Dompu (Suara NTB) – Kabupaten Dompu mendapat alokasi program peremajaan tanaman jambu mete seluas 754 hektare pada 2026. Program dari Kementerian Pertanian ini diharapkan mampu membangkitkan kembali kejayaan Dompu sebagai salah satu daerah penghasil mete, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Assyadat, SP., kepada Suara NTB, Senin (26/10), mengungkapkan, program tersebut dialokasikan untuk kelompok tani di wilayah Kecamatan Kempo dan Pekat. Program ini dilaksanakan melalui Kementerian Pertanian dengan melibatkan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya. “Kita dapat 754 hektare untuk peremajaan mete yang dialokasikan bagi kelompok tani di wilayah Kempo dan Pekat,” ungkapnya.
Menurut Assyadat, kelompok tani calon penerima manfaat akan mendapatkan bantuan benih, pupuk, serta pendampingan dalam pelaksanaan program. Saat ini, kelompok calon penerima masih melengkapi persyaratan administrasi yang dibutuhkan.
Bantuan tersebut mendapat sambutan antusias dari petani. Pasalnya, peremajaan tanaman mete dinilai menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kembali potensi perkebunan yang selama ini belum dikembangkan secara optimal.
Dikatakan, mete pernah menjadi salah satu komoditas perkebunan yang berkembang baik di Dompu, khususnya di kawasan transmigrasi. Namun, seiring bertambahnya usia tanaman dan munculnya serangan penyakit, produktivitas mete menurun. Upaya peremajaan yang masih terbatas turut membuat sebagian petani beralih ke tanaman musiman, terutama jagung. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk kembali mendorong pengembangan mete sebagai komoditas perkebunan yang dapat memberikan pendapatan jangka panjang bagi petani.
Assyadat mengatakan, program peremajaan ini, petani juga akan didorong menerapkan pola tanam tumpang sari di antara tanaman mete. Dengan pola tersebut, lahan perkebunan tetap bisa dimanfaatkan untuk menanam komoditas lain selama tanaman mete belum menghasilkan.
Integrasi dengan sektor peternakan juga menjadi salah satu peluang pengembangan usaha tani yang dapat diterapkan sesuai kondisi lahan dan kemampuan petani. “Apalagi para petani didampingi petugas, bisa menerapkan pola tanam tumpang sari di antara tanaman metenya, termasuk untuk peternakan,” jelasnya.
Ia berharap, program peremajaan seluas 754 hektare ini tidak hanya memperbaiki kondisi tanaman mete yang sudah tua, tetapi juga membuka peluang diversifikasi sumber pendapatan masyarakat,sehingga petani tidak terus bergantung pada komoditas musiman seperti padi dan jagung. Tanaman mete diharapkan menjadi sumber pendapatan tambahan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat sektor perkebunan Dompu.
“Harapannya, program ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Petani tidak hanya bergantung pada hasil tanaman musiman seperti padi dan jagung, tetapi juga mendapat tambahan pendapatan dari tanaman tahunan. Ini yang terus kita siapkan,” pungkasnya. (ula)



