Mataram (Suara NTB) – Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, meniadakan kegiatan atau festival selama penyelenggaraan MotoGP 2025. Hal ini berkaitan dengan efisiensi anggaran serta surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri tentang meniadakan kegiatan seremonial.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Dr. Cahya Samudra menerangkan, pelaksanaan MotoGP sebelumnya digelar Festival Mandalika sebagai bentuk dukungan Pemerintah Kota Mataram, untuk memeriahkan balap motor kelas dunia tersebut. Berbeda dengan penyelenggaraan MotoGP tahun ini, festival atau kegiatan ditiadakan karena alasan efisiensi. “Termasuk juga surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri,” terangnya dikonfirmasi pada, Selasa, 9 September 2025
Pihaknya hanya bisa menyelenggarakan kegiatan skala kecil di destinasi wisata di Kota Mataram. Diantaranya, parade peresean di Pelabuhan Ampenan dan lain sebagainya.
Mantan Camat Sekarbela memahami festival yang digelar di Kota Mataram, cukup menarik perhatian pengunjung atau penonton yang menginap di Kota Mataram.
Pihaknya berusaha menyelaraskan kalender event dengan pertandingan balap motor kelas dunia tersebut. “Kita masih ada kalender event seperti Sunrise to Sunset dan Festival Film. Nanti kita sesuaikan dengan kegiatan MotoGP,” ujarnya.
Kegiatan yang akan digelar disesuaikan dengan surat edaran Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, sehingga tidak melanggar aturan dari pemerintah pusat.
Pesanan Kamar Hotel Rendah
Sementara itu, Ketua Asosiasi Hotel Mataram, I Made Adiyasa Kurniawan mengatakan, secara umum pesanan kamar hotel saat penyelenggaraan MotoGP di bawah 30 persen. Meskipun, hotel bintang empat dan lima telah mendapatkan mendapatkan pesanan mencapai 50 persen. Sementara, jumlah ketersediaan kamar hotel mencapai 7.000 unit. “Booking kamar mencapai 50 persen hotel besar seperti Prima Park, Santika, dan Aston. Kalau secara umum masih rendah,” katanya.
Rendahnya pesanan kamar dipengaruhi kebiasaan masyarakat yang memesan kamar mendekati penyelenggaraan MotoGP. Saat itu kata dia, pemerintah memberikan arahan khusus bagi pejabat negara maupun pejabat badan usaha milik negara, untuk datang menyaksikan balap motor kelas dunia tersebut. “Kebiasaan orang Indonesia pesan kamar itu last minute. Itu pun hanya 50 persen bookingan. Apalagi pembelian tiket relatif lebih mudah,” katanya.
Penyelenggaraan MotoGP pertama di tahun 2023, cukup memberikan dampak signifikan bagi pengusaha hotel. Saat itu, masyarakat dari seluruh Indonesia, penasaran ingin menyaksikan balap motor besar tersebut.
Kondisi saat ini kata dia, sangat jauh berbeda. Penonton yang datang menyaksikan benar-benar hobi dengan MotoGP. “Kalau tahun ini hanya orang-orang yang hobi saja,” ujarnya.
Pemerintah diharapkan mempromosikan penyelenggaraan MotoGP lebih panjang, sehingga mengurangi antusiasme masyarakat untuk datang menyaksikan.
Bagaimana dengan harga kamar hotel. Kecendrungan mengalami peningkatan drastis? Ia memastikan hotel tidak akan menaikan harga kamar saat MotoGP. Pihaknya masih mengacu peraturan gubernur NTB tentang batas atas dan batas bawah harga kamar hotel. “Mataram juga berada di zona dua,” demikian kata dia. (cem)



