Mataram (Suara NTB) – Partisipasi siswa pada pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Peningkatan itu menjadi modal bagus untuk memotret kualitas akademik siswa sekaligus ekosistem pendidikan di NTB.
Berdasarkan data terbaru dari laman TKA Kemendikdasmen, jumlah pendaftar TKA 2026 jenjang SMA mencapai 35.438 orang dari 40.336 calon pendaftar atau 87 persen. Jumlah itu lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya 31 ribu siswa atau sekitar 80 persen.
Sementara pada jenjang MA sebanyak 19.985 siswa dari 21.982 total calon peserta atau 90 persen. Sedangkan, TKA 2025, partisipan MA hanya 14.365 siswa dari 19.834 pendaftar atau 72,43 persen.
Menurut Koordinator TKA, Dikpora NTB, Lalu Aksa Suhendra bahwa peningkatan ini menjadi angin segar bagi pemerintah untuk mengevaluasi serta memetakan ekosistem pendidikan di NTB. Pasalnya, TKA bertujuan untuk mengukur capaian akademik siswa sekaligus sebagai wajah pendidikan di daerah.
“Mudah-mudahan ini menjadi indikasi satuan pendidikan/guru/murid jenjang SMK/SMA/MA sederajat memiliki kesadaran dan kepedulian akan pentingnya TKA-AN sebagai instrumen untuk melihat dan memotret kualitas pelaksanaan pendidikan baik kompetensi akademik murid dan rapor pendidikan satuan pendidikan,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa (29/9).
Di samping itu, kondisi ini juga dapat menjadi gambaran meningkatnya minat peserta didik yang berencana ikut SMBP (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri Jalur Prestasi). Kata dia, hasil TKA merupakan instrumen validasi dan syarat mengikuti SNBP PTN.
Ia mengakui bahwa sebagian siswa tidak ikut TKA tahun ini. Padahal tes tersebut merupakan bagian penting dalam upaya mengevaluasi serta memahami persoalan pendidikan yang dialami sekolah. TKA tahun ini akan terintegrasi dengan pelaksanaan Asesmen Nasional (AN). Artinya, asesmen bertujuan untuk melihat ekosistem pembelajaran di sekolah. Kondisi ini tetap perlu menjadi atensi pemerintah agar keikutsertaan TKA ke depan dapat lebih maksimal.
Aksa menerangkan, ketidakikutsertaan sejumlah siswa pada TKA dapat dilihat dari sejumlah faktor. Pertama, TKA memang tidak bersifat wajib. Artinya, murid bisa memilih untuk ikut dan tidak sesuai kebutuhan dan minat masa depannya.
Kedua, terkendala teknis. Menurut Aksa, beberapa siswa masih terkendala Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang invalid atau residu. Alhasil, data tidak dapat ditarik ke sistem. “Tapi tahun ini yang NISN tidak valid/residu tetap bisa ikut TKA tapi sambil diselesaikan validitas datanya,” tuturnya.
Sementara terkait integrasi dengan AN, Aksa menyampaikan tetap bisa terlaksana meskipun tidak semua siswa dalam satu sekolah tidak ikut TKA. Pelaksanaan AN hanya memakai skema sampling.Artinya, dalam satu kelas boleh diwakilkan oleh 45 orang siswa. Namun, akan menjadi masalah jika tidak memenuhi syarat persentase.
Kesulitan Jawab Soal
Di satu sisi, pelaksanaan tes kompetensi akademik tidak mesti berjalan mulus. Siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) kesulitan menjawab soal. Hal ini dipengaruhi soal yang panjang serta dianggap rumit.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala SLB Negeri (SLBN) 2 Mataram, Nurlaeli Ekawati mengkhawatirkan pelaksanaan TKA tahun ini akan memakai soal reguler atau soal yang ditujukan untuk siswa jenjang SMA/SMK sederajat. Padahal, soal reguler menurutnya tidak cocok untuk siswa SLB dengan segala keterbatasan mereka.
“Jadinya kita agak kesulitan,” ujar Nurlaeli.
Nurlaeli mengungkapkan, siswa-siswinya keteteran menjawab soal-soal tersebut. Kesulitan tersebut akhirnya berpengaruh kepada hasil TKA yang didapatkan siswa,termasuk hasil rapor sekolah.
Meskipun soal TKA belum keluar, tetapi kisi-kisi soal TKA telah diperoleh sekolah. Kisi-kisi ini menggambarkan bahwa soal itu mirip atau sama seperti tahun lalu.
Menurutnya, soal mesti disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Terutama siswa yang memiliki hambatan. “Harapan kita sesuai dengan kemampuan peserta didik,” pungkasnya.
Sementara itu, Pemerhati Pendidikan dari Universitas Mataram (Unram), Dr. Sirajul Hadi, menegaskan soal TKA untuk sekolah reguler dan SLB semestinya dibedakan. Mengingat kondisi serta kemampuan mereka berbeda dengan siswa pada umumnya.
Ia berpandangan perbedaan juga harus melihat sejumlah aspek. Antara lain, sisi instrumen tes yang materinya juga harus disesuaikan dengan peserta didik di SLB yang kita tahu bersama, memiliki keadaan dan kebutuhan yang berbeda.
Selanjutnya, pertimbangan waktu. Untuk siswa SLB, waktu pengerjaan tes atau soal TKA, benar-benar memperhatikan aspek tidak saja fisik, tetapi juga psikis peserta didik. Menurutnya, harus ada sekema waktu yang lebih feleksibel bagi mereka, sehingga tidak menjadi beban secara psikologis. (sib)



