Praya (Suara NTB) – Bagi sebagian mahasiswa, menyelesaikan kuliah mungkin tinggal soal waktu. Namun, bagi anak-anak petani dan buruh tani, perjalanan menuju gelar sarjana kerap dibayangi pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keluarga mereka sanggup membiayai pendidikan hingga selesai?
Beban itulah yang kini sedikit terangkat bagi 12 mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BULOG Peduli Pintar, Perum Bulog menyalurkan beasiswa senilai total Rp253.245.000 untuk memastikan mereka dapat melanjutkan pendidikan hingga wisuda.
Beasiswa tersebut diserahkan langsung oleh Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Ade Prastya Nurdin, didampingi Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Dhana Putra Prasetya, serta Pemimpin Wilayah Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, di Poltekpar Lombok, Kamis, 22 Oktober 2026.
Bagi para penerima, bantuan ini bukan sekadar angka yang tercatat dalam dokumen penyaluran beasiswa. Di baliknya, ada harapan orang tua yang selama ini bekerja keras, ada kecemasan tentang biaya kuliah yang harus dipenuhi, serta ada cita-cita yang ingin tetap diperjuangkan meski keadaan ekonomi keluarga tidak selalu mudah.
Salah seorang penerima beasiswa, Idayani, menyambut baik program tersebut. Ia berharap bantuan pendidikan dari Bulog tidak berhenti pada tahun ini, tetapi terus berlanjut sehingga semakin banyak mahasiswa yang memperoleh kesempatan serupa.
“Programnya sangat bagus. Semoga ke depannya beasiswa Bulog ini tetap ada pada tahun-tahun selanjutnya,” kata Idayani.
Harapan sederhana itu menggambarkan arti penting beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Kesempatan untuk belajar dengan lebih tenang bukan hanya membantu mereka bertahan di bangku kuliah, tetapi juga membuka jalan untuk mengubah masa depan keluarga.
Bukan Sekadar Bantuan Uang
Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Dhana Putra Prasetya, mengatakan beasiswa BULOG Peduli Pintar dirancang untuk membantu mahasiswa menuntaskan pendidikan tanpa terus dibayangi persoalan biaya.
Bantuan ini mencakup kebutuhan pendidikan sejak awal perkuliahan, mulai dari biaya pendaftaran, seragam, hingga biaya kuliah sampai wisuda.
“Ini bukan hanya menitipkan sejumlah uang, tetapi juga memberikan harapan. Kami ingin mahasiswa bisa belajar lebih fokus tanpa harus khawatir apakah bulan depan mampu membayar biaya kuliah atau tidak,” ujarnya.
Menurut Dhana, mahasiswa penerima beasiswa tidak hanya dinilai dari prestasi akademik, tetapi juga semangat belajar, etos kerja, kegigihan, serta latar belakang ekonomi keluarga.
Sebagian orang tua penerima beasiswa bekerja sebagai buruh tani. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam program yang menyasar anak-anak dari keluarga yang berkaitan langsung dengan ekosistem pangan.
Bagi keluarga petani dan buruh tani, pendidikan tinggi merupakan investasi besar. Ketika penghasilan keluarga terbatas, biaya pendidikan dapat menjadi beban yang tidak ringan. Karena itu, dukungan yang menjamin keberlanjutan kuliah dinilai penting agar mahasiswa tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi.
Dhana berharap bantuan tersebut menjadi jembatan bagi para mahasiswa untuk meraih cita-cita, memperbaiki taraf hidup keluarga, dan menjadi teladan bagi saudara-saudara mereka.
“Harapannya, bantuan ini menjadi jembatan bagi mereka untuk mewujudkan mimpi. Mereka bisa lebih semangat belajar dan nantinya menjadi contoh bagi adik-adiknya bahwa selama ada niat, akan selalu ada kesempatan,” katanya.
Ia menegaskan, Bulog berharap beasiswa tersebut memberikan manfaat tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan tempat mereka berasal.
Ke depan, Bulog berharap cakupan penerima manfaat maupun kualitas dukungan pendidikan dapat terus ditingkatkan. Para penerima beasiswa juga berpeluang berkarier di Bulog setelah menyelesaikan pendidikan, dengan mengikuti proses rekrutmen sesuai ketentuan perusahaan dan kompetensi yang dibutuhkan.
12 Mahasiswa Terpilih Terima Beasiswa
Sebanyak 12 penerima beasiswa ditetapkan melalui proses seleksi bertahap yang berlangsung sejak Agustus 2026. Dari 40 mahasiswa yang mendaftar, sebanyak 20 kandidat mengikuti tahapan lanjutan hingga akhirnya terpilih 12 mahasiswa.
Seleksi dilakukan untuk memastikan bantuan diberikan kepada mahasiswa yang memenuhi kriteria, baik dari sisi kebutuhan ekonomi maupun potensi akademik dan kesungguhan dalam menempuh pendidikan.
Direktur Poltekpar Lombok, Dr. Ali Muhtasom, mengatakan mekanisme seleksi diterapkan agar beasiswa tepat sasaran dan benar-benar diterima mahasiswa yang membutuhkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan.
Ia berharap bantuan tersebut menjadi pemacu bagi penerima untuk meningkatkan prestasi dan memanfaatkan kesempatan belajar sebaik mungkin.
“Kami berharap penerima beasiswa ini bisa menunjukkan prestasi yang lebih baik. Ke depannya, mereka diharapkan mampu menjadi harapan keluarga, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi kampus, keberhasilan program semacam ini tidak hanya terletak pada tersalurkannya bantuan, tetapi juga pada perubahan yang kelak dihasilkan. Mahasiswa diharapkan menyelesaikan pendidikan dengan kompetensi yang memadai, memperoleh pekerjaan yang layak, dan mampu membantu keluarga keluar dari keterbatasan ekonomi.
Bulog Ingin Hadir hingga ke Masa Depan Anak Petani
Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Ade Prastya Nurdin, mengatakan program BULOG Peduli Pintar merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus memperluas manfaat sosial Bulog bagi masyarakat.
Menurut Ade, peran Bulog tidak terbatas pada menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan nasional. Perusahaan juga ingin berkontribusi dalam membuka akses pendidikan bagi generasi muda, khususnya anak-anak petani yang memiliki potensi untuk berkembang, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi.
“Melalui program BULOG Peduli Pintar, kami ingin memastikan bahwa kontribusi BULOG tidak hanya hadir dalam menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda, khususnya anak-anak petani. Kami berharap bantuan ini dapat menjadi bekal bagi para penerima untuk terus mengembangkan potensi, meraih cita-cita, dan kelak memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta kemajuan bangsa,” ujar Ade.
Program ini sekaligus memperluas makna dukungan terhadap sektor pertanian. Kesejahteraan keluarga yang menopang produksi pangan tidak hanya berkaitan dengan hasil panen dan pendapatan, tetapi juga kesempatan anak-anak mereka memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Bagi Bulog, membantu anak petani melanjutkan pendidikan merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar ekosistem pangan.
Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Dhana Putra Prasetya, menambahkan bahwa dukungan pendidikan diharapkan dapat mendorong mahasiswa menjadi pribadi mandiri, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Dengan pendidikan yang berkelanjutan, anak-anak dari keluarga petani diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Ketahanan Pangan dan Pariwisata Berkelanjutan
Selain penyerahan beasiswa, Bulog menggelar kuliah umum bertema “Ketahanan Pangan sebagai Fondasi Pariwisata Berkelanjutan: From Food Security to Tourism Sustainability—Peran BULOG dalam Mendukung Pariwisata Indonesia yang Tangguh dan Berdaya Saing.”
Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai hubungan antara sektor pangan dan pariwisata, termasuk pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Ketersediaan pangan yang cukup, berkualitas, dan terjangkau menjadi salah satu unsur penting bagi keberlanjutan industri pariwisata. Karena itu, mahasiswa Poltekpar diharapkan memahami bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya bertumpu pada destinasi dan pelayanan, tetapi juga pada sistem pangan yang kuat.
Melalui BULOG Peduli Pintar, Bulog ingin memastikan bahwa anak-anak dari keluarga yang ikut menopang ketahanan pangan nasional juga memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan.
Bagi 12 mahasiswa penerima beasiswa, bantuan senilai Rp253,245 juta itu bukan semata-mata pembiayaan pendidikan. Di dalamnya terdapat kepercayaan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi akhir dari sebuah cita-cita.
Ada orang tua yang selama ini bekerja di sawah dan ladang, ada anak-anak yang berjuang menyelesaikan kuliah, serta ada harapan agar pendidikan menjadi jalan bagi kehidupan yang lebih baik.
Kini, dengan beasiswa tersebut, jalan menuju wisuda terasa lebih terbuka. Tugas berikutnya berada di tangan para mahasiswa: menjaga kepercayaan itu dengan belajar sungguh-sungguh, menyelesaikan pendidikan, dan kelak menghadirkan perubahan bagi keluarga yang telah berjuang mengantarkan mereka sampai ke bangku kuliah. (bul)



