Mataram (Suara NTB) – Ketua BEM Unram, Lalu Nazir Huda, menanggapi dinamika pascaMunas BEM Seluruh Indonesia atau BEM SI Kerakyatan. Hal ini menjadi sorotan setelah sejumlah kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Undip meninggalkan aliansi mereka.
BEM UGM dan Undip memilih menarik diri dari BEM SI Kerakyatan usai Munas. Alasan mereka, forum tersebut tidak lagi menjadi ruang strategis perjuangan mahasiswa secara murni. Hal ini karena pelibatan sejumlah aktor politik dan aparat negara, seperti pejabat daerah, perwakilan kepolisian, hingga Badan Intelijen Negara (BIN). Selain itu, kericuhan akibat perebutan kursi kepengurusan BEM SI Kerakyatan juga menjadi faktor, di mana salah seorang peserta mengalami luka.
Menanggapi itu, Nazir yang mengikuti kegiatan tersebut, menjelaskan dalam sesi pembukaan Munas, panitia menghadirkan sejumlah pejabat nasional dan daerah. Ia mengakui bahwa peserta telah mendapatkan informasi kehadiran para pejabat tersebut.
“Kami informasikan di rundown acara (bahwa ada beberapa pejabat pemerintah yang akan datang). Memang di awal pembukaan melibatkan beberapa pejabat. Dari Polda, Menteri Pemuda dan Olahraga, dan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda). Tapi itu hanya di sesi pembukaan saja. Selebihnya, forum sepenuhnya oleh mahasiswa. Yakni, delegasi dari masing-masing kampus dan lembaga kemahasiswaan,” jelasnya kepada Suara NTB, Rabu, 23 Juli 2025.
Terkait keributan dan peserta terluka akibat perebutan kursi kepengurusan di BEM SI Kerakyatan, Nazir membenarkan bahwa memang sempat terjadi insiden. Namun, ia menegaskan, peserta yang luka bukan sepenuhnya akibat keributan yang terjadi dalam forum.
“Jadi pascakeributan, teman-teman lari menyelamatkan diri dan mengamankan sesama. Salah satu dari mereka jatuh dan kena senggol, akhirnya sampai patah tulang. Tapi itu bukan karena bentrokan langsung saat forum,” tambahnya.
Hormati Keputusan Tinggalkan BEM SI Kerakyatan
Terkait sikap BEM UGM dan Undip yang menyebut kepentingan elite dan manuver internal dalam forum, Nazir menyampaikan rasa hormat atas keputusan kedua kampus tersebut.
“Saya menghargai statement dari BEM UGM yang menarik diri dari BEM SI pasca-Munas. Karena memang sudah seharusnya aliansi atau gerakan mahasiswa sekarang bersih dari kepentingan elite,” ujarnya.
Kendati demikian, BEM Unram sendiri memilih untuk tetap berada dalam aliansi BEM SI Kerakyatan. Alasan agar tetap dapat melakukan pengawasan bersama terhadap arah gerakan mahasiswa ke depan.
“Kita (BEM Unram) tetap akan berada dalam aliansi untuk sama-sama mengawasi, agar tidak menjadi alat politik dan manuver internal. Karena kalau tidak ada aliansi yang menyatukan, saya khawatir kita akan kesulitan memperkuat gerakan isu baik di skala daerah maupun nasional,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan aliansi sangat perlu agar mahasiswa tetap memiliki daya tawar sebagai oposisi dan pengawas kebijakan.
“Kita harus menyatukan kekuatan BEM SI Kerakyatan untuk bagaimana menjadi oposisi dan agen perubahan,” pungkasnya. (hir)



