Dompu (Suara NTB) – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bima dan Dompu masih perlu diwaspadai. Meski dalam dua hari terakhir tidak terpantau titik panas atau hotspot di kawasan Taman Nasional (TN) Tambora, tingkat kerawanan kebakaran di wilayah tersebut masih tergolong tinggi hingga sangat tinggi.
Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, M.Si., Senin (19/10) mengatakan, berdasarkan pemantauan selama dua hari terakhir, tidak ditemukan titik panas di kawasan TN Tambora dan sekitarnya. “Sejak kemarin dan hari ini tidak terpantau ada hotspot di kawasan TN Tambora,” kata Abdul Azis Bakry.
Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran. Berdasarkan pemodelan Fire Weather Index (FWI) SPARTAN BMKG pada 19 Oktober 2026, tingkat risiko kebakaran di wilayah Bima dan Dompu masih berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Kabupaten Bima dan Kota Bima masuk kategori sangat tinggi, sedangkan Kabupaten Dompu berada pada kategori tinggi.
Ancaman tersebut diperkuat kondisi kekeringan ekstrem yang masih melanda wilayah Bima dan Dompu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang mencapai 145 hari di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, dengan kategori ekstrem.
Dalam periode 24 jam terakhir, satelit Terra/Aqua/NOAA-20 juga mendeteksi 134 titik panas di wilayah Bima dan Dompu. Sebanyak 109 titik berada di Kabupaten Bima, 21 titik di Kabupaten Dompu, dan empat titik di Kota Bima.
Berdasarkan rilis BMKG masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan, semak belukar, maupun sampah di area terbuka. Imbauan ini terutama ditujukan pada kawasan savana dan ladang kering yang vegetasinya sangat mudah terbakar akibat kondisi cuaca kering berkepanjangan.
Sementara itu, kondisi udara di wilayah Dompu dalam beberapa waktu terakhir terlihat dipenuhi asap. Asap tersebut diduga berasal dari aktivitas pembakaran lahan oleh petani yang sedang menyiapkan lahan menjelang masa tanam.
Selain mengganggu kenyamanan, kondisi tersebut membuat udara terasa semakin panas. Di tengah kekeringan yang masih berlangsung dan tingginya indeks risiko kebakaran, aktivitas pembakaran terbuka berpotensi memperbesar ancaman kebakaran lahan apabila api tidak terkendali.
Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan serta menghindari pembakaran terbuka, khususnya di kawasan yang memiliki vegetasi kering. Kewaspadaan bersama diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas dan melindungi kawasan hutan, lahan pertanian, serta lingkungan permukiman. (ula)



