BerandaNTBLOMBOK TIMURKehilangan Pembeli, Rencana Ekspor 92 Ton Cip Porang Lotim ke China Tertunda

Kehilangan Pembeli, Rencana Ekspor 92 Ton Cip Porang Lotim ke China Tertunda

Selong (Suara NTB) – Rencana ekspor perdana cip porang asal Kabupaten Lombok Timur (Lotim) ke China kembali menemui hambatan. Sebanyak empat kontainer dengan total kapasitas 92 ton cip porang yang telah lama disiapkan belum dapat diberangkatkan karena kehilangan pembeli atau buyer.


Kepala Dinas Perindustrian Lotim, Lalu Alwan Wijaya, menjawab Suara NTB, mengungkapkan bahwa buyer yang sebelumnya berkomitmen membeli produk tersebut memilih untuk mengambil pasokan dari tempat lain. Dugaan kuat mengarah pada persaingan bisnis yang membuat proses birokrasi perizinan menjadi terhambat.


“Izin ekspor porang sudah ada. Hanya saja buyer di China sudah beli di tempat lain. Namanya usaha, tidak bisa kita tentukan,” kata Alwan.


Sebanyak empat kontainer dengan kapasitas 23 ton per kontainer atau total 92 ton cip porang kini tersimpan di sentra industri porang di Pringgabaya. Produk tersebut telah dipastikan dalam kondisi terjaga dan kualitasnya tetap terjamin, dengan pengecekan yang dilakukan secara berkala.


“Barang kita pastikan tetap terjaga. Dicek setiap saat. Kualitas tetap terjaga,” ujar Alwan. Ia menegaskan bahwa stok tersebut mampu bertahan setidaknya satu musim.


Alwan menjelaskan, izin dari Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) sebagai syarat utama ekspor telah terpenuhi. Proses perizinan di Jakarta sebelumnya telah melalui pemeriksaan ketat, terutama untuk memenuhi standar ekspor ke China. Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan (BKTH) di Lembar, Lombok Barat, menjadi lokasi pemenuhan prasyarat tersebut.


“Syarat sudah terpenuhi di Jakarta sebelumnya, di Lembar. Jakarta banyak yang antre, sehingga Bupati bersurat ke sana,” jelas Alwan.


Ia menambahkan bahwa unsur-unsur yang dicek sangat ketat, terutama untuk tujuan China, sehingga pihaknya serius memenuhi seluruh persyaratan.
Saat ini, PT Sanindo Pangan Rinjani dan Pemkab Lotim tengah menjajaki buyer pengganti. Calon pembeli harapanya segera dapat ditemui, sampel telah dikirim, dan negosiasi harga telah dilakukan.


Terkait kapasitas produksi, Alwan menyebutkan, pabrik mampu langsung mengolah bahan baku sesuai permintaan. Untuk produksi tepung, pihaknya siap memfasilitasi apabila ada permintaan. “Tepung hanya untuk kebutuhan uji coba. Tidak diproduksi masif. Kecuali minta tepung, kita siap buat tepung,” katanya.


Ia menekankan bahwa seluruh kegiatan operasional dijalankan oleh pihak ketiga, yakni PT Sanindo Pangan Rinjani, sementara pemerintah hanya memfasilitasi proses perizinan ekspor.


Kendala lain yang dihadapi adalah tidak adanya bahan baku umbi porang yang siap panen saat ini. Alwan menjelaskan bahwa saat ini telah memasuki masa tanam, sehingga tidak ada umbi yang bisa dipanen. “Kalau pun ada, tidak mungkin sampai 50–80 ton kebutuhan sentra. Sekarang sudah mulai penanaman,” paparnya.


Setidaknya dibutuhkan satu musim tanam sebelum panen berikutnya, yang diperkirakan jatuh sekitar Maret hingga April tahun depan. Rencana penanaman ke depan akan menggunakan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).


Hingga saat ini, Lotim sebenarnya telah mencatat pemasukan sebesar Rp176 juta pada akhir Mei dari ekspor sebanyak 8,8 ton cip porang.
Pemerintah Kabupaten Lotim berharap buyer pengganti dari China segera memberikan kepastian waktu pembelian, sehingga empat kontainer chip porang yang telah lama tersimpan dapat segera diberangkatkan. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO