Praya (Suara NTB) – Proses rekontruksi atau pembangunan ulang kampung adat Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) direncanakan akan dimulai pekan ini. Dengan penancapan tiang pertama tanda dimulainya pembangunan rumah adat Sade akan dilaksanakan pada Kamis (3/9/2026). Total rumah adat yang akan dibangun sebanyak 91 rumah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H. Ridwan Makruf yang dikonfirmasi Suara NTB, Senin (31/8), membenarkan rencana tersebut. “Sesuai kesepakatan dengan warga Sade, rekontruksi kampung adat Sade akan dimulai pada Kamis besok,” sebutnya.
Proses pembangunan ulang rumah adat Sade tersebut nantinya akan dimulai dengan prosesi adat yang diiikuti oleh semua warga Sade yang terdampak kebakaran. Di mana sesuai kepercayaan warga Sade, bulan-bulan ini merupakan bulan baik untuk memulai proses pembangunan rumah.
“Tapi ini hanya penanda dimulainya rekontruksi kampung adat Sade. Untuk pembangunan rumah adat dan fasilitas pendukung secara massal masih harus menunggu desain serta kesiapan anggaranya,” jelasnya.
Rencananya, sesuai hasil kunjungan Komisi VIII DPR RI akhir pekan kemarin, anggaran rekontruksi kampung adat Sade akan disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB). Hanya saja untuk sumber anggaranya sedang dicarikan oleh DPR RI bersama pemerintah pusat. Mengingat, anggaran yang dibutuhkan untuk rekontruksi ulang kampung adat Sade cukup besar.
“Dari perhitungan Komisi VIII DPR RI dan BNPB saat kunjungan kemarin, butuh sekitar Rp30 miliar. Itu sudah termasuk biaya pembangunan rumah, fasilitas pendukung lainnya. Termasuk masjid Sade,” imbuh mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Loteng ini.
Disinggung soal bantuan bagi warga terdampak kebakaran, tuan Gabus–sapaan akrab Kepala Pelaksana BPBD Loteng ini mengaku sampai saat ini masih terus berdatangan dari berbagai pihak. Sebagian besar bantuan yang masuk, khususnya yang berupa barang dan kebutuhan pokok sementara dititip di gudang KDMP Rembitan.
Nantinya seluruh bantuan yang masuk tersebut selanjutnya akan diserahterimakan ke pemerintah desa setempat. Termasuk untuk proses penyaluran kepada warga terdampak. “Masa tanggap darurat akan berakhir pada tanggal 5 September 2026 besok. Setelah itu semua bantuan akan diserahkan ke pemerintah desa. Dapur umum yang saat ini masih beroperasi juga akan ditutup,” ujarnya.
Namun demikian bukan berarti pihaknya akan lepas tangan sepenuhnya. Setelah masa tanggap darurat selesai, pihaknya akan tetap melakukan koordinasi dengan pemerintah desa. Untuk memastikan proses pemulihan serta rekontruksi kampung adat Sade bisa berjalan. (kir)


