Mataram (Suara NTB) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) NTB berencana menyelenggarakan semibar pemanfaatan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sekaligus memperingati Hari Anak Nasional (HAN) pada, Rabu (23/7/2025). Seminar tersebut dilakukan untuk mencegah stunting dan penanganan tumbuh kembang anak di NTB.
Demikian disampaikan Penasihat IDAI NTB, dr. Nurhandini Ekadewi usai menemui Wakil Gubernur NTB di kantornya, Selasa, (22/7/2025). Nurhandini mengatakan, buku KIA sebenarnya sudah ada, hanya saja pemanfaatannya belum optimal.
“Padahal kita tahu pencegahan stunting, pencegahan keterlambatan penanganan tumbuh kembang itu berawal dari pemanfaat buku itu yang optimal. Makanya kita besok seminar kita mengundang semua masyarakat awam dan kita juga online. Jadi siapapun bisa ikut,” ujarnya.
Seminar tersebut nantinya akan dilaksanakan secara luring di Gedung Graha Bhakti, Pemprov NTB. Sementara pesertanya akan melibatkan masyarakat awam yang ingin tahu terkait pemanfaatan buku KIA tersebut. Kemudian dari pihak IDAI NTB sebagai narasumbernya.
Nurhandini menjelaskan, ketika berbicara perihal kesehatan anak, tidak bisa hanya membahasnya secara kuratif, tapi kearah preventif.
Ia menyoroti kasus kematian bayi di NTB, terutama bayi-bayi yang baru lahir. Menurutnya, 70 persen sampai 75 persen kematian pada bayi di NTB itu terjadi pada anak usia 0-28 hari. “Itu salah satu yang menjadi konsern kita bagaimana ibu hamil itu juga dia sehat, melahirkan anak-anak yang sehat sehingga angka kematian bayi rendah,” terangnya.
Kemudian, jika ibu tersebut melahirkan anak yang tidak sehat seperti Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) itu di bawah 2.500 gram atau 2,5 kilogram berpotensi menjadi stunting jika tidak ditangani dengan benar. “Hanya 30 persen yang bisa mengejar ketertinggalan,” tambahnya.
Nurhadini menyebut, faktor utama BBLR pada bayi adalah ibunya kurang gizi, dan kekurangan gizi akan kembali ke masalah utama yakni kemiskinan. (sib)


