spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEPMI Lotim Diduga Ditembak Suku Pedalaman Malaysia, ADBMI Sebut Murni Kasus Pembunuhan

PMI Lotim Diduga Ditembak Suku Pedalaman Malaysia, ADBMI Sebut Murni Kasus Pembunuhan

Mataram (Suara NTB) – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI), Gafur, asal Desa Waringin, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur (Lotim), meninggal tertembak di Malaysia. Gafur yang bekerja di negeri jiran melalui jalur non procedural atau tak resmi itu diduga ditembak oleh suku pedalaman Malaysia.

Berdasarkan penuturan keluarga korban serta teman sesama PMI yang disampaikan oleh Humas Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI), Firman Siddik, korban ditembak oleh Suku Ngu Miri, suku pedalaman yang ada di Malaysia Timur.

Keluarga korban Gafur saat ditemui ADBMI, Kamis, 1 Agustus 2024. (Suara NTB/ist)

Firman menjelaskan bahwa penembakan ini terjadi setelah korban mengejar pelaku yang mencuri barang-barangnya. Korban mengejar pelaku sambil membawa parang, namun pelaku tidak berhasil dikejar. Naasnya, saat kembali ke kongsi atau tempat korban menaruh barang. Korban dihujani dengan peluru diduga berasal dari senjata air soft gun yang menyebabkan Gafur tewas seketika.

Menurut ADBMI, kejadian yang menewaskan Gafur ini merupakan murni kasus pembunuhan, sehingga pihaknya sangat mengatensi kasus ini. Sebagai Advokasi Pekerja Migran, Firman memastikan akan terus mengawal kasus ini dan memberikan informasi valid, khususnya kepada keluarga korban.

Selain itu, pihaknya juga akan bersurat ke BP3MI dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk membantu membiayai pemulangan jenazah karena pihak yang merekrutnya tidak bisa membiayai penuh.

“Tadi kami sudah telepon toke, mereka tidak bisa membiayai full. Kita upayakan untuk advokasi ke pemerintah daerah terutama untuk membiayai kepulangan. Jangan sampai membebani masyarakat, karena ini kan rata-rata saya lihat keluarga yang bersangkutan menengah ke bawah,” jelasnya saat dihubungi Suara NTB, Kamis, 1 Agustus 2025.

Untuk membantu keluarga korban, ADBMI akan memfasilitasi dan memberikan akses ke Dinas Sosial supaya pemerintah turun langsung membantu dan membersamai pihak keluarga. “Karena istrinya masih muda, jadi kita usahakan nanti istrinya ini ikut pelatihan supaya ada pemberdayaan juga,” lanjutnya.

Sementara, rekan korban sesama PMI mengatakan korban dimakamkan saja di Malaysia. Permintaan ini akibat korban merupakan PMI non procedural (ilegal), sehingga jika dipulangkan takutnya akan berdampak pula pada nasib PMI illegal yang masih ada disana.

“Teman-teman yang di sana minta korban dimakamkan di sana, tapi pihak keluarga minta dipulangkan. Karena rata-rata yang di sana gelap (ilegal, red) semua,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans provinsi NTB, Ikhwan Abbas mengatakan pihaknya masih menunggu informasi resmi mengenai kronologi yang menyebabkan korban Gafur meninggal dunia. Sampai saat ini, Kedutaan Besar RI yang ada di Malaysia masih menyelidiki kasus tersebut.

“Kedutaan sudah turun tangan, nanti kami minta informasi dari Kedutaan. Kami menerima berita ini dua hari lalu, bukan laporan. Kadisnakertrans kabupaten sudah berkoordinasi dengan BP3MI, tinggal kita tunggu saja,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi apakah keluarga korban akan mendapatkan bantuan hukum, Ikhwan mengatakan perlu mengetahui kronologi valid terlebih dahulu. Kalaupun benar kasus ini merupakan pembunuhan, pasti Pemerintah Malaysia akan mengusut kasus tersebut.

“Kedutaan juga pasti akan nuntut itu, meminta pada Pemerintah Malaysia untuk memproses penembakan tersebut,” lanjutnya.

Ikhwan mengatakan meskipun korban merupakan PMI non procedural, kasus ini akan tetap diusut. Juga dengan pemulangan jenazah korban, karena korban merupakan WNI.

“Walaupun dia non procedural, karena dia WNI, pemerintah yang akan bertindak. Dalam hal ini melalui Kedutaan Besar RI (di Malaysia). Yang jelas pasti dipulangkan” tutupnya. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO