bantuan untuk memperbaiki kemasan atau menambah peralatan produksi. Tapi mengubah paradigma UKM desa menuju mimpi besar, menembus pasar ekspor.
Bagaimana kisahnya?
Sejumlah media berkunjung ke UKM Cempake, pada Jumat, 28 Agustus 2026 mengunjungi rumah produksi UKM ini. Lokasinya masih di Kecamatan Praya, tapi lumayan jaraknya dari aspal mulus.
Ke sana butuh melewati jalan tanah, dan berbatu, dan berdebut. Tapi faktanya, produk yang dihasilkan bisa menembus pasar luar negeri.
Pendampingan sejak 2022 itu perlahan mengubah wajah usaha sekaligus kepercayaan diri para UKM yang memberdayakan perempuan-perempuan desa ini untuk naik kelas ke panggung global.
Pemilik UKM Cempake, Maemunah bercerita, dari usaha sederhana yang awalnya mengolah jagung dan singkong dengan peralatan semi-manual, UKM Cempake kini berkembang, juga membuka lapangan kerja bagi eks perempuan-perempuan Pekerja Migrant Indonesia (PMI) untuk bekerja di kampung sendiri, tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri lagi.
Produk UKM ini semakin beragam. Tidak hanya tortilla berbahan jagung dan singkong, UKM yang berdiri sejak 2014 itu telah mengembangkan berbagai olahan sorgum, seperti tortilla sorgum, opak, kerupuk, stick hingga beras sorgum.
Bahkan, Tortilla Sorghum UKM Cempake telah lolos kurasi pasar Selandia Baru dan dikirim sebanyak dua kali.
Bagi Maemunah, perjalanan pendampingan Astra Motor NTB telah membuka akses yang sebelumnya sulit mereka jangkau sebagai UKM desa.
“Yang paling terasa adalah perubahan kepercayaan diri. Awalnya kami tidak percaya diri untuk masuk ke pasar modern,” kata Maemunah.
Kepercayaan diri itu tumbuh ketika Astra Motor NTB tidak hanya memberikan masukan mengenai produk, tetapi juga menghubungkan UKM Cempake dengan pasar.
Maemunah dan kelompoknya diperkenalkan langsung kepada sejumlah pasar oleh-oleh dan pasar modern, seperti NTB Mall, Sasaku dan Lestari. Produk mereka akhirnya diterima dan kerja sama tersebut masih berjalan hingga kini.
“Bukan hanya soal kemasan, tetapi Astra juga membantu membuka akses pasar dan membuat kami lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha,” tambahnya.
UKM Cempake mulai mendapat pendampingan Astra Motor NTB pada Tahun 2022. Saat itu, tim Astra berkunjung langsung ke lokasi usaha dan melihat potensi produk berbahan sorgum yang dikembangkan kelompok ini.
Pendampingan kemudian diarahkan pada berbagai aspek, mulai dari inovasi produk, perbaikan kemasan hingga pemasaran.
Sebelumnya, produk UKM Cempake masih dikemas secara sederhana. Kondisi tersebut membuat UKM ini ragu membawa produk ke pasar modern. Setelah mendapat dukungan perbaikan kemasan, tampilan produk menjadi lebih profesional. Dari sinilah keberanian untuk memasuki pasar yang lebih luas mulai tumbuh.
“Awalnya kemasan produk kami masih sangat sederhana. Kemudian Astra Honda membantu membuatkan kemasan baru,” katanya.
Menurut Mae, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar bagi pelaku UKM. Kemasan membuat produk lebih siap dipasarkan, sementara akses pasar membuat pelaku usaha berani bermimpi lebih jauh.
Pemberdayaan juga menyentuh sisi produksi. Pada 2023, UKM Cempake mendapat fasilitasi peralatan berupa mesin pengaduk. Sebelumnya, proses pengadukan dilakukan secara manual. Dengan adanya mesin ini, kata Maemunah, proses produksi menjadi lebih mudah dan efisien.
Pendampingan juga terus dilakukan melalui pemberian informasi dan pembinaan terkait pengembangan usaha. Mae menyebut, dukungan yang diberikan Astra tidak membuat kelompoknya bergantung. Sebaliknya, mereka didorong agar semakin mandiri dan mampu mengembangkan usaha sendiri.
Hal itu terlihat dari keberanian UKM Cempake mengikuti berbagai ajang pengembangan UMKM. Pada 2025, mereka mengikuti Satu Indonesia Award yang digelar Astra Honda, meskipun belum berhasil lolos. Namun, gagal tidak membuat mereka patah semangat.
Bahkan, tahun 2026 ini, UKM Cempake kembali mencoba peruntungan melalui dua kompetisi, yakni UMKM Bisa dan Astra Export Champion.
“Harapannya melalui kegiatan tersebut pasar produk kami bisa semakin dikenal luas,” katanya.
Menariknya, akar dari usaha ini justru berasal dari bahan pangan yang dulu dianggap tidak bernilai. Di Desa Mekar Damai, jagung dan singkong cukup melimpah. Namun, masyarakat kesulitan mendapatkan nilai ekonomi dari hasil pertanian tersebut.
Singkong, misalnya, sering kali hanya ditanam di pematang sawah. Bahkan, ketika ditawarkan kepada masyarakat untuk dibawa pulang, tidak banyak yang berminat.
“Dulu singkong di sini hampir tidak memiliki nilai jual,” ujarnya.
Ia kemudian melihat persoalan tersebut sebagai peluang. Bersama kelompoknya, ia mengolah bahan-bahan pertanian lokal menjadi makanan bernilai tambah. Usaha itu sekaligus menjadi ruang pemberdayaan perempuan.
“Awalnya kami melihat banyak ibu-ibu yang setelah anaknya berangkat sekolah tidak memiliki kegiatan. Kami berpikir bagaimana membuat ibu-ibu memiliki kesibukan dan kegiatan yang produktif,” katanya.
Dari sekitar 20 anggota pada awal pembentukan, kini berkembang menjadi kelompok yang menaungi sekitar 40 perempuan melalui koperasi. Sementara unit pengolahan pangan sendiri melibatkan 17 perempuan.
Salah satu capaian penting setelah proses pemberdayaan adalah kemampuan UKM Cempake memasuki jalur pasar ekspor. Produk sorgum mulai dikembangkan sekitar 2021. Kemudian pada 2025, Tortilla Sorghum mereka mengikuti kurasi untuk pasar Selandia Baru. Produk tersebut dinyatakan lolos dan telah dikirim sebanyak dua kali.
Untuk memenuhi persyaratan pasar tersebut, UKM Cempake harus memenuhi berbagai ketentuan, termasuk perizinan dan uji nutrisi. Dalam proses itu, Astra Honda turut membantu memfasilitasi uji nutrisi.
Kini UKM Cempake masuk kategori UMKM yang memiliki potensi ekspor. Mae masih menyimpan harapan besar agar produk pangan lokal dari desanya bisa semakin dikenal. Sebab, bagi dia, perjalanan UKM Cempake bukan hanya tentang menjual tortilla atau mengolah sorgum.
Ada cerita tentang perempuan desa yang mendapatkan ruang untuk bekerja, bahan pangan lokal yang memperoleh nilai tambah, dan sebuah usaha kecil yang perlahan berani menatap pasar yang lebih besar.
Dan di balik perjalanan itu, ada pola pemberdayaan yang tidak berhenti pada bantuan sesaat. Yaitu, membangun kapasitas, memperbaiki produk, menyediakan peralatan, membuka akses pasar, hingga mendampingi UMKM berani memasuki arena ekspor. Itu yang membuat UKM Cempake ini tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas. (bul)


