Tanjung (Suara NTB) – Produk Virgin Coconut Oil (VCO) asal Kabupaten Lombok Utara menarik perhatian pasar internasional. UMKM UD Al-Amin yang mengembangkan minyak kelapa murni ini telah menjajaki peluang ekspor ke Australia hingga sejumlah negara lainnya.
VCO KLU ini juga turut menarik perhatian Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, saat berkunjung ke Lombok Utara, Rabu, 4 November 2026.
Pemilik UD Al Amin, Zulhadi, mengatakan usaha VCO mulai dirintis pada 2015. Ia kemudian membentuk badan usaha berbentuk UD pada 2020 dan mengembangkan koperasi pada 2022.
“Alhamdulillah, kemarin kita sudah ikut Trade Expo Indonesia. Kita juga mulai masuk ke pasar mancanegara melalui penjualan ritel dan pengiriman produk dalam jumlah terbatas,” kata Zulhadi.
Saat ini, UD Al Amin memiliki kemampuan produksi maksimal 10-20 ton per hari. Namun, kebutuhan pasar yang rutin disuplai masih berkisar tiga ton per bulan.
Untuk menjaga pasokan bahan baku, Zulhadi menerapkan pola inti-plasma dengan melibatkan sekitar 159 anggota UMKM binaan di Desa Pemenang Timur. Jaringan pembinaan juga menjangkau pelaku usaha di Lombok Timur dan Lombok Tengah.
Pasar lokal turut berkembang. Produk VCO UD Al Amin telah memasok kebutuhan sejumlah mitra bisnis di Mataram, termasuk perusahaan yang bergerak di bidang sabun dan kosmetik, seperti Event Insani dan Organik Lombok.
Tidak hanya menghasilkan minyak kelapa murni, usaha ini juga mengembangkan produk turunan berupa minyak goreng, keripik kelapa, arang, produk kelapa rendah lemak, hingga blondo.
Zulhadi menyebut pendekatan ini adalah upaya mencapai konsep zero waste, sehingga hampir seluruh bagian hasil pengolahan kelapa memiliki nilai ekonomi.
Peluang ekspor juga mulai terbuka. Selain menjajaki pasar Australia, UD Al Amin pernah melakukan penjajakan bisnis dengan calon pembeli dari Dubai. Bahkan, produknya pernah dibawa ke Mesir oleh calon mitra.
Namun, ekspansi ke pasar internasional masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan fasilitas produksi, terutama lahan untuk bongkar muat bahan baku dan penempatan kontainer.
“Kendala kita saat ini sebenarnya tempat produksi. Ketika buyer datang, mereka menanyakan fasilitas loading bahan baku dan loading produk, termasuk tempat kontainer,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat pengiriman masih mengandalkan skema LCL atau pengiriman barang dalam jumlah yang tidak memenuhi satu kontainer penuh.
Zulhadi berharap pemerintah tetap membantu pendampingan ekspor, khususnya dalam pengurusan dokumen Certificate of Origin (COO) langsung dari NTB serta pemenuhan persyaratan pasar Australia.
Menurutnya, Australia memiliki peluang pasar yang menjanjikan, tetapi pelaku UMKM membutuhkan pendampingan untuk memenuhi ketentuan biosecurity dan prosedur impor.
Ia menilai pengembangan industri VCO tidak hanya membuka akses pasar internasional, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani kelapa dan menciptakan lapangan kerja di kawasan Pemenang.
Bahkan, pengolahan kelapa menjadi berbagai produk turunan dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas hingga 500 persen dibandingkan penjualan kelapa dalam bentuk gelondongan.(bul)



