BerandaHEADLINE‘’High Session’’ Usai MotoGP, Okupansi Hotel di Gili Tramena Masih Tinggi

‘’High Session’’ Usai MotoGP, Okupansi Hotel di Gili Tramena Masih Tinggi


Mataram (Suara NTB) – Okupansi hotel di kawasan tiga gili, yaitu Gili Trawangan, Meno, Air (Tramena) Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih cukup tinggi usai berlangsungnya MotoGP Mandalika 2026 pada 9-11 Oktober 2026. Hingga akhir Oktober, okupansi hotel di tiga kawasan itu diperkirakan masih mencapai 80 persen, bahkan ada beberapa akomodasi yang berada di kisaran 90 persen.


“Lebih berdampak after event. Jadi setelah agenda MotoGP itu ada pembalap juga main di gili,” ujar Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan (AHG), Lalu Kusnawan di Kantor Gubernur NTB, Selasa (20/10).


Meski okupansi masih terbilang tinggi setelah 10 hari MotoGP, ia tidak bisa menyimpulkan apakah tingginya tingkat hunian hotel di tiga gili disebabkan oleh agenda motor internasional tersebut. Walau begitu, terlihat beberapa pembalap mengunjungi gili setelah agenda tersebut tuntas.


“Di tiga Gili emang impact MotoGP belum signifikan. Yang lebih berdampak ya after event,” sambungnya.


Menurutnya, peningkatan kunjungan wisatawan domestik sempat terlihat sejak Jumat selama periode penyelenggaraan MotoGP. Sejumlah wisatawan terlihat berkeliling kawasan Gili menggunakan sepeda dan menikmati berbagai aktivitas wisata.


Sebagian pengunjung juga disebut memilih memperpanjang masa tinggal hingga dua malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali menggunakan kapal cepat. Strategi ini diduga menjadi alternatif bagi wisatawan yang menghadapi keterbatasan penerbangan dari Lombok, terutama setelah gelaran MotoGP.


Meski demikian, ia menilai diperlukan pendataan lebih lanjut untuk memastikan seberapa besar kontribusi ajang tersebut terhadap tingkat kunjungan dan perputaran ekonomi di Tiga Gili.


Menyinggung soal okupansi, tingkat hunian akan mengalami penurunan pada awal November hingga pertengahan Desember, seiring pola kunjungan wisatawan mancanegara yang menjadi pasar utama kawasan tersebut berkurang. Di samping itu, target okupansi tetap dipatok sebesar 75 persen hingga akhir tahun.


Pelaku usaha, katanya kini telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga kunjungan wisatawan, mulai dari penyesuaian harga kamar hingga penawaran paket wisata yang dipadukan dengan beragam aktivitas di kawasan Gili Trawangan dan sekitarnya. “Dunia pariwisata ini tidak pernah tidur. Jadi, target kita tetap 75 persen,” katanya.


Ia menjelaskan, pola kunjungan wisatawan di kawasan tersebut cenderung mengikuti musim liburan internasional. Setelah mengalami penurunan pada November hingga pertengahan Desember, kunjungan diperkirakan sedikit meningkat saat Natal dan Tahun Baru, kemudian kembali melemah pada Februari.

Okupansi biasanya kembali meningkat pada Maret, berlanjut pada periode liburan Paskah di April, sebelum memasuki periode yang relatif stabil pada April hingga Juni. Puncak kunjungan umumnya terjadi pada Juli hingga September, bertepatan dengan musim liburan di Eropa.


Aktivitas pariwisata di Tiga Gili juga tercermin dari potensi perputaran uang di kawasan tersebut. Berdasarkan perkiraan yang disampaikan Lalu Kusnawan, perputaran uang saat low session dapat mencapai sekitar Rp1,7 miliar per hari, dengan asumsi sekitar 2.000 wisatawan berkunjung. Sementara pada high session, jumlah wisatawan diperkirakan mencapai 3.500–4.000 orang per hari.


Guna memastikan tingkat kunjungan di kawasan pariwisata prioritas ini, pihaknya mendorong penguatan konektivitas antardestinasi, termasuk kemungkinan pengembangan jalur kapal cepat yang menghubungkan kawasan Gili dengan destinasi lain di Lombok.


Ia menilai, konektivitas laut dapat menjadi alternatif untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan sekaligus memperluas pilihan perjalanan.
Pengembangan jalur baru juga perlu mempertimbangkan kepentingan seluruh pelaku transportasi, termasuk operator kapal cepat dan angkutan darat. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN















VIDEO