BerandaNTBLOMBOK TIMURHidupkan Spirit Kehidupan di Balik Perayaan Peringatan Maulid Nabi

Hidupkan Spirit Kehidupan di Balik Perayaan Peringatan Maulid Nabi

- Advertisement -

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dan rutinitas tahunan. Momentum tersebut perlu dijadikan ruang untuk merenungkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah sekaligus membicarakan persoalan umat dan mencari spirit kebangkitan.

PANDANGAN tersebut disampaikan tokoh masyarakat Lombok Timur, Dr. Ali Bin Dachlan (Ali BD), dalam kegiatan Ngaji Budaya yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Senin (31/8/2026).


Amaq Asrul, panggilan akrab dari Bupati Lotim dua periode itu mengatakan, masyarakat adat sesungguhnya memiliki cara berpikir yang mengutamakan kebaikan seperti yang dilakukan di Bayan Lombok Utara. Karena itu, tradisi dan budaya tidak semestinya hanya ditampilkan dalam bentuk pakaian atau seremoni, tetapi harus tercermin dalam perilaku dan batin manusia.


Menurutnya, penggunaan pakaian adat dalam kegiatan budaya justru menjadi cara untuk memperlihatkan keaslian tradisi. Namun, keunggulan manusia pada akhirnya bukan ditentukan oleh pakaian yang dikenakan, melainkan oleh kualitas batinnya.


Ia mencontohkan tradisi masyarakat adat Bayan yang memiliki tata aturan adat yang khas. Tradisi tersebut, kata dia, dapat menjadi ruang untuk menggali kembali pemikiran dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan masyarakat Sasak.
“Cara berpikir manusia adat sebenarnya mengutamakan kebaikan,” ujarnya.


Ali BD menilai, Ngaji Budaya perlu menjadi ruang untuk mendiskusikan pemikiran, bukan sekadar mengulang cerita yang sama tanpa memberikan isi dan pemaknaan baru.


“Inisiasi pemikiran orang Sasak diwakili masyarakat di Bayan. Pengajian budaya ada pikiran yang didiskusikan. Jangan cerita yang diulang-ulang tanpa isi,” tegasnya.


Dalam kesempatan itu, Ali juga menyoroti kondisi umat beragama saat ini. Menurutnya, berbagai persoalan dan konflik internal umat semestinya menjadi bahan renungan dalam momentum Maulid.


Ia mengingatkan adanya kecenderungan sebagian orang meninggalkan agama karena merasa lelah melihat praktik saling menyalahkan dan pertentangan di antara umat.


Padahal, menurut Amaq Asrul, agama semestinya menjadi jalan untuk mendapatkan kedamaian, ketenangan, toleransi, dan saling memahami.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan antarmanusia merupakan bagian dari kehidupan yang semestinya menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan menjadi alasan untuk saling bermusuhan.


Karena itu, peringatan Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi umat Islam, termasuk berbagai bentuk perpecahan yang terjadi saat ini. “Peringati Maulid, jadikan renungan. Jangan jadi rutinitas,” katanya.


Ali BD juga menekankan pentingnya diskusi mengenai persoalan umat secara terbuka dan konstruktif. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak seharusnya menghentikan tradisi berdiskusi mengenai hal-hal yang baik. “Jangan pernah berhenti untuk berdiskusi hal yang baik,” ujarnya.


Ali BD juga memberikan penekanan mengenai makna budaya. Menurutnya, tidak semua aktivitas yang diwariskan atau dilakukan masyarakat otomatis dapat disebut budaya. Sebuah tradisi harus memiliki nilai kebaikan dan tidak merugikan orang lain.


Ia mengambil contoh kesenian gendang beleq. Jika kesenian tersebut dimainkan di jalan hingga mengganggu dan merugikan pengguna jalan, maka perilaku tersebut menurutnya sudah keluar dari substansi budaya.


Ia berharap Ngaji Budaya terus menjadi ruang untuk mengkaji gagasan-gagasan yang baik sehingga tradisi masyarakat tidak hanya dipertahankan bentuk luarnya, tetapi juga dipahami nilai yang terkandung di dalamnya.


Menurut Ali, berbicara tentang Maulid pada dasarnya adalah berbicara tentang pencarian spirit. Spirit itu pula yang dibutuhkan Lombok Timur untuk melakukan kebangkitan.


Sementara itu, Sekretaris Yayasan Swadaya Membangun (YSM) Mataram, Dr. Karomi, mengatakan kegiatan Ngaji Budaya yang mengambil tema Maulid Nabi menghadirkan banyak perspektif dalam memahami peringatan kelahiran Rasulullah.


Menurutnya, terdapat perbedaan pandangan mengenai peringatan Maulid Nabi. Namun, ia melihat tradisi tersebut juga menjadi bagian dari ekspresi kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.


Dalam kegiatan tersebut, Pendiri Repok Literasi Muhir menjelaskan sosok Nabi Muhammad melalui tiga perspektif, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Dari perspektif ontologi, pembahasan diarahkan pada pertanyaan tentang hakikat Muhammad. Nabi Muhammad dipahami sebagai manusia yang menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya, termasuk menikah dan menjalani kehidupan duniawi.


Sementara dalam perspektif epistemologi, Muhammad ditempatkan sebagai bagian penting dalam pemahaman mengenai sebab dan keberadaan alam sebagaimana dijelaskan dalam khazanah keislaman.


Namun, menurutnya, pembahasan mengenai Nabi Muhammad tidak cukup berhenti pada teori maupun ceramah. “Implementasi teori jauh lebih penting dari sekadar ceramah di masjid,” ujarnya.


Sementara itu, TGH Abdul Latif menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW membawa risalah besar untuk menyatukan umat dan menegakkan ketauhidan kepada Allah SWT.


Menurutnya, perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan dakwah menghadapi berbagai tantangan. Nabi bahkan pernah ditawari kekuasaan, harta dan perempuan agar menghentikan dakwahnya. Namun, semua tawaran tersebut tidak membuat Rasulullah bergeming.


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H pun diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menghidupkan budaya berpikir, memperbanyak dialog yang sehat, serta menerapkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan masyarakat. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO