Mataram (Suara NTB) – Tumpukan sampah yang mengendap di aliran Sungai Unus, tepatnya di kawasan Pesongoran, Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram, menjadi perhatian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram. Sebanyak 150 petugas lapangan dikerahkan untuk membersihkan sampah yang menumpuk di sejumlah titik sungai tersebut sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan.
Penumpukan sampah diduga terjadi akibat kiriman dari wilayah hulu yang terbawa aliran sungai. Namun, saat debit air menurun akibat cuaca panas pada musim kemarau, sampah tersebut tidak lagi terbawa arus dan akhirnya mengendap di saluran sungai.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan tumpukan sampah di Sungai Unus berasal dari sejumlah kali kecil dan saluran besar yang terhubung dengan aliran sungai tersebut. Sampah yang terbawa aliran air dari berbagai saluran itu kemudian berkumpul di titik-titik tertentu ketika arus melemah.
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan sampah terlihat menumpuk ketika debit air sungai menyusut. Sampah yang sebelumnya terbawa arus akhirnya tertinggal di saluran dan perlu dibersihkan agar tidak menimbulkan persoalan ketika debit air kembali meningkat.
“Memang di sana saja tempat menumpuknya sampah saluran ini banyak sekali. Aliran Sungai Unus awalnya dari Bertais dan beberapa kali kecil, termasuk saluran kali besar di sebelah timur Jalan AA Gede Ngurah,” ujarnya, Selasa (13/10).
Lale menjelaskan, pembersihan dilakukan dengan mengerahkan sekitar 150 petugas lapangan. Personel tersebut dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempercepat penanganan tumpukan sampah di sepanjang titik yang menjadi sasaran pembersihan.
Sebagian petugas bertugas mengangkat sampah dari saluran ke permukaan, sedangkan petugas lainnya melakukan pengangkutan. Sampah yang telah diangkat perlu melalui proses pengeringan sebelum ditangani lebih lanjut.
Menurut Lale, proses tersebut membutuhkan waktu karena sampah yang mengendap tidak dapat langsung diangkat dan diangkut sekaligus. Karena itu, pembersihan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.
Ia menegaskan, penanganan sampah di Sungai Unus menjadi prioritas PUPR Kota Mataram saat ini. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan sampah kembali terbawa arus dan menghambat aliran sungai ketika hujan mulai turun.
Peningkatan debit air saat musim hujan dikhawatirkan mendorong sampah yang sebelumnya mengendap bergerak mengikuti arus dan berkumpul di bagian saluran tertentu. Karena itu, pembersihan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi potensi gangguan aliran air akibat penumpukan sampah.
Meski demikian, konsentrasi petugas di Sungai Unus membuat penanganan di sungai-sungai lain untuk sementara belum dapat dilakukan secara bersamaan. PUPR Kota Mataram memilih memusatkan sumber daya yang tersedia untuk menangani titik penumpukan sampah di kawasan tersebut.
“Sementara ini, sungai yang lain saya tinggalkan karena kita konsentrasi di Sungai Unus,” katanya.
Terkait volume sampah yang menumpuk, Lale mengaku belum dapat memastikan jumlahnya. Hal ini karena proses pembersihan masih berlangsung dan sampah harus diangkat terlebih dahulu dari saluran sebelum dapat ditangani lebih lanjut.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh tumpukan sampah tidak dapat dibersihkan dalam waktu satu hari. Proses pengangkatan, pengeringan, hingga pengangkutan membutuhkan tahapan agar penanganan dapat dilakukan secara optimal.
“Intinya tidak bisa terangkat dalam waktu sehari. Butuh proses, sampah diangkat dari permukaan air kemudian dikeringkan,” pungkasnya. (pan)



