Giri Menang (Suara NTB) – Budi daya lebah madu trigona terintegrasi dengan Kebun Pangan (hortikultura dan sayur mayur) dikembangkan Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat (Lobar). Ribuan koloni lebah dibudidaya pada kotak sarang atau stube di areal pekarangan dapur SPPG tersebut.
Langkah SPPG ini merupakan strategi integrasi ekologis untuk mendukung keberlanjutan program MBG. Dengan mengombinasikan sektor apikultur (lebah) dan hortikultura (sayur), SPPG tidak hanya mengamankan pasokan pangan lokal tetapi juga menciptakan sistem pertanian sirkular yang mandiri.
Pantuan media, stube madu trigona itu disusun bertingkat dengan atap menggunakan alang-alang. Jarak tempat stube yang satu dengan lain diatur sedemikian rupa. Dimana di masing-masing titik berisi tiga stube. Tampak sarang lebah trigona sudah berisi madu, dengan warna khasnya. Di areal pekarangan itu juga ditanami aneka sayur mayur dan hortikultura. Seperti tomat, cabe rawit, cabe besar dan lainnya.
Di areal itu juga dikembangkan budidaya melon dengan sistem hidroponik. Di hidroponik ini ditaruh stube madu trigona untuk mempercepat proses penyerbukan melon. Melon itu tampak sudah berbuah.
Pengelola SPPG, H. Lalu Muhammad Ismail ditemui di Dusun Taman, Desa Taman Ayu menuturkan bahwa budi daya madu trigona ini telah dimulai tiga bulan lalu. Ia membeli bibit lebah trigona unggul untuk dibudidaya.
Proses budi daya lebah yang dibeli dibanding dengan diambil dari alam cukup cepat. Buktinya, budi daya madu trigona yang dikembangkan lebih cepat menghasilkan madu dari lebah pada umumnya. Karena dalam waktu dua hingga tiga minggu lebah ini sudah memperlihatkan bintik-bintik (berisi madu) pada sarangnya.
“Dan tidak lama prosesnya, dia cepat berkembang biaknya,” kata mantan anggota DPRD Lobar itu.
Muhamad menyampaikan, lebah madu itu pun sudah dilakukan panen perdana dengan masa budi daya dua minggu. Tetapi itu masih uji coba untuk mengetahui isi madu dalam sarang lebar trigona tersebut.
Pihaknya sedang memperbanyak lebah madu trigona ini untuk dibudidayakan dengan cara memecah koloni lebah itu agar bisa lebih banyak lagi. Dari yang dibeli 21 stube (kotak) dengan jumlah sekitar ribuan koloni. Saat ini stube yang dikembangkan sebanyak 21 stube di areal pekarangan.
Budi daya lebah ini ditunjang oleh daerah itu memiliki banyak tamanan, bunga, dan buah sebagai sumber makanannya. Sehingga ia mengembangkan madu trigona karena memang kondisi alam yang mendukung. Kedepan ia berencana menjadikan madu trigona sebagai brand lokal di Desa Taman Ayu.
Ia juga mencoba mengintegrasikan dengan sayur mayur dan hortikultura untuk memenuhi kekurangan kebutuhan sayur mayur. “Kami juga kembangkan melon sistem hidroponik, saya kawinkan dengan madu trigona juga, supaya cepat berkembang dan buahn manis,” ujarnya. Melon ini diharapkan bisa memiliki rasa yang manis khas seperti halnya madu. (her)



