BerandaBUDAYA DAN HIBURANHasrat Berkuasa yang Merusak

Hasrat Berkuasa yang Merusak

KEKUASAAN memang selalu menggoda. Hampir setiap manusia ingin berkuasa. Entah atas makhluk lainnya juga atas sesama. Dalam bentangan sejarah keberhasilan Homo Sapiens (nenek moyang kita sendiri), mencapai puncak rantai makanan, salah satunya berkat kemampuan “menundukan” alam.

Namun, lihatlah sekarang. Bagaimana spesies yang dulu lemah itu, berubah menjadi makhluk penindas dan perusak bumi tempat tinggalnya sendiri.
Realita historis di atas menjadi sekelumit kisah yang diangkat Miguel Angel Asturias melalui buku “Si Lelaki yang Memiliki Semua-mua-muanya”. Buku karya penulis asal Guatemala, peraih Hadiah Nobel Kesusastraan pada 1967 ini diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Astrid Wasistyanti dan diterbitkan Marjin Kiri dengan terbitan pertama Agustus 2026.


Melalui novela setebal 79 halaman ini, Miguel berhasil menampakkan kita bagaimana hasrat manusia yang paling liar (rakus dan berkuasa) dengan cerita kocak sekaligus ironis. Pertama-tama lewat tokoh “Si Lelaki yang Memiliki Semua-mua-muanya” yang diberkati kekuatan ajaib. Mampu menarik segala benda logam: emas dan barang-barang berharga lainnya.


Lalu diikuti oleh manusia lain yang tergiur dengan kekuatan “Si Lelaki yang Memiliki Semua-mua-muanya” lalu memburunya agar dapat menguasai sebanyak-banyaknya harta berharga. Lewat premis konyol ini, Miguel membawa pembaca ke dalam petualangan yang sureal sekaligus filosofis.


Dengan gaya sureal, Miguel tidak hanya mampu menambah warna pada cerita. Tapi juga sanggup memberi ruang bagi makhluk yang selama ini dianggap pasif dan jadi objek belaka untuk hidup dan protes atas penindasan yang dialaminya. Realita kehidupan hewan macam kodok misalnya, yang harus bertahan hidup dalam bingkai negatif–dituduh jelmaan iblis hingga menyebar racun ke makanan–manusia. Akibatnya, kodok–dan barangkali hewan lain yang dilabeli stigma buruk–tak jarang menjadi korban manusia.


Selain hewan, pohon pun tidak lepas dari hasrat merusak manusia. Dalam novela ini, Miguel turut menyingkap topeng dan memperlihatkan wajah asli manusia yang bengis terhadap makhluk hidup lainnya. Dalam buku ini, watak keji tersebut direpresentasikan tokoh “Si Lelaki yang Memiliki Semua-mua-muanya“ dan pohon alpukat selaku korban.


Kemampuan membangun dunia imajiner lalu mengaitkannya dengan realitas kehidupan manusia agaknya dapat membuktikan kenapa penulis buku masyhur “El Senor Presidente” (Tuan Presiden) itu layak diganjar penghargaan tertinggi dalam dunia sastra.


Berkat kemampuan itu juga, novel ini dapat dibaca oleh berbagai kalangan usia. Khususnya, anak dan remaja. Cerita yang menggugah imaji dengan diksi yang membumi agaknya lebih mudah diterima anak-anak, tanpa menafikan realita kehidupan itu sendiri.


Lebih jauh lagi, buku ini memang bagian dari Pustaka Mekar, seri buku Marjin Kiri yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Karena itu, novela ini memang dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap kritis kaula muda atas persoalan sosial. Salah satunya, kepekaan terhadap sekitar.


Sebagai pembaca yang tidak lagi muda, saya pun berharap demikian. Anak-anak dan remaja memang mesti dibekali bacaan yang kritis dan menimbulkan empati sosial, baik terhadap manusia juga terhadap alam berikut mahluk di dalamnya.


Dengan membaca novela setipis buku tulis ini, serta buku sejenis, barangkali kita tidak akan khawatir, penerus bangsa ke depan terjerumus menjadi pejabat dan penguasa yang suka mengeksploitasi alam untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan mereka sendiri. (Sibawaeh)

Buku: Si Lelaki yang Memiliki Semua-mua-muanya
Nama Penulis: Miguel Angel Asturias
Tebal: 79 halaman
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: Agustus 2025
Penerjemah: Astrid Wasistyanti

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO