Giri Menang (Suara NTB) – Musim kemarau yang saat ini melanda daerah Lombok Barat (Lobar), tidak saja mengakibatkan kekeringan hingga krisis air bersih bagi belasan ribu penduduk. Namun, kekeringan juga mengakibatkan lahan pertanian warga terancam gagal panen. Kondisi tanaman layu akibat kekurangan air, bahkan beberapa areal tanaman petani mati mengering.
Pantauan media di Desa Tempos Kecamatan Gerung misalnya, lahan pertanian kering sehingga sebagian besar tanaman jagung tidak tumbuh bagus. Tanaman jagung terlihat layu hingga menguning, bahkan sebagian mati. Irigasi di areal pertanian itu tidak ada air sehingga petani tidak bisa menyuplai ke lahan pertaniannya.
Amak Faizi, warga Tempos Daye mengaku lahan tanaman jagungnya telah lama kekurangan air. “Tamanan jagung saya layu mau mati, karena air tidak ada,” aku Amak Faizi, ditemui di lokasi lahan garapannya, Senin (31/8/2026).
Ia menanam jagung di Dusun Tempos sebanyak enam petak seluas 3-4 are. Kondisi tanamannya saat ini layu karena tidak ada air. Sumur irigasi yang mau disedot pun tidak ada airnya karena kekeringan.
Petani di daerah itu pun hanya berharap dari air irigasi Bendungan Pengga. Namun, akibat rehabilitasi irigasi belum tuntas, air Bendungan pun belum bisa dialirkan ke jaringan irigasi lahan pertanian warga.
“Itu (jaringan Bendungan Pengga) yang kita harapkan, tapi belum jadi. Harapan kami segera selesai rehabilitasi,” harap dia.
Pihaknya berharap Pemkab dalam hal ini Dinas Pertanian turun memerhatikan para petani terdampak kekeringan ini, sebab ia sendiri khawatir dengan kondisi saat ini tanaman jagungnya gagal panen sehingga dipastikan petani mengalami kerugian.
Sementara itu, Kepala Desa Tempos, Sudirman mengakui dampak cuaca panas (kemarau) hampir 25 persen dari lahan pertanian warganya terancam gagal panen karena dampak kekeringan jika hujan tidak turun hingga September.
“Akibat cuaca panas ini, petani kita banyak yang terancam puso (gagal panen) karena kekeringan ini,” kata Sudirman.
Tanaman jagung petani mengalami kekurangan air, karena sumur-sumur di lahan pertanian warga kering. Ditambah lagi saluran irigasi dari Bendungan Pengga belum bisa mengalir airnya, karena masih pengerjaan rehabilitasi saluran irigasi.
“Jadinya belum bisa dimanfaatkan saluran ini, sedangkan air sumur irigasi sawah warga kering sehingga tidak bisa disedot pakai mesin pompa,” ujarnya.
Akibatnya tanaman warga pun mulai layu. Pihaknya pun khawatir sebagian lahan pertanian warga gagal panen. Diperkirakan mencapai sekitar 25 persen, dari luas areal pertanian 602 hektare.
“Sekitar 25 persen yang kemungkinan gagal panen yang jauh dari sungai karena tidak bisa menarik air lewat pompa,” ungkapnya.
Pihaknya berharap pengerjaan rehabilitasi saluran irigasi Bendungan Pengga secepatnya diselesaikan supaya warga bisa memanfaatkan air untuk irigasi pertanian, sehingga bisa mencegah gagal panen yang meluas di daerahnya.
Disebutkan, saluran irigasi yang direhab di desanya sepanjang 4 kilometer baik primer maupun sekunder. Jika ditotal panjang saluran Bendungan Pengga di sejumlah desa mencapai 7 kilometer.
Dengan kondisi ini pihaknya berharap agar OPD terkait aktif turun melihat dan membantu petani. Ia juga berharap agar bantuan sosial dari pemerintah seperti bantuan pangan segera disalurkan, supaya tidak terlalu berdampak pada masyarakat. Terlebih lagi kondisi ekonomi masyarakat saat ini lagi menurun.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Lobar, Muhamad Taufik mengatakan pihaknya sedang mendata lahan pertanian yang terdampak kekeringan. “Sedang didata oleh petugas POPT,” terangnya.
Lahan pertanian yang lokasinya dekat dengan sumber air, pihaknya berupaya membantu petani dengan pompa air. Para petani diberikan bantuan berupa pompa air 3 inch untuk wilayah-wilayah yang ada sumber airnya.
Pihaknya juga sedang mengupayakan memperbanyak pompa air untuk membantu petani. Selain itu, bantuan Irpom dari Pusat juga merupakan salah satu upaya pihaknya mengantisipasi terjadinya kekeringan di beberapa lokasi.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang disampaikan Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Lombok Barat, Toni Hidayat menyebutkan daerah yang terdampak kekeringan saat ini meluas hingga 62 Dusun, 16 Desa 6 kecamatan. “Jiwa yang terdampak 6.578 KK, 19337 jiwa,” sebutnya.
Sejauh ini pihaknya masih mengusulkan peningkatan status dari siaga ke darurat Bencana kekeringan untuk memaksimalkan penanganan. (her)


