Praya (Suara NTB) – Pembalap Spanyol, Maximo Quiles, meraih kemenangan di kelas Moto3 pada ajang balap MotoGP di Sirkuit Mandalika, Minggu, 11 Oktober 2026. Kemenangan diraih melalui balapan yang tidak mudah. Quiles mengaku sempat gugup ketika para rival mulai mendekat dan menekan posisinya.
Pembalap CFMOTO Gaviota Aspar Team ini usai balapan mengemukakan, tantangan terbesarnya adalah mempertahankan konsentrasi ketika berada sendirian di depan. Dalam situasi ini, ia harus menjaga ritme balapan sekaligus memastikan tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat posisinya terancam.
Quiles mengungkapkan, ia sempat melebar di tikungan. Situasi itu membuatnya gugup, terlebih para pembalap di belakangnya terus mendekat dengan kecepatan tinggi.
“Balapan ini sangat sulit. Saya menjalani banyak putaran sendirian dan berusaha tidak melakukan kesalahan. Ketika saya melebar, saya mulai gugup karena mereka datang dengan sangat cepat,” ungkapnya.
Meski menghadapi tekanan, pembalap kelahiran Murcia, Spanyol, 19 Maret 2008, ini mampu menjaga fokus hingga menyelesaikan balapan sebagai pemenang.
Ia menilai kecepatan yang ditunjukkannya dalam sesi latihan bebas menjadi salah satu modal penting. Dari sesi itu, ia merasa memiliki ritme yang cukup kuat untuk bersaing dan berpeluang meraih hasil terbaik.
“Saya tahu jika bisa mengerahkan 100 persen kemampuan dan memberikan semua yang saya miliki, saya bisa menjalani balapan dengan baik,” ujarnya.
Quiles juga menekankan pentingnya kesabaran. Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan ketika tekanan meningkat. Baginya, menjaga ketenangan dan membaca situasi balapan menjadi bagian penting untuk mempertahankan peluang meraih kemenangan.
Kemenangan di Mandalika terasa berbeda bagi Quiles karena tekanan yang dihadapinya lebih besar dibandingkan balapan biasa. Namun, ia berusaha mengelola tekanan tersebut dengan mengubah cara pandangnya.
Ia memilih memperlakukan balapan itu seperti kesempatan lain untuk menang, bukan sebagai beban yang harus mengganggu konsentrasinya.
Menurut Quiles, rasa gugup merupakan bagian dari persaingan. Hal terpenting adalah bagaimana seorang pembalap mengendalikan perasaan tersebut agar tidak memengaruhi keputusan saat berada di lintasan.
Ia juga menyadari persaingan sepanjang musim tidak mudah. Sejumlah rivalnya terus menunjukkan perkembangan dan kecepatan yang semakin kompetitif.
Karena itu, Quiles memilih tidak terlalu memikirkan performa pembalap lain. Ia lebih berkonsentrasi pada peningkatan kemampuan sendiri dan berusaha menjalani setiap balapan sebaik mungkin.
“Saya tahu persaingan akan sulit hingga akhir musim. Namun, saya hanya fokus pada diri sendiri dan ternyata itu berhasil,” menjadi inti pernyataannya.
Meski berhasil meraih kemenangan di Sirkuit Mandalika, Quiles tidak ingin terlena dengan hasil. Ia menegaskan akan mempertahankan mentalitas yang sama untuk menghadapi balapan-balapan berikutnya.
Baginya, setiap seri merupakan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki kekurangan. Ia ingin tetap mengerahkan kemampuan terbaiknya tanpa kehilangan fokus pada perjalanan musim ini.
Quiles juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada tim dan orang-orang yang telah membantunya berkembang sebagai pembalap. Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga pembentukan mentalitas dalam menghadapi tekanan persaingan.
Ia menilai proses perkembangan itu sangat berarti karena membantunya menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika harus berjuang keras di lintasan.
Kemenangan di Sirkuit Mandalika pun menjadi hasil penting bagi pembalap muda Spanyol ini. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan berikutnya tetap membutuhkan kerja keras, konsentrasi, dan komitmen untuk memberikan kemampuan terbaik. (bul)



