Sumbawa Besar (suarantb.com) – Pemkab Sumbawa memastikan sudah mengambil sampel makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dilakukan uji laboratorium. Makanan MBG itu diduga menyebabkan 130 orang siswa di Kecamatan Empang mengalami keracunan dengan gejala mual, muntah, dan diare.
“Hasil identifikasi sementara terhadap makanan MBG tersebut terindikasi ada bakteri Escherichia Coli (E. Coli) yang menyebabkan (siswa) diduga keracunan itu,” kata Kepala Bappeda Litbang Sumbawa, Dr. Deddy Heriwibowo didampingi Plt. Kadikes Hj. Nur Atika, kepada wartawan, Kamis (18/9).
Deddy melanjutkan, bakteri E. Coli tersebut bisa terjadi akibat terkontaminasi melalui air dan bahan makanan lainnya. Tentu hal ini menjadi atensi pihaknya, karena penyediaan makanan ini dalam skala yang cukup besar sehingga faktor kebersihan harus menjadi perhatian.
“Jadi, penekanan kami saat bertemu dengan kordinator SPPG dan kepala dapur kebersihan di dapur dan pengolahan makanan itu yang menjadi hal terpenting,” ucapnya.
Ia mengatakan, total SPPG yang ada di Sumbawa sebanyak 10 SPPG, sementara yang baru beroperasi baru sembilan SPPG. Terhadap dapur SPPG yang sudah beroperasi, pihaknya akan melakukan evaluasi penerapan SOP di pelaksanaan program tersebut agar tidak terjadi masalah yang sama.
“Memang ada perubahan SOP, misalnya ada tiga kali sif masak, ada yang jam dua, empat, dan enam. Jam-jam tersebut yang belum bisa diterapkan sepenuhnya karena terkendala penyediaan bahan baku,” ujarnya.
Ia menambahkan, sementara untuk SOP yang diterapkan saat ini baru dua sif yang mengakibatkan keterlambatan pengantaran makanan MBG dari dapur ke siswa penerima. Keterlambatan ini yang menjadi titik krusial karena jika proses pengantaran makanan ini lebih dari empat hingga enam jam maka akan berpotensi basi.
Evaluasi dan Pengawasan Ketat
“Kami tekankan agar semua SPPG ini membuat jadwal yang lebih rinci dan detail terkait pengantaran ke sekolah dan batasan waktunya. Kami juga meminta dalam pendistribusian harus sesuai dengan jam sekolah,” ucapnya.
Ia pun meyakinkan, evaluasi serta pengawasan ketat yang dilakukan pemerintah untuk memastikan program tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Dengan begitu, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang terjadi adanya dugaan keracunan makanan ratusan siswa usai menyantap makanan MBG.
“Kami mengumpulkan seluruh koordinator SPPG dan kepala dapur agar pelaksanaan program MBG tersebut bisa berjalan lancar dan baik. Ke depan kami juga akan lebih mengkoordinasikan masalah bahan baku,” tukasnya. (ils)


