BerandaHEADLINEBBPOM Uji Sampel Makanan, Wali Murid SDN Beber Tolak Program MBG

BBPOM Uji Sampel Makanan, Wali Murid SDN Beber Tolak Program MBG

Mataram (Suara NTB) – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram melakukan uji laboratorium Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab keracunan massal di Lombok Tengah (Loteng). Uji lab ini untuk memastikan penyebab utama keracunan yang menimpa sekitar 352 siswa di Kecamatan Batukliang pada Jumat, 11 September 2026 lalu.


Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB), dr. Lalu Hamzi Fikri, mengatakan beberapa uji lab yang dilakukan seperti uji mikro, uji logam berat seperti timah hitam (PB), Kadmium (CD), Arsen, dan kandungan formalin.
“Ada boraksnya kah, ada rodaminnya kah,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.


Uji laboratorium ini akan keluar maksimal 30 hari. Namun, lanjutnya, diupayakan sebelum 30 haru, uji laboratorium tersebut sudah bisa keluar. Dia membeberkan, makanan yang dikonsumsi para siswa sebelum keracunan berupa kulit kebab, stik tempe, ayam, dan selada. Setelah mengkonsumsi itu, muncul gejala keracunan seperti mual, muntah, mulas, lemas, sesak nafas, dan diare.


“Kami terus pantau sampai pukul 16.00 Wita waktu itu. Dan terakhir pada jam 16.00 itu masih ada satu orang dirawat di puskesmas,” lanjutnya.


Menyinggung soal biaya pengobatan, mantan Direktur RSUD NTH itu menyebut pihaknya masih melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai pihak yang bertanggung jawab atas pembiayaan tersebut.


“Karena ada kasus yang emergensi, kita nggak bicara biaya dulu di situ. Tapi bicara life-saving, penyelamatan di situ,” katanya.


Kepala BBPOM Mataram, Yogi Abaso mengatakan sample tersebut masih dalam proses pengujian untuk mencari kandungan berbahaya, dalam makanan tersebut yang menyebabkan ratusan siswa mengalami keracunan.


“Lama pengujian maksimal 30 hari kerja, karena kami harus mencari penyebab kimia bahan berbahaya maupun logam berat dan mikrobiologi jenis-jenis mikroba yang menjadi penyebab keracunan,” katanya.


Yogi mengatakan lamanya proses tersebut disebabkan harus memastikan kandungan berbahaya dalam MBG tersebut, sehingga bisa mengganti penyebab utama para siswa mengalami keracunan.


“Mengapa cukup lama karena mencari logam-logam berat dan bahan berbahaya antara lain seperti Arsen, Timbal, Formalin, Boraks, Rhodamin B, E Colli dan lain-lain,” tambahnya.

Tolak Program MBG



Kasus dugaan keracunan masal Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa di lima sekolah di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah (Loteng) akhir pekan kemarin, berbuntut panjang. Para wali murid SDN Beber Kecamatan Batukliang bersepakat untuk menolak program MBG dilanjutkan kembali di sekolah setempat.


Mereka mengaku trauma dan khawatir kasus keracunan bakal kembali terjadi di kemudian hari, jika program tersebut dilanjutkan kembali.


“Pada Sabtu (12/9) kemarin, para wali murid sudah kumpul di sekolah dan bersepakat untuk menolak program MBG dilanjutkan di SDN Beber secara permanen,” ujar Ketua Komite SDN Beber Surya Darmawan, kepada awak media saat ditemui di SDN Beber, Senin (14/9).


Menurutnya, tidak ada jaminan kasus keracunan MBG tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang. Jadi dari pada para wali murid terus dibayangi kekhawatiran akan kasus keracunan terjadi kembali kepada pada, sehingga disepakati untuk menolak program MBG. Baik itu oleh dapur SPPG yang sama maupun dapur SPPG yang lain.


Ia mengatakan di SDN Beber sendiri ada 252 siswa yang tercatat sebagai penerima program MBG. Dari jumlah tersebut ada 226 siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi menu MBG pada Jumat (11/9).

Terbanyak dari empat sekolah lainnya yang juga mengalami hal yang sama.
“Bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya situasi saat itu. Ada ratusan siswa yang menangis menahan sakit setelah menyantap menu MBG. Ini yang benar-benar membuat kami orang trauma,” tegasnya.


Kalaupun memang pemerintah tetap ngotot mau melanjutkan program MBG di SDN Beber pada khususnya, pihaknya berharap bisa dikonvensi dalam bentuk yang lain. Apakah itu berupa bantuan tunai atau bentuk yang lain. Asal tidak lagi dalam bentuk pemberian makanan seperti sekarang ini. Kalau tetap dalam bentuk pemberian makanan, para wali akan tetap menolak.


Disinggung terkait komitmen pihak SPPG dan pemerintah untuk melakukan perbaikan menu, Surya menegaskan silakan dan sah-sah saja dilakukan. Tetapi hal itu tidak akan merubah sikap para wali murid. Ia justru mempertanyakan sikap tersebut. Menurutnya, kalau memang SPPG atau pemerintah mau memberikan menu terbaik bagi siswa, kenapa setelah ada kasus dugaan keracunan baru dilakukan. Kenapa tidak sejak awal ketika program MBG mulai berjalan.


Dikonfirmasi terpisah terkait penolakan wali murid tersebut, Kepala SDN Beber H. Muhtar, mengaku itu merupakan sikap para wali murid. Pihak sekolah tidak ikut mencampuri keputusan para wali. Dalam hal ini pihak sekolah hanya memfasilitasi saja. Jika memang program MBG tetap lanjut atau tidak, pihaknya tetap akan menjalankan apa yang sudah menjadi ketentuan. “Itu (penolakan program MBG) sepenuhnya keputusan wali murid. Kami pihak sekolah tidak ikut mencampuri,” jawabnya.

Bantah Telat Diberikan



Sementara itu sejumlah guru SDN Beber membantah tudingan kalau menu MBG telat diberikan kepada siswa jadi penyebab terjadinya dugaan keracunan makanan. Menurut Siti Aminah, salah satu guru menyebutkan, menu MBG diberikan kepada siswa seperti hari-hari biasa. Dari pihak dapur juga tidak menjelaskan kalau menu MBG harus diberikan sebelum pukul 09.00 wita. Begitu juga di ompreng MBG tidak ada keterangan yang menjelaskan atau mencantumkan masa kedaluwarsanya.


Sebelum kejadian, guru-guru tetap mengajar seperti biasa dan memberikan menu MBG seperti pada hari-hari sebelumnya. Bahkan, sebelum diberikan ke siswa menu MBG oleh para guru sempat cicipi.


“Jadi kalau ada yang mengatakan guru ada kegiatan lain sehingga terlambat memberikan menu MBG ke siswa, kami tegas itu tidak benar. Karena kegiatan pada hari ini berjalan seperti biasa. Tidak ada kegiatan lain yang bisa membuat menu MBG terlambat diberikan,” imbuhnya.


Ia mengungkapkan, menu MBG diberikan ke siswa sekitar pukul 09.00 Wita. Usai menyantap menu MBG, siswa kemudian istirahat dan keluar main. Baru sekitar pukul 10.00 Wita setelah siswa kembali ke kelas, satu demi satu siswa mengeluhkan gejala mual, sakit perut bahkan ada yang sampai muntah. (era/kir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO