ANGGOTA Komisi III DPRD Kota Mataram, Hj. Shinta Primasari, S.T., meminta Pemkot Mataram melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mengevaluasi pelaksanaan proyek TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) di Kebon Talo. Hal ini menyusul progres pekerjaan yang dilaporkan baru mencapai 17 persen, meskipun anggaran telah tersedia dan waktu penyelesaian semakin terbatas.
Shinta menilai, capaian tersebut perlu menjadi perhatian serius agar pelaksanaan proyek tidak terus mengalami keterlambatan. Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk mengetahui penyebab rendahnya progres sekaligus merumuskan langkah percepatan pekerjaan.
“Jangan sampai molor terus, sedangkan anggarannya sudah tersedia. Kalau tahun-tahun sebelumnya kendalanya hujan, sekarang kondisi cuaca relatif kering,” ujarnya kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Seloasa (20/10).
Ia mengaku belum mendengar secara langsung pemaparan lengkap dari pihak pelaksana mengenai faktor yang menghambat pekerjaan. Namun, menurutnya, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) diduga menjadi salah satu penyebab lambatnya progres proyek tersebut.
Selain persoalan tenaga kerja, Shinta memperkirakan kenaikan harga material bangunan dan biaya operasional turut memengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Kenaikan harga semen, peralatan, serta biaya tenaga kerja akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi membuat perencanaan anggaran awal perlu disesuaikan.
“Kalau dulu mungkin kendalanya hanya hujan. Sekarang faktor eksternal dan internal, termasuk kenaikan harga, bisa menjadi pemicu keterlambatan,” kata Ketua Fraksi Partai Demokrat ini.
Meski demikian, ia berharap pemerintah dan pelaksana proyek segera mencari solusi agar pekerjaan dapat dikebut sebelum memasuki musim hujan. Keberadaan fasilitas pengolahan sampah tersebut dinilai penting untuk mendukung penanganan persoalan sampah di Kota Mataram.
Shinta berharap progres pekerjaan meningkat signifikan hingga akhir Desember. Jika target penyelesaian 100 persen sulit tercapai, ia meminta setidaknya ada peningkatan progres yang jauh lebih besar dibandingkan capaian saat ini.
“Kalau belum bisa 100 persen, bagaimana supaya bisa mencapai 50 persen? Yang penting pekerjaan ini bisa segera memberikan manfaat dan sampah masyarakat dapat dikelola dengan lebih baik,” tegasnya.
Di sisi lain, orang nomor satu di DPC Partai Demokrat Kota Mataram ini mengapresiasi upaya Pemkot Mataram memberikan dukungan kepada kecamatan sebagai salah satu alternatif penanganan sampah selama proyek belum optimal. Dukungan tersebut diharapkan membantu mengurangi persoalan sampah sekaligus menjaga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. (fit)



