Giri Menang (Suara NTB) – Petani tembakau di Lombok Barat (Lobar) sedang sumringah. Lantaran harga “emas putih” ini sedang bagus-bagusnya. Harga tembakau diperkirakan meningkat pada musim kemarau ini hingga 20 persen dibanding tahun lalu.
Peningkatan harga ini dipicu beberapa faktor, di antaranya petani yang menanam tidak terlalu banyak karena khawatir merugi dampak hujan seperti tahun lalu. Permintaan terhadap tembakau dari konsumen juga tinggi atau meningkat.
Ketua Poktan Bertekad Mau Maju Dusun Penarukan Daye, Ramilah mengatakan, harga tembakau di tingkat petani saat ini Rp60 ribu per satu tumpi dengan berat 0,75 Kilogram. “Naik harga tembakau, itu lumayan bagi kami,” katanya, Kamis (10/9/2026).
Dibanding tahun lalu, kenaikan harga tembakau mencapai 20 persen. Kenaikan harga disebabkan, petani yang menanam tembakau sedikit tidak seperti tahun lalu.
Tahun 2024 penanaman tembakau relatif lancar, sehingga produksi meningkat. Harga pun relatif mahal, tembakau hitam hingga Rp70 ribu per tumpi. Sedangkan kasturi harganya Rp55-60 ribu. Namun, ketika musim tanam 2025, banyak petani yang menanam. Namun, produksi anjlok karena cuaca yang tidak bersahabat.
“Nah sekarang ini tidak banyak yang menanam, dia kira seperti tahun lalu. Tahu-tahunya sekarang, belum dimasukkan ke plastik pengepul sudah antre mau mengambil,” katanya.
Tahun ini kalau khusus untuk tembakau kasturi (rokok), tidak seperti tahun 2025. Kalau tahun ini, tembakau kasturi permintaan dari konsumen tinggi.
Bahkan, begitu selesai dijemur, para pengepul sudah antre untuk membeli.
Para pengepul ini berasal dari daerah Paok Kambut dan Bengkel Lombok Barat. Mereka membeli ke petani dengan harga Rp60 ribu per tumpi tetapi dijual lebih tinggi hingga Rp100 ribu satu tumpinya. Diakui para petani tidak menjual tembakau ke perusahaan, karena belum ada mitra dengan perusahaan.
Selain itu, petani di daerah itu juga mengembangkan tembakau lokal seperti jenis kasturi dan layur besar (hitam), sedangkan untuk perusahaan mengembangkan jenis tembakau simporis. Di daerah itu, 80 persen menanam tembakau dari luas areal taman di daerah itu. Ada juga yang menanam padi dan jagung.
Hasil produksi total kalau dihitung satu hektare, dengan rata-rata berat tembakau hitam satu Tumpi 0,85 kilogram maka hasil panen mencapai sekitar 1 ton lebih. Ongkos produksi tanaman tembakau dalam satu hektar sebesar Rp15 juta.
Kalau dibanding dengan hasil produksi, untung yang diperoleh dalam satu periode tanam rata-rata dengan 20-25 are tembakau kasturi bisa mencapai Rp11-12 juta setelah dipotong biaya produksi. Namun, risiko rugi akibat cuaca hujan, petani bisa merugi lebih dari belasan juta.
Diakui, sejauh ini intervensi dari Dinas Pertanian sudah ada. Kendati perlu lebih ditingkatkan lagi.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Beriuk Kemos Dusun Telaga Lebur Desa Sekotong Tengah, Mahnun menyampaikan harga tembakau untuk tahun ini bagus. Tetapi kalau dihitung dengan mahalnya biaya perawatan masih belum layak atau sebanding.
“Harga jual rata-rata tahun ini Rp37 ribu per kilogram, tergantung kualitas tembakaunya,” ujarnya.
Terdapat kenaikan harga sekitar Rp7 ribu. Dikatakan, produksi tembakau kali ini lebih sedikit disebabkan cuaca terlalu panas. Dampaknya petani mengalami kekurangan air untuk menyiram tanaman tembakau. Jumlah petani yang menanam tembakau pun berkurang menjadi 10 orang dengan luasan 0,50 hektare. Petani setempat bermitra dengan PT Sadana Arif Nusa Lombok Timur, menanam varietas somporis.
Dalam pengembangan tanaman tembakau ini petani setempat mengalami kendala kurangnya fasilitas Alat Mesin Pertanian (Alsintan), sehingga biaya produksi petani semakin membengkak. Beberapa alat yang menjadi kendala dan dibutuhkan petani, seperti kultivator untuk mengurangi biaya pendangiran. Selain itu, sumur bor untuk pengairan tembakau di saat kemarau panjang seperti sekarang ini.
Petani juga tidak mendapatkan pupuk subsidi khusus untuk tanaman tembakau. “Jadi kami berharap mendapatkan pupuk subsidi,” harap dia.
Sejauh ini, intervensi yang sudah dilakukan Dinas Pertanian seperti pemberian pupuk dan obat-obatan, bibit tembakau lokal yang berkualitas dan peningkatan kapasitas bagi pengurus kelompok tani tembakau.
Sementara itu, Sekretaris Dinas pertanian Lobar Muhammad Taufik, S.P., M.Ling., menyebutkan luas areal tembakau pada tahun 2025 mencapai 814,22 hektar dengan produksi 1.040,82 ton. Rata-rata produksi sekitar 1,25 ton per hektare. “Areal tanaman tembakau ini tersebar di 23 desa di 5 kecamatan,” sebutnya.
Berbagai intervensi dilakukan pihak dinas, di antaranya memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan tembakau.
Seperti bibit tembakau berkualitas, pupuk dan pestisida, hand traktor roda dua, hand sprayer, kendaraaan roda tiga, alat perajang tembakau, para-para, kultivator, pembangunan gudang tembakau dan lainnya. Selain itu, dilakukan pendampingan pada petani yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian, PPL, tenaga ahli dari BRIN dan dari pihak swasta seperti PT Sadana Arif Nusa. (her)



