Mataram (Suara NTB) — Perubahan zaman menuntut sekolah untuk terus berinovasi mengajak murid untuk dibiasakan bertanya, mengamati, mencoba, menciptakan, memecahkan persoalan, dan menemukan hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan kehidupan nyata.
Semangat itulah yang menjadi salah satu pijakan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam menyelenggarakan Pelatihan STEM bagi Pendidik Jenjang SMA/SMK Tahun 2026.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTB, Dr. Wirman Kasmayadi, S.Pd., M.Si., menyampaikan, pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi pendidik sekaligus mempersiapkan murid menghadapi tantangan pendidikan modern. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) dalam pembelajaran yang mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, serta pemecahan masalah nyata secara lintas disiplin.

Bagi dunia pendidikan, STEM bukan semata-mata tentang menghadirkan teknologi ke dalam kelas. Lebih jauh, pendekatan ini membuka ruang bagi guru untuk mengubah cara belajar: dari pembelajaran yang berpusat pada penyampaian materi menuju pengalaman belajar yang memungkinkan murid berhadapan langsung dengan persoalan dan mencari solusi melalui proses ilmiah, rekayasa, teknologi, dan matematika.
Guru Belajar Kembali Menjadi Perancang Pengalaman Belajar
Pelatihan BGTK NTB ini berlangsung secara bertahap. Setelah orientasi pelatihan pada 18 September 2026, peserta menjalani pelatihan mandiri pada 19–22 September beberapa waktu yang lalu, dilanjutkan pelatihan daring terbimbing pada 23–24 September, kemudian pelatihan luring pada 27–30 September 2026 yang baru saja usai di Gedung Disiplin BGTK NTB. Tahapan berikutnya berupa On the Job Training (OJT) implementasi pada Oktober, refleksi OJT pada minggu pertama November, serta diseminasi dan gelar karya pada November 2026 mendatang.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan tidak berhenti pada kegiatan tatap muka. Pengetahuan yang diperoleh peserta diarahkan untuk dibawa kembali ke sekolah, diuji melalui praktik pembelajaran, direfleksikan, kemudian dibagikan melalui kegiatan diseminasi dan gelar karya.

Guru tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi pelatihan. Guru didorong untuk menjadi perancang, pelaksana, penguji, sekaligus reflektor atas pengalaman belajar yang mereka bangun bersama murid.
42 Pendidik dari Berbagai Wilayah NTB
Pelatihan ini mempertemukan pendidik dari berbagai SMA dan SMK di Nusa Tenggara Barat. Dalam daftar peserta, tercatat pendidik dari Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Dompu, Kota Bima, hingga Kabupaten Bima.
Keragaman asal sekolah tersebut menjadi bagian penting dari proses belajar. Tantangan pendidikan di setiap wilayah memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, perjumpaan antarguru dapat menjadi ruang pertukaran pengalaman: bagaimana sebuah persoalan lokal dapat diterjemahkan menjadi pengalaman belajar, bagaimana sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan, dan bagaimana murid dapat dilibatkan dalam menemukan solusi.

Dari SMAN 1 Narmada, misalnya, tercatat tiga pendidik sebagai peserta, yakni Habiburrahman, S.Pd., M.Pd., Ismail, S.Pd., M.Pd., dan Mei Hartiwi, S.Pd.
Keterlibatan pendidik dari berbagai satuan pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan STEM tidak diarahkan hanya untuk sekolah tertentu, tetapi menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi pendidik SMA/SMK di NTB.
Enam Formula untuk Membawa STEM Lebih Dekat ke Kelas
Menariknya, pelatihan BGTK NTB menggunakan rangkaian formula yang diberi nama Formula 0 hingga Formula 5.
Formula 0 merupakan Orientasi Belajar, Formula 1 adalah STEM 5M, Formula 2 DNA STEM, Formula 3 Kreasi STEM, Formula 4 Jejak STEM, dan Formula 5 Wahana STEM.
Formula tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam aktivitas pelatihan yang tidak hanya berupa penyampaian materi. Dalam jadwal pelatihan daring, peserta mengikuti fasilitasi peer teaching, Formula 0, Formula 1, dan Formula 2. Sementara pada pelatihan luring, peserta memasuki Formula 3, persiapan dan pelaksanaan peer teaching, Formula 4, refleksi dan rencana tindak lanjut, hingga Formula 5 dan tugas mandiri.

Pola seperti ini memberikan pesan penting: pembelajaran STEM perlu dialami terlebih dahulu oleh guru sebelum dikembangkan menjadi pengalaman belajar bagi murid.
Guru tidak cukup hanya mengetahui definisi STEM. Guru perlu mengalami bagaimana sebuah persoalan dirumuskan, bagaimana ide dikembangkan, bagaimana solusi dirancang, bagaimana proses diuji, dan bagaimana hasilnya direfleksikan.
Dari Pelatihan Menuju Perubahan di Sekolah
Tahapan OJT yang dijadwalkan pada Oktober 2026 menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut. Pada fase ini, pengalaman yang diperoleh guru selama pelatihan akan dibawa ke konteks sekolah melalui implementasi pembelajaran. Setelah itu, peserta memasuki tahap refleksi dan diseminasi.
Di sinilah ukuran keberhasilan pelatihan pada akhirnya tidak hanya terletak pada selesainya kegiatan atau diperolehnya pengalaman peserta selama pelatihan.
Ukuran yang lebih substantif adalah apa yang terjadi setelah guru kembali ke sekolah.
Apakah murid memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan mereka?
Apakah mereka diberi kesempatan untuk mengidentifikasi masalah?
Apakah mereka belajar menggunakan pengetahuan dari berbagai bidang untuk memahami persoalan?
Dan yang tidak kalah penting, apakah mereka diberi ruang untuk menciptakan solusi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika pendidikan tidak lagi cukup dipahami sebagai proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid.
STEM sebagai Jembatan Antara Sekolah dan Kehidupan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui BGTK Provinsi NTB menempatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan pemecahan masalah nyata secara lintas disiplin sebagai bagian dari alasan penyelenggaraan pelatihan STEM.
Kerangka tersebut membuka kemungkinan bagi sekolah untuk menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
Persoalan sampah, energi, air, lingkungan, ekonomi keluarga, tata ruang, pangan, kesehatan lingkungan, teknologi sederhana, hingga berbagai persoalan sosial dapat menjadi pintu masuk pembelajaran ketika guru mampu menghubungkannya dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran.
Dengan cara demikian, batas antara “materi pelajaran” dan “persoalan kehidupan” menjadi semakin cair.

Matematika tidak hanya berbicara tentang angka. Sains tidak hanya berhenti pada teori. Teknologi tidak hanya berarti menggunakan perangkat digital. Enjinering tidak hanya tentang membuat benda.
Keempat unsur tersebut dapat bertemu ketika murid berhadapan dengan persoalan nyata dan diminta mencari jalan keluar melalui proses yang terstruktur.
Menunggu Jejak Berikutnya di Ruang Kelas
Pelatihan STEM BGTK NTB 2026 meningalkan setengah cerita tentang empat hari kegiatan luring di Mataram. Ia merupakan bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Mulai dari orientasi, belajar mandiri, pelatihan daring maupun luring, praktik, implementasi di sekolah, refleksi, hingga diseminasi dan gelar karya.
Pelatihan kali ini bahkan telah menempatkan OJT, refleksi, serta diseminasi sebagai tahapan lanjutan yang akan dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Dari sana, tantangan berikutnya berada di sekolah. Di ruang kelas. Di hadapan murid.
Sebab, kebermaknaan STEM harus berlanjut untum terus berproses hingga seberapa jauh pendekatan tersebut mampu mengubah pengalaman belajar murid dari sekadar mengetahui menjadi memahami, dari memahami menjadi mencoba, dan dari mencoba menjadi mampu menciptakan solusi bagi persoalan nyata di sekitarnya. Dan perjalanan itu, baru saja dimulai. (r)



