Giri Menang (Suara NTB) – 160 hektare areal pertanian di Lombok Barat (Lobar) terancam gagal panen dampak kekeringan yang melanda beberapa bulan terakhir. Ditambah proyek rehabilitasi irigasi Bendungan Pengga di wilayah Lobar belum tuntas pengerjaan. Hal itu mengakibatkan suplai air ke irigasi pertanian pun terhambat.
Sekretaris Dinas Pertanian Lobar, Muhammad Taufik, S.P., M.Ling., menyebut data areal pertanian tanaman petani yang berpotensi terdampak sekitar 150 hektare di wilayah Tempos dan beberapa hektare di daerah lainnya. “Total sekitar 160 hektare yang berpotensi terdampak (terancam gagal panen),” sebut Taufik, Rabu (2/9/2026).
Selain Tempos, daerah yang berpotensi gagal panen berdasarkan pendataan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), yaitu Desa Banyu Urip, Kuripan Utara, Kuripan Timur, dan Sekotong.
Potensi gagal panen ini disebabkan tidak ada pasokan air irigasi dari Bendungan Pengga karena sedang perbaikan sungai di lokasi tersebut dari BWS. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan BWS untuk segera mengambil langkah untuk membantu petani terdampak proyek tersebut.
“Kalaupun kita bantu dengan mesin pompa air 3 inch tidak akan banyak membantu meng-cover areal tersebut. Kmi turun dengan BBSWS BWS untuk koordinasi di lapangan,” jelasnya.
Pihaknya meminta kepada pihak BBWS untuk turun ke lokasi. Dari hasil komunikasi pihaknya melalui telepon, bahwa sedang diupayakan suplai air di wilayah Tempos melalui irigasi Pesongoran. Tetapi irigasi Pesongoran sendiri masih ada kendala tersumbatnya saluran salah satu titik dan sudah dikerjakan seiak dua minggu yang lalu.
“Ini diharapkan dalam beberapa hari ini akan bisa disuplai ke wikayah yang kekeringan,” imbuhnya.
Sementara itu, dampak kemarau yang saat ini melanda daerah Lombok Barat mengakibatkan lahan pertanian warga di Tempos terancam gagal panen. Kepala Desa Tempos, Sudirman mengakui dampak kemarau hampir 25 persen dari lahan pertanian warganya terancam gagal panen jika hujan tidak turun hingga September.
“Sekitar 150 hektare lahan pertanian petani kita yang trancam puso (gagal panen) karena kekeringan ini,” sebut Sudirman.
Ditambah lagi saluran irigasi dari Bendungan Pengga belum bisa menyuplai lahan petani, karena masih pengerjaan rehabilitasi saluran irigasi. “Jadinya belum bisa dimanfaatkan saluran ini, sedangkan air sumur irigasi sawah warga kering sehingga tidak bisa disedot pakai mesin pompa,” ujarnya.
Disebutkan, saluran irigasi yang direhab di desanya sepanjang 4 kilometer baik primer maupun sekunder. Jika ditotal panjang saluran bendungan Pengga di sejumlah desa mencapai 7 kilometer. Pihaknya berharap pengerjaan rehabilitasi saluran irigasi bendungan Pengga secepatnya diselesaikan supaya warga bisa memanfaatkan air untuk irigasi pertanian, sehingga bisa mencegah gagal panen yang meluas di daerahnya. (her)


