Mataram (Suara NTB) – Sejumlah warga di Kelurahan Tanjung Karang Permai mengeluhkan penutupan bekas galian pemasangan jaringan pipa Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan saat sosialisasi. Bekas galian di sejumlah gang dan jalan lingkungan ditutup menggunakan paving block, bukan aspal seperti kondisi jalan semula.
Salah seorang warga, H. Rasyid, mengatakan bahwa dalam sosialisasi telah disepakati bekas galian akan dikembalikan seperti semula dengan menggunakan aspal setelah pemasangan jaringan pipa selesai. Namun, dalam pelaksanaannya, bekas galian justru ditutup menggunakan paving block.
“Waktu rapat awal itu, begitu selesai penggalian langsung diaspal. Ternyata pakai paving block,” ujarnya saat ditemui pada Kamis (22/10).
Rasyid mempertanyakan apakah penutupan menggunakan paving block tersebut hanya bersifat sementara atau akan menjadi kondisi akhir jalan setelah pengerjaan proyek selesai.
Menurutnya, pengerjaan penggalian jaringan pipa SPALD-T di wilayahnya telah berlangsung sejak awal September 2026. Namun, warga belum mengetahui secara pasti bentuk akhir perbaikan jalan setelah proyek selesai karena saat sosialisasi disampaikan bahwa jalan akan kembali diaspal.
“Kalau di sini dikerjakan sudah dari awal September itu. Kita tidak tahu seperti apa model proyek ini karena waktu sosialisasi dibilang pakai aspal,” jelasnya.
Ia menjelaskan, proses pengerjaan dilakukan dengan mengeruk badan jalan, kemudian memasang dua pipa sebagai jaringan saluran. Setelah itu, galian ditimbun menggunakan tanah dan sebagian pasir, sebelum permukaannya ditutup dengan paving block. Kondisi tersebut membuat permukaan jalan terlihat bergelombang.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, penutupan bekas galian menggunakan paving block tersebut hanya bersifat sementara. Jalan direncanakan akan dikembalikan seperti semula dengan menggunakan aspal dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
“Katanya, rencana mereka tiga tahun ke depannya akan dikembalikan seperti semula menggunakan aspal. Tapi nanti kita lihat seperti apa perkembangannya,” ucapnya.
Rasyid menilai pengerjaan jaringan pipa SPALD-T masih membutuhkan waktu cukup lama. Menurutnya, proyek tersebut kemungkinan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari pembangunan jaringan utama sebelum dilanjutkan dengan pemasangan saluran yang terhubung ke rumah-rumah warga.
“Kalau saya lihat itu, masih lama,” katanya.
Terkait dampak pengerjaan terhadap infrastruktur rumah warga, Rasyid mengatakan sejauh ini belum ada dampak yang dirasakan. Sebab, pengerjaan masih berfokus pada penggalian di badan jalan dan gang lingkungan.
Keluhan serupa disampaikan Kafrawi, Ketua RT 07 Lingkungan Ashan. Ia mengatakan, pengerjaan penggalian di wilayahnya telah berlangsung sekitar tiga pekan. Sejumlah ruas jalan lingkungan yang telah selesai digali untuk pemasangan jaringan pipa kini ditutup menggunakan paving block.
“Kita tidak tahu seperti apa proyek ini. Memang sudah disosialisasikan sebelumnya, tapi kita dikasih tahu ketika ada proyek akan terjadi apa?” ujarnya.
Kafrawi menyebutkan, masih terdapat beberapa titik galian yang belum ditutup, yang diduga karena proses pengerjaan belum selesai. Meski demikian, ia menyayangkan penutupan bekas galian yang tidak menggunakan aspal seperti kondisi jalan sebelumnya.
Menurutnya, kehadiran proyek tersebut menimbulkan persoalan bagi warga karena mereka belum memperoleh kejelasan mengenai hasil akhir pengerjaan, khususnya terkait pemulihan kondisi jalan lingkungan.
Sementara itu, salah seorang koordinator pekerja proyek penggalian SPALD-T, Lili, mengatakan bahwa pengerjaan proyek tersebut direncanakan berlangsung selama 1.260 hari atau lebih dari tiga tahun.
“Ini kita fokus pengerjaan jaringan dulu, baru nanti mulai masuk ke saluran rumah,” jelasnya.
Ia menyebutkan, total panjang jaringan pipa yang ditargetkan dibangun di wilayah Kelurahan Tanjung Karang Permai diperkirakan mencapai 7.500 meter atau sekitar 7,5 kilometer. Pengerjaan jaringan tersebut ditargetkan rampung pada 2029. (pan)



