Mataram (Suara NTB) – Gagasan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Lombok kembali mencuat di tengah persoalan krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah NTB. Salah satunya di kawasan pariwisata strategis nasional Gili Trawangan di Lombok Utara yang kini menghadapi keterbatasan pasokan air bersih, hingga mulai berdampak terhadap aktivitas pariwisata.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Provinsi NTB, Irnadi, mengatakan pihaknya belum memperoleh informasi terbaru mengenai kelanjutan rencana investasi SPAM Regional Lombok yang dulu.
“Saya belum melihat secara detail. Yang saya ketahui belum ada lanjutan,” kata Irnadi menjawab Suara NTB, Minggu, 6 September 2026.
Menurutnya, kemungkinan pembahasan investasi tersebut masih berlangsung di organisasi perangkat daerah (OPD) teknis. Karena itu, DPM-PTSP akan kembali mengecek perkembangan terakhir rencana tersebut.
“Kalau yang saya ketahui belum. Mungkin masih berproses di dinas teknis,” ujarnya.
Padahal, sebelumnya DPM-PTSP turut mengawal rencana investasi SPAM Regional Lombok tersebut. Rencana ini dinilai strategis karena ditujukan untuk memperkuat pemerataan pasokan air bersih antardaerah.
Irnadi mengatakan, membuka peluang apabila investasi tersebut kembali ditawarkan kepada investor. Terlebih, persoalan ketersediaan air bersih saat ini kembali menjadi perhatian, terutama di Lombok Utara.
“Kalau memang ada (investor) yang menjajaki, kenapa tidak?” katanya.
Ia menilai persoalan air bersih dapat menjadi salah satu peluang investasi yang perlu kembali dijajaki pemerintah daerah. Namun, terkait teknis dan kelanjutan proyek, pihaknya masih perlu berkoordinasi dengan OPD yang menangani sektor tersebut.
Berdasarkan arsip pemberitaan Suara NTB pada 2 Februari 2024, rencana SPAM Regional Lombok sebelumnya telah melalui tahapan studi kelayakan atau feasibility study (FS).
Proyek tersebut digarap sejak 2019 oleh emiten Grup Salim, PT Nusantara Infrastructure Tbk (META), melalui anak usahanya PT Potum Mundi Infranusantara bersama BUMD NTB, PT Gerbang NTB Emas (GNE).
Hasil FS menyatakan pembangunan SPAM Regional Lombok layak direalisasikan dengan estimasi kebutuhan investasi sekitar Rp400 miliar.
Proses FS sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 sejak 2020. Setelah kondisi kembali terkendali, PT Potum melanjutkan kajian tersebut hingga akhirnya hasilnya disampaikan kepada Pj. Gubernur NTB saat itu, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., pada 31 Januari 2024.
Direktur Utama PT GNE saat itu, Samsul Hadi, menyampaikan PT Potum menyatakan ketertarikannya untuk melanjutkan proyek tersebut.
“PT Potum sudah siap apapun skemanya. Mau KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha), atau business to business (B to B). Mereka juga siap berinvestasi sepenuhnya,” kata Samsul Hadi saat itu.
Berdasarkan hasil FS, investasi sekitar Rp400 miliar tersebut akan digunakan untuk membangun dan memperkuat infrastruktur pasokan air bersih ke Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram.
Jaringan yang dibangun investor nantinya akan dikoneksikan dengan jaringan atau intake PDAM di masing-masing kabupaten/kota untuk selanjutnya memasok air bersih ke masyarakat.
Sumber air yang direncanakan berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Meninting serta Mata Air Ranget di Sesaot, Narmada, Lombok Barat.
Saat itu, Pemprov NTB juga telah membentuk tim simpul KPBU yang melibatkan Dinas PUPR, Bappeda, dan Biro Administrasi Pimpinan untuk mengkaji skema kerja sama yang akan digunakan, apakah melalui KPBU atau B to B. (bul)



