Taliwang (Suara NTB) – Kepemimpinan tidak cukup hanya dengan memberi perintah. Kepala perangkat daerah harus mau belajar, memahami persoalan, membuka ruang terhadap masukan, serta memastikan apa yang diucapkan diwujudkan dalam tindakan. Demikian pesan itu disampaikan dua tokoh sepuh birokrasi Sumbawa, Drs. H. A. Latief Madjid, S.H., dan Drs. H. Jamaluddin Malik (JM), saat hadir dalam sesi dialog tokoh pada kegiatan retret kepemimpinan kepala perangkat daerah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) 2026.
Dialog bertema “Kepemimpinan, Integritas” tersebut mempertemukan pengalaman dua tokoh dengan para kepala perangkat daerah KSB. A. Latief Madjid merupakan Bupati Sumbawa periode 2000–2005. Sedangkan, Jamaluddin Malik merupakan Sekretaris Daerah pertama KSB yang kemudian menjabat Bupati Sumbawa periode 2005–2010.
Dalam kesempatan itu, Latief Madjid menceritakan kondisi birokrasi pada masa awal pengabdiannya ketika jumlah aparatur berpendidikan sarjana masih terbatas. Peningkatan kapasitas dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan sebelum aparatur menjalankan tugas pemerintahan.
“Kalau sekarang enak, perkembangan teknologi membuat pekerjaan pemerintahan lebih mudah. Tapi penekanan saya kemudahan tersebut harus diimbangi kemauan pemimpin untuk terus belajar,” cetusnya.
Ia menekankan, kepemimpinan harus ditunjukkan melalui kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Dan sebelum prinsip itu disampaikan kepada bawahan maupun masyarakat harus terlebih dahulu mampu diwujudkan dalam pekerjaan, termasuk dalam perencanaan dan pelaksanaan program pemerintahan.
Latief juga mengingatkan kepala OPD,agar tidak bekerja secara sektoral. Kata dia, pembangunan daerah membutuhkan kerja sama antardinas, instansi, dan masyarakat. “Kepala dinas tidak hanya perlu memahami tugasnya, tetapi juga menguasai visi dan misi pembangunan daerah agar kebijakan dan penggunaan sumber daya pemerintah bergerak dalam arah yang sama,” tandasnya.
Sementara itu, Jamaluddin Malik menekankan bahwa pekerjaan pemerintahan harus dilaksanakan dengan niat pengabdian dan tanggung jawab. Dengan sumber daya yang terbatas, setiap perangkat daerah dituntut mampu mengelolanya secara efektif dan efisien.
“Intinya kita harus kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas,” saran JM sapaan akrab Jamaluddin Malik.
Sekda KSB sekaligus Ketua Panitia Retret, Hairul menjelaskan sesi dialog tokoh ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman pemerintahan masa lalu dengan tantangan birokrasi KSB saat ini. Pesan yang disampaikan kedua tokoh diharapkan akan menempatkan kepemimpinan bukan semata soal kewenangan, melainkan juga keteladanan, kemauan belajar, tanggung jawab, kemampuan berkolaborasi serta kesungguhan menyelesaikan setiap amanah pemerintahan. (bug)



